LHOKSEUMAWE – Sosiolog Unimal Dr. Nirzalin, M.Si., mengungkapkan sejumlah poin penting untuk mengelola Pemko Lhokseumawe dengan baik dan bersih, sehingga diharapkan dapat keluar dari kemelut utang kepada pihak ketiga.  

 “Sebenarnya ini persoalannya adalah, pertama, dari pemimpinnya. Kita harus memiliki pemimpin yang mempunyai mentalitas, bukan mentalitas pedagang. Kalau mentalitas pedagang, itu pastinya secara pandang dunianya adalah bagaimana selalu berpikir untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri,” ujar Nirzalin dihubungi portalsatu.com, Sabtu, 13 Mei 2017, malam.

Nirzalin menjelaskan, berpolitik menghabiskan uang pada awal proses kampanye dimaknai sebagai sesuatu yang wajar, sama dengan orang berdagang memberi modal. Lalu ketika meraih jabatan, kata dia, kemudian tidak hanya mengembalikan modal, tetapi juga mengambil untung. “Ini mentalitas pedagang,” kata Doktor Sosiologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

“Nah, pemimpin mentalitasnya bukan seperti itu. Pemimpin yang baik bukan yang memiliki mentalitas pedagang, tapi mentalitas negarawan. Artinya, bagaimana ia selalu bertindak dalam kerangka berpikir tidak mencari untung untuk pribadi. Melainkan bagaimana membawa keuntungan bagi publik dari semua kebijakan yang ia lakukan,” ujar Nirzalin.

Dalam konteks seperti ini, Nirzalin melanjutkan, apa yang harus dilakukan Wali Kota Lhokseumawe? “Pertama, saya kira memikirkan secara serius bagaimana membayar utang dengan tidak menggangu proses pembangunan,” katanya.

“Tapi ini memang ruwet sekali, dibutuhkan kemampuan dengan ‘jurus mabuk’ yang hebat ini. Karena keadaannya sudah seperti ini akibat dari kekeliruan masa lalu,” ujar mantan Kepala Pusat Studi Ekonomi, Sosial dan Politik Unimal ini.

Poin berikutnya, menurut Nirzalin, yang paling penting adalah perlu diingat dalam proses perencanaan pembangunan itu tidak boleh membuat program melebihi dari dana yang tersedia.

“Utang yang terjadi di tahun ini akibat perencanaan pembangunan di tahun lalu melebihi anggaran yang tersedia. Lalu kemudian efeknya seperti ini. Meskipun kita semua tahu, perencanaan yang dibuat berlebih tahun lalu itu kerangkanya adalah (diduga) bagaimana mengambil untung dari proyek-proyek itu. Jadi, perencanaanya tidak boleh melebihi anggaran yang tersedia. Dalam bahasa falsafah Indonesia sering disebut, besar pasak daripada tiang,” kata Nirzalin.

Berikutnya, kata Nirzalin, bagaimana berkoordinasi secara serius dengan pemerintah provinsi dan pusat, sehingga dapat mencari anggaran agar bisa menggerakan pembangunan di Lhokseumawe.

“Sebenarnya membangun Lhokseumawe tidaklah sulit, dengan jumlah penduduk yang masih kecil. Sebetulnya dengan garis pendapatan seperti ini jika bisa di-menej dengan baik, ini akan berkembang dengan pesat. Karena SDM Lhokseumawe cukup baik. Saya kira di Aceh, setelah Banda Aceh, SDM orang Lhokseumawe cukup baik,” ujar Nirzalin.[]