Dari asa dan makna
kata bahagia menyelinap
di setiap celah zaman
sejak awal keberadaan.
Kesemuanya berpulang pada
kebahagiaan asli dan palsu.
Yang asli merajut makna eksistensi non materiil. Sedang yang palsu, hanya temporal dan bendawi semata. Namun menjadi bahagia bukan semakna
menolak benda benda dan tak menikmati fungsinya. Melainkan sebagai gerbang kesadaran untuk makna yang lebih tinggi.
Belajar bahagia tak akan pernah tuntas, sebelum kita sampai
pada ujung keberadaan :yang memisahkan ada dan tiada.[]
Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik
dalam catatan ” Bahagia setiap Saat”


