DHAKA, Bangladesh – Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina meminta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk tetap teguh menjaga keamanan dan martabat Muslim Rohingya.

Dalam upacara pembukaan Sidang Dewan Menteri Luar Negeri OKI ke-45 di Dhaka, Hasina mengatakan, “Nabi Muhammad berpesan kepada kita untuk tetap membela kemanusiaan. Ketika warga Rohingya menjadi sasaran pembersihan etnis, OKI tidak boleh mengabaikannya,”

Sejak 25 Agustus 2017, sekitar 750ribu Rohignya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, mengungsi dari Myanmar ketika pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap kelompok minoritas Muslim.

Menurut Dokter Lintas Batas, setidaknya 9.000 Rohingya tewas di negara bagian Rakhine dari 25 Agustus hingga 24 September 2017.

Dalam laporan yang dirilis pada 12 Desember, organisasi kemanusiaan global menyebutkan bahwa 71,7 persen kematian (6.700 jiwa) disebabkan oleh kekerasan. 730 di antaranya adalah anak-anak di bawah usia lima tahun.

PM Bangladesh mengatakan, OKI harus terus mempertahankan tekanan internasional terhadap pemerintah Myanmar untuk memulangkan pengungsi Rohingya dengan aman sesuai yang sudah disepakati dengan Bangladesh.

“Rohingya berhak atas kehidupan dan martabat yang layak seperti kita,” kata Hasina.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.

PBB telah mencatat adanya perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh tentara Myanmar. Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam kesempatan itu, wakil perdana menteri Turki mengatakan, KTT OKI pada 13 Desember lalu di Istanbul yang menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina, “merupakan pesan waktu bagi masyarakat internasional”.

“Solidaritas kita adalah yang menguatkan orang-orang Al-Quds Sharif dan Palestina. Yerusalem adalah garis merah dunia Islam,” tegas Bekir Bozdag.

“Kita membutuhkan solidaritas dan kerja sama yang lebih kuat antara anggota dalam setiap aspek, dari ekonomi hingga kesejahteraan, pembangunan hingga migrasi, stabilitas hingga perdamaian,” tambah dia.

Yerusalem masih berada di poros konflik Timur Tengah, karena orang-orang Palestina mengharapkan Yerusalem Timur – yang diduduki oleh Israel sejak 1967 – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina merdeka.

Bozdag yang didampingi Wakil Menteri Luar Negeri Turki Umit Yalcin, menemui PM Sheikh Hasina dan Menteri Luar Negeri Abul Hasan Mahmood Ali di sela-sela konferensi OKI.[]Sumber:anadolu agency