Suara riuh bercampur gaduh sangat terasa di telinga, begitulah kesehariannya bila berada di sana. Bermacam suasana bercampur dan akan didapati di dermaga itu, Pelabuhan Lampulo adalah namanya. Setiap hari keramaian selalu ada di tempat tesebut, di sanalah ikan-ikan dari hasil tangkapan para nelayan diturunkan.
 
Hari Kamis yang bertanggal 25 Agustus 2016, pukul sembilan pagi. Berteman rerintik hujan. Bahpun demikian, penulis bersahaja ke persinggahan boat ikan para nelayan itu. Bukan kali ini saja berkunjung ke sana, akan tetapi walau tidak setiap hari, namun bila berkesempatan selalu akan berkunjung ke dermaga itu.
 
“Kiban, pu haba? Nyan kon, uroe nyoe ka merumpek lom tanyoe hinoe! Apa kabarnya, hari ini telah kita berjumpa lagi di sini!” Sapa salah seorang rekan ketika penulis kembali berjumpa dengannya di pagi hari yang masih bergerimis tersebut.
 
“Ya, beginilah keadaanya di sini kalau hujan,” tambah Nurdin, rakan itu merupakan salah seorang penjual ikan di Lampulo.
 
Penulis sudah lama kenal dan berteman dengannya. Bila sesekali waktu ingin membeli ikan, pasti akan menghubunginya terlebih dulu. Di pagi itu, kami terus bercakap-cakap. Di tengah-tengah kerumunan manusia, terus berkata-kata sesekali bercanda.  
 
Rerintik hujan terus menemani, ia juga tak tinggal diam. Sembari berbicara, sesekali ia menawari ikan dagangannya kepada pengunjung yang lalu-lalang di hadapan kami. Ada yang langsung membeli, ada juga yang berlalu pergi. Suara riuh masih seperti biasa.     
 
“Beginikah keramaian tempo dulu di dermaga Aceh, mungkin,” penulis berguman sendiri sembari menikmati suasana kerumunan manusia di pagi hari Kamis tersebut.
 
Di bawah gerimis hujan, para pedagang, baik dari nelayan yang baru pulang dari melaut. Sekalian pengunjung, semua mereka larut dalam transaksi jual-beli. Juga berbagai macam jenis ikan, bisa ditemui di pelabuhan itu. Penulis kembali mengingat ke masa lalu, walau masa itu sudah terlewati berabad lamanya.
 
“Mungkin, jika masih di masa itu. Pasti akan ditemui para penjual dan pembeli bertransaksi dengan cara barter,” lagi-lagi berguman di dalam hati, penulispun meminta pamit dari rakan itu dan berbaur ke dalam kerumunan manusia, di hari yang bersahaja itu.
 
Toke-toke bangku juga terlihat sibuk, tawar-menawar harga terus berlangsung. Setiap ikan yang sudah sesuai dengan takaran harganya, terus diangkut oleh para pekerja yang memang sudah ada di sana. Mobil-mobil pembawa ikan itupun terlihat bebagai merk terparkir di arealnya.
 
Tepat pada pukul sepuluh lewat dua puluh satu menit, boat ikan yang sudah dan masih digunakan sebagai alat transportasi untuk masyarakat yang tinggal di Pulo Aceh, merapat ke Dermaga. Setiap harinya, kecuali hari Jum’at dan hampir di waktu yang bersamaan.
 
Boat ikan yang masih digunakan sebagai alat transportasi bagi penumpang itu, akan didapati di persinggahan Lampulo. Sebelum bersandar di pancang khusus di aliran sungai Krueng Aceh, untuk menuruni para penumpang yang pulang-pergi dari pulau itu.
 
Boat tersebut, menyinggahi pelabuhan adalah untuk menuruni ikan-ikan hasil tangkapan masyarakat yang ada di Pulo. Selain daripada membawa para penumpang, boat itu juga membawa segala jenis kebutuhan lainnya. Gerimis hujan, terus menemani setiap siapa saja yang masih ada di Pelabuhan tersebut.
 
Hari Kamis yang bertanggal 25 di bulan Agustus ini, semakin beranjak siang. Penulis pun kembali menjumpai Nurdin, sekaligus memberitahunya ingin pulang dari dermaga itu. Tepat pukul sebelas menjelang siang, penulis meninggalkan Pelabuhan tersebut.
 
Laporan Syukri Isa Bluka Teubai