Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaInspirasiBagaimana Menyiapkan Pejabat...

Bagaimana Menyiapkan Pejabat yang Sadar Budaya

Oleh: Thayeb Loh Angen
*Budayawan, Entrepreneur.

Kebudayaan merupakan hasil karya cipta manusia dan menjadi penanda keberadaan sebuah bangsa dan umat manusia dunia menurut zamannya. Kebudayaan atau peradaban menjadi ingatan dan pelajaran bagi manusia lain yang hidup di zaman penciptanya dan berlangsung terus menerus melampaui zaman tersebut. Para pencipta itu dialah ilmuwan, seniman, filsuf dan para cendikiawan lainnya.

Peradaban menciptakan sebuah gaya hidup dalam suatu zaman yang secara terus menerus dapat dipelajari sampai waktu yang tidak terhingga. Sejauh yang mampu dicatat sejarah di bumi ini, ada beberapa peradaban yang dikenal sampai sekarang.

Di antaranya adalah peradaban Bangsa Maya, Mesopotamia, Babilonia, Mesir Kuno, Romawi, Peradaban Islam, dan Peradaban Barat Modern.

Dari beberapa peradaban besar tersebut, terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang lebih kecil, misalnya peradaban Islam yang besar. Peradaban Islam dapat dibagikan ke dalam kurun dan kekuasaan yang terpisah, misalnya peradaban Islam zaman Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Kekhalifahan Bani Umayah, Kekhalifahan Abbasiyah, Kesultanan Alayyubi, Kesultanan Mamluk, Kesultanan Usmaniyyah, Kesultanan Khurasan, Kesultanan Mauhal, dan lainnya.

Di dalam bagian-bagian tersebut terbagi pula menurut zaman dan wilayah. Misalnya, peradaban Islam di zaman Mamluk dan Kesultanan Usmaniyyah di bagian Asia dan Eropa, juga bersamaan dengan peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara, yaitu peradaban Aceh (zaman Kesultanan Sumatra dan Kesultanan Aceh Darussalam).

Peradaban Aceh tentunya perihal yang kita bicarakan di sini. Peradaban yang dihasilkan di masa silam tersebut sampai kini masih ada, walaupun menurut perkiraan sejarawan hanya sebagian kecilnya yang tersisa.

Peradaban Aceh meninggalkan beberapa bidang. Di antaranya adalah bahasa pemersatu, yaitu Bahasa Jawi yang dibangsakan kepada Pasai (Bahasa tersebut sekarang menjadi Bahasa Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Patani Thailan Selatan, Singapura).

Dalam bidang ilmu pengetahuan, hasil peradaban Aceh yang masih dapat kita saksikan adalah ribuan buku yang tersebar di berbagai pustaka dan museum di dalam dan luar negeri.

Dalam bidang seni bangunan atau arsitektur, hasil peradaban Aceh kini masih ditemukan di rumah Aceh, benteng, masjid lama, Pinto Khop, dan Gunongan.

Dalam bidang hukum dan pemerintahan, peradaban Aceh memiliki Qanun Alasyi (Undang-Undang Aceh), adat laot, adat mukim, dan sebagainya. Dalam bidang pertahanan, kita masih dapat melihat alat perang Aceh di zaman kesultanan. Selain itu, masih ada beberapa lagi hasil peradaban Aceh dalam berbagai bidang lainnya. Semua hal tersebut membuat Aceh dapat disebut mempunyai peradaban sendiri, peradaban Aceh.

Aceh yang memiliki peradaban tersendiri merupakan masa silam. Orang-orang yang menghasilkan pradaban tersbut tidak ada lagi. Rangkaian aturan dan cara (sistem) pemerintahan atau sistem politik yang dihasilkan dari peradaban tersebut tidak lagi digunakan di zaman ini. Peradaban Aceh itu bagaikan lembaran buku sejarah yang berserakan.

Di zaman ini, sebagian para peminat sejarah, arkeologi, memuja-muja pencapaian Aceh di masa silam dan mengeluhkan kebijakan Aceh di zaman ini. Sementara, orang-orang itu tidak berusaha mencari dasar dari peristiwa tersebut. Kita mengeluhkan kebijakan pemerintah sekarang yang menelantarkan cagar budaya dan nilai budaya, tetapi pada waktu bersamaan kita tidak berusaha menyiapkan orang-orang yang dapat mewujudkannya.

Sebagai contoh, kita mengeluhkan kebijakan Pemerintah Kota Banda Aceh yang membangun IPAL (Instalasi Pembuangan Air Limbah) di Gampong Pande, yang diduga sebagai Kawasan cagar budaya. Sementara kita tidak memberikan contoh apapun untuk penyelamatan itu, tetapi hanya menyalahkan.

Kita tidak boleh hanya menghujat orang-orang di pemerintahan karena mereka tidak memahami kebudayaan Aceh sehingga tidak melindungi warisan sejarah. Namun, kita perlu menciptakan para politikus yang memahami itu. Ini adalah kerja yang membutuhkan waktu, keahlian, dan kesabaran. Kita tidak dapat mengharapkan pemerintah menyelamatkan warisan sejarah sementara pada saat yang sama kita membenci pemerintah dan perpolitikan.

Apabila kita menginginkan pemerintah melindungi warisan sejarah, maka para sejarawan dan budayawan harus memasuki dunia politik. Kebencian dan pemisahan diri dari dunia politik merupakan sikap para pengecut, yang bersorak di sudut kedai kopi dan bersembunyi di balik teori.

Peradaban Aceh yang kita banggakan itu tidak ada lagi sekarang. Semuanya tinggal kenangan di lembaran kitab sejarah dan artefak. Aceh memiliki arsitektur, tetapi sekarang, kita sebagai orang Aceh tidak lagi menggunakan seni tersebut di rumah, masjid, dan bangunan lainnya.

Aceh memiliki aksara Jawi, tetapi tidak ada orang Aceh yang menulis dalam hahasa dan aksara itu sekarang. Aceh telah meninggalkan peradabannya sehingga dunia mengabaikan peradaban Aceh.

Aceh memiliki sistem pertanian, tetapi kita tidak menggunakan itu lagi sehingga makanan tidak lagi melimpah. Hanya adat laot (hukum laut) yang masih digunakan di Aceh sampai sekarang. Selain itu, peradaban Aceh telah punah di alam raya. Sisa-sianya masih ada untuk dipelajari dan digunakan, tetapi orang Aceh sendiri tidak lagi menggukannya.

Para peminat sejarah dan budaya menyalahkan para politisi dan orang-orang di pemerintahan yang mengabaikan warisan sejarah. Sementara pada saat bersamaan, para budayawan, seniman, para pencinta sejarah dan kebudayaan, mengabaikan dunia politik.

Siapa yang mesti mulai memperbaiki ini? Apakah politisi dan orang-orang di pemerintahan atau para budayawan dan peminat sejarah? Karena ini tentang peradaban Aceh dan penyelamatan warisan sejarah, maka para budayawan, seniman, pencinta sejarahlah yang mesti memulainya.[]

Baca juga: