Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
BerandaBerita Aceh UtaraBegini Kondisi Terkini...

Begini Kondisi Terkini Wastafel Disdik Provinsi di SMA/SMK Aceh Utara dan Lhokseumawe

ACEH UTARA – Pengadaan ratusan wastafel dan sumur bor oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh untuk SMA dan SMK di kabupaten/kota sumber dana tahun 2020 sempat menuai sorotan publik. Pasalnya, sebagian hasil pengadaan diduga tidak sempurna, sehingga pada awal tahun 2021 ada sekolah yang tak dapat memanfaatkan tempat cuci tangan tersebut. Pihak kepolisian pun turun ke sejumlah SMA/SMK mengecek kondisi wastafel itu.

Wastafel itu antara lain terdapat di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Tanah Luas, Aceh Utara.

Amatan portalsatu.com, Rabu, 13 Oktober 2021, di SMKN 1 Tanah Luas tampak delapan wastafel yang dibangun berjejeran di depan ruang belajar siswa dan sebagian dekat kantor kepala sekolah tersebut, termasuk satu sumur bor.

Namun, wastafel tersebut diduga tidak berfungsi. Saat dibuka keran pada wastafel itu tidak keluar air. Lubang saluran air pada sebagian wastafel itu tampak tersumbat dan kurang bersih. Salah satu keran tempat cuci tangan itu sudah patah. Pipa air yang tersambung dengan wastafel terpasang di atas permukaan tanah.

(Kondisi wastafel di SMKN 1 Tanah Luas, Aceh Utara, 13 Oktober 2021. Foto: Fazil/portalsatu.com)

Hasil amatan pada hari yang sama, di SMAN 1 Tanah Luas terlihat 12 wastafel. Dua unit di antaranya, airnya tidak keluar saat keran dibuka. Wastafel lainnya ada yang tersumbat, tapi saat keran dibuka, airnya keluar dengan lancar.

Kepala SMKN 1 Tanah Luas, Aceh Utara, Mahdi, S.T., M.S.M., mengatakan wastafel itu bukan tidak berfungsi, tapi pipa air sedang diperbaiki karena bocor.

“Bantuan wastafel (dari Dinas Pendidikan Aceh) di sekolah ini delapan unit yang dibangun pada 2020, tapi saya tidak ingat lagi bulan berapa. Ketika itu ada tim kontraktor (rekanan) yang datang ke sekolah berkoordinasi dengan kami untuk membangun wastafel. Maka kita menentukan titik atau posisi wastafel yang dibangun, termasuk sumur bor. Itu dilaksanakan dalam satu bulan sudah selesai kalau tidak salah saya,” kata Mahdi.

Menurut Mahdi, apabila terjadi kebocoran pipa, petugas sekolah segera memperbaikinya. “Karena pipa ditimbun (ditanam) agak dangkal sedikit. Hampir setiap bulan pipanya bocor,” ungkapnya.

Soal ada keran yang patah, Mahdi menyebut “itu terkadang siswa saat membuka terlalu kuat”.

“Kalau secara teknis kerja (pembangunan wastafel), saya tidak paham bagaimana. Kami hanya menunjukkan lokasi atau penempatan wastafel. Terkait mekanismenya saya tidak mengerti. Akan tetapi, semua tempat cuci tangan itu terpakai. Memang ada sebagian kekurangan, tapi kita juga ikut memperbaiki apabila ada kendala,” tambah Mahdi.

Mahdi menyebut bantuan wastafel tersebut berdasarkan permohonan atau pengajuan proposal kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh. “Untuk SMK di Aceh Utara, kita membuat proposal secara bersama, dan juga diminta proposal untuk pengadaan wastafel,” ucapnya.

Kepala SMAN 1 Tanah Luas, Aceh Utara, Hasbi, S.Pd., M.S.M., mengatakan pihaknya menerima bantuan wastafel dari Disdik Aceh 12 unit. “Ada dua wastafel yang dilakukan penutupan pada bagian bawah saluran keran oleh anak-anak (siswa),” katanya.

Menurut Hasbi, serah terima wastafel termasuk sumur bor dari pelaksana kepada pihak sekolah dilakukan pada Desember 2020.

“Itu telah dilakukan serah terima, sudah beres semua, dan sudah turun tim Provisional Hand Over (PHO) dari dinas terkait. Tim Polres Aceh Utara juga sudah turun ke lokasi,” ujar Hasbi.

(Kondisi wastafel di SMAN 1 Tanah Luas, Aceh Utara, 13 Oktober 2021. Foto: Fazil/portalsatu.com)

Hasbi menyebut perawatan tempat cuci tangan tersebut dilakukan pihak sekolah. “Kita yang merawat sendiri. Itu sebagian wastafel memang sudah dibuka oleh siswa karena tersumbat. Artinya, mereka membuka untuk kelancaran saluran air, itu tidak ada masalah, dan kita maklum juga karena sudah setahun,” ungkapnya.

Dia menyatakan pengelolaan anggaran terkait pengadaan wastafel tersebut tidak ada kaitannya dengan pihak sekolah. “Itu urusannya dari Disdik Aceh. Kita hanya menyediakan tempat saja. Mengenai hal teknis itu di luar kewenangan sekolah,” ucap Hasbi.

Kepala SMAN 1 Matangkuli, Aceh Utara, Drs. Ridwan, M.S.M., saat dikonfirmasi portalsatu.com, Selasa, 12 Oktober 2021, mengaku pihaknya tidak mendapatkan bantuan wastafel dari Disdik Aceh. Tempat cuci tangan bagi siswa SMA ini, kata dia, disediakan atas inisiatif pihak sekolah.

“Memang sebelumnya ada tim Polres Aceh Utara datang ke sekolah, tapi kita menyampaikan kepada mereka bahwa kita tidak menerima bantuan tersebut. Meski demikian, kita selalu menganjurkan para siswa untuk mengikuti protokol kesehatan dengan cara mencuci tangan pada wastafel yang telah disediakan pihak sekolah,” ujar Ridwan.

Wastafel dari Disdik Aceh juga diterima SMAN 1 dan SMKN 1 Lhokseumawe pada pengujung tahun 2020.

(Wastafel di SMKN 1 Lhokseumawe, 12 Oktober 2021. Fazil/portalsatu.com)

Kepala SMKN 1 Kota Lhokseumawe, Irwan, S.Pd., M.Si., menyebut wastafel yang diterima dari Disdik Aceh berjumlah 10 unit. Namun, pihaknya tidak mengetahui bagaimana sistem pengelolaan anggaran untuk pengadaan itu, karena pihak sekolah hanya menyediakan tempat hasil koordinasi dengan rekanan.

“Mereka berkoordinasi dengan kita mengenai titik penempatan 10 unit wastafel dan satu sumur bor untuk penyaluran air ke tempat cuci tangan tersebut. Bentuk wastafel permanen itu dibangun kalau tidak salah saya pada akhir 2020, saya tidak ingat lagi bulan berapa. Tim dari Polres Lhokseumawe pun sudah mengecek ke sekolah pada awal tahun 2021,” ujar Irwan dikonfirmasi portalsatu.com, Selasa (12/10).

Menurut Irwan, pada awal dibangun wastafel itu memang ada satu unit yang rusak di bagian keran air. “Mungkin karena ramai saat dipegang oleh anak-anak (siswa). Akan tetapi, kondisi sekarang sudah bagus lagi, ada perbaikan dari saluran pipa. Saat mengalami kerusakan itu langsung kita laporkan kepada pihak pengadaan alat tersebut untuk diperbaiki,” ungkapnya.

Irwan menyebut saat tim Polres Lhokseumawe turun ke sekolah ini ditemukan tiga wastafel yang sambungan pipa (saluran air) tampak tidak menyatu. “Tetapi jika dihidupkan keran airnya tetap keluar di wastafel dengan saluran air diperoleh dari sumur bor bantuan satu paket dengan tempat cuci tangan itu,” katanya.

“Sumur bor itu khusus digunakan untuk saluran air ke 10 unit wastafel, tidak difungsikan kepada yang lain. Lokasi sumur bor berada di belakang bangunan musala SMKN 1 Lhokseumawe. Kita selalu mengimbau kepada para siswa melalui pengeras suara untuk mencuci tangan sebelum masuk ke ruang belajar. Artinya, selalu diimbau kepada pelajar agar mengikuti protokol kesehatan,” ujar Irwan.

Di SMAN 1 Lhokseumawe juga terdapat 10 wastafel yang dibangun berjejeran depan ruang belajar siswa. Saat dicek kondisinya berfungsi dan keran tampak masih bagus.

Kepala SMA Negeri 1 Lhokseumawe, Nurasmah, S.Pd., M.Pd., mengatakan 10 wastafel bantuan Disdik Aceh itu dibangun pada tahun 2020. “Saya tidak ingat persis bulan berapa dibangun oleh pihak rekanan, kita hanya menyediakan tempat saja. Sampai sekarang masih berfungsi dan kondisinya bagus, kita jaga dengan baik supaya terawat terus,” ujar Nurasmah, Selasa (12/10).

“Itu diperuntukkan bagi siswa selama pandemi Covid-19. Kita selalu mengarahkan para siswa untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang belajar,” tambah Nurasmah.

(Wastafel di SMAN 1 Lhokseumawe, 12 Oktober 2021. Fazil/portalsatu.com)

Dilihat portalsatu.com pada laman resmi Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) LKPP, dalam RUP Dinas Pendidikan Aceh Tahun Anggaran 2020 terdapat 401 paket pengelolaan kegiatan pembuatan tempat cuci tangan dan sanitasi SMAN/SMKN. Pagu dananya lima sampai tujuh juta lebih per paket melalui swakelola.

Sementara itu, dikonfirmasi portalsatu.com melalui pesan WhatsApp, Senin (11/10), dan juga dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (12/10), terkait perkembangan penyelidikan terhadap pengadaan ratusan wastafel tahun anggaran 2020, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh, Kombes Pol. Sony Sonjaya, tidak memberikan jawaban terkait pertanyaan itu.

Dikonfirmasi terpisah lewat pesan WA, Senin (11/10), Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Winardy, belum merespons sampai sekarang.

Diberitakan sebelumnya, Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) mendukung langkah Polda Aceh yang menyelidiki indikasi korupsi dalam pengadaan ratusan wastafel tahun anggaran 2020 senilai Rp41,2 miliar di bawah Dinas Pendidikan Aceh.

“Pada awalnya MaTA sudah pernah mempertanyakan kenapa sampai ada pembangunan (pengadaan wastafel untuk sekolah-sekolah di Aceh) tersebut, karena semua sekolah sebelumnya sudah ada tempat cuci tangan bagi siswa dalam rangka pencegahan Covid-19,” kata Koordinator MaTA, Alfian, dalam keterangan tertulis diterima portalsatu.com, Jumat, 26 Februari 2021.

Menurut Alfian, Pemerintah Aceh seharusnya memastikan sekolah mana saja yang masih kekurangan fasilitas. “Itu yang perlu diintervensi pembangunannya baik berupa rehabilitasi atau rekonstruksi tempat cuci tangan tersebut,” ujarnya.

“Faktanya, pembangunan (wastafel) yang dibangun tidak sempurna dan pihak sekolah ada yang belum dapat memanfaatkannya. Ada juga pihak sekolah mengeluarkan biaya sendiri agar tempat cuci tangan yang sudah dibangun tersebut dapat difungsikan. Padahal, pemerintah melalui Dinas Pendidikan Aceh sudah mengeluarkan anggaran sebesar Rp41,2 miliar untuk pembangunan tersebut dengan skema anggaran refocusing 2020,” ungkap Alfian.

Oleh karena itu, MaTA menilai langkah Polda Aceh untuk memastikan pengadaan wastafel tersebut tidak ada unsur korupsi sudah sangat tepat. MaTA berharap dalam penyelidikan dan penyidikan terhadap indikasi korupsi yang sedang dilidik adanya kepastian hukum apabila ditemukan unsur korupsinya.

“Dalam pengungkapan kasus ini, MaTA menilai sangat mudah untuk melihat kasusnya. Dan kita percaya Polda mampu mengungkapkan, mulai dari perencanaan, penganggaran dan pembangunannya sehingga siapa pun pihak yang diduga terlibat tidak lolos, atau apabila ada penerima aliran dananya juga dapat diungkap secara tuntas,” kata Alfian.

Alfian menegaskan pandemi Covid-19 adalah bencana nasional. “Jadi, siapan pun melakukan korupsi terhadap anggaran (penanganan) pandemi dapat dijerat dengan hukuman mati sesuai pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, telah diatur soal kemungkinan penerapan pidana mati terhadap kasus korupsi dalam keadaan tertentu,” ujarnya.

“MaTA menyatakan konsisten mengawal pengusutan kasus tersebut sehingga ada rasa keadilan dan kepastian hukum terhadap pelaku kejahatan luar biasa tersebut,” pungkas Alfian.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Pol. Winardy, mengatakan penyelidikan terhadap kasus pengadaan wastafel itu masih tahap pengumpulan bahan keterangan (Pulbaket). “Penanganan kasus ini masih tahap klarifikasi dan sampai saat ini belum ada pemeriksaan pihak-pihak terkait,” kata Kombes Winardy, dilansir aceh.antaranews.com, Selasa, 23 Februari 2021.

Baca juga: MaTA Dukung Polda Aceh Usut Pengadaan Wastafel

[](nsy)

Baca juga: