Sabtu, Juli 20, 2024

Peringati Haul Abati Banda...

LHOKSEUMAWE - Ratusan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh menggelar pawai akbar dalam...

Pj. Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis...

Sekum PB PON Wilayah...

BANDA ACEH – Progres pembangunan beberapa venue untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI...

PT PIM Bantu Korban...

ACEH UTARA - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyerahkan bantuan kepada korban badai...
BerandaNewsAyo, "Hancurkan" Anak-anak...

Ayo, “Hancurkan” Anak-anak Kita

BEBERAPA minggu ini berita pelecehan, pemerkosaan dan kekerasan terhadap anak amat mengemuka. Korban dan pelaku beragam. Ada dugaan yang kemudian muncul ke publik seperti puncak gunung es. Kemungkinan yang tidak terekpose jauh lebih besar. 

Gejala ini makin memprihatinkan. Banyak pihak cemas. Banyak orang tua khawatir. Di media banyak pihak berbicara. Analisa beragam. Namun selesaikah semua masalah itu? Apakah ini jalan keluar dari kasus itu. Apakah cukup segala kecaman dan caci maki itu. Apakah akan menghentikan kejadian itu?

Itu semua hanya reaksi sesaat. Hanya menjadi lips service dan sekadar menghibur. Negara seharusnya sadar. Semua rentetan kejadian itu adalah manifestasi kegagalan negara melindungi generasi baru. Negara gagal hadir saat begini. Para orang-orang yang terlibat dalam institusi negara gagal paham. 

Seharusnya mereka mendiagnosa. Mencari formulasi obat. Mencari cara agar kasus seperti ini tidak berlanjut. Semua mengakui bahwa timbulnya kekerasan terhadap anak tidak lepas dari peran teknologi. Terutama televisi dan internet. 

Namun apa pemerintah berpikir menciptakan regulasi untuk menghentikan ini? Keterbukaan informasi publik tidak harus mengorbankan masa depan bangsa. Indonesia adalah negera paling liberal dalam soal penggunaan internet dan televisi. Kedua teknologi itu hanya mengacu pada kepentingan bisnis. 

Nonsense berpikir atas efek negatif. Lihatlah tontonan di telivisi kita atau akses internet tanpa batas. Yang kemudian mendorong perilaku sebagian orang untuk bertindak negatif. Bahkan tontonan anak kita yang merusak mereka perlahan tapi pasti. Semua ini hanya bisa dihentikan oleh negera. Semua bisa disaring oleh regulasi. 

Selanjutnya aparatur negara yang harus bergerak. Begitu banyak aturan yang bisa dijadikan justifikasi. Tapi kita abai. Negara alpa untuk hadir. Seharusnya penyelenggara negara juga sadar bahwa mereka juga punya anak. Mereka juga tidak mau bocahnya diperkosa. Mereka juga pasti tidak mau kalau anak-anaknya dibully kawan sebayanya. 

Semua pihak sepakat bahwa untuk menciptakan keteladanan. Sepakat anak-anak kita tumbuh normal. Tapi amat sedikit mau berempati. Orang tua bahkan bangga memberi berbagai fasilitas yang cenderung malah negatif. Artinya kita semua sedang menggerakkan “ayo bersama hancurkan generasi kita”. 

Secara sadar atau tidak, kita memang sedang mendorong lahirnya generasi baru yang penuh dekadensi moral. Mendorong lahirnya generasi baru yang tanpa keteladanan. Anak kita lebih leluasa menghabiskan waktu bersama televisi dan internet. 

Adakah kesadaran kolektif bahwa apa yang terjadi hari ini bisa menimpa siapapun. Tak guna kita tangisi setelah bocah kita diperkosa tetangga. Tak guna kita keluarkan air mata darah setelah putra kita menjadi pecandu narkoba. Tak guna kita sesali setelah putra putri kita menjadi korban bulying. 

Dengan perilaku kita saat ini, dengan cara penyelenggara negara yang hanya bertindak sporadis, maka tunggu saatnya musibah ini menghampiri keluarga kita. Saat ini yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama. Mencari formulasi menyelamatkan anak-anak kita. 

Negara harus mengambil langkah nyata. Membatasi hal-hal yang lebih banyak mudharatnya. 

Bercerminlah pada negeri lain. Bagaimana mereka menegakkan hukum untuk melindungi generasinya. Ingat semua kita ingin melihat kebaikan. Maka bersegeralah menemukan cara. Menghentikan segala kebejatan atas anak-anak kita oleh siapapun. Atau memang kita sedang membangun generasi baru? Generasi yang akan tumbuh seperti binatang hutan. Siapa kuat dia dapat. Wallahu alam.[]

Baca juga: