SUBULUSSALAM – Mumifikasi atau mengawetkan mayat menjadi warisan peradaban Mesir kuno yang sangat populer masa itu. Teknik pengawetan mayat ini identik dengan jasad raja-raja Mesir masa lampau atau biasa disebut Firaun.
Namun tahukah anda bahwa orang-orang Mesir kuno menggunakan bahan baku untuk mumifikasi berasal dari Kota Subulussalam, Aceh untuk mengawetkan jasad Firaun?
Namanya bahan bakunya adalah keberun (sagu atau kapur) barasal dari cairan yang dikeringkan hasil dari ekstraksi pohon kapur atau yang lebih dikenal dengan nama pohon kamper. Masyarakat Subulussalam tempo dulu pergi ke hutan mencari keberun yang saat itu nilai jualnya sangat mahal.
Sagu atau kapur yang diperoleh dari pohon kapur itu dijual kepada pengepul lalu dibawa ke Barus yang menjadi pusat perdagangan waktu itu. Barus sebuah daerah di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Pada masa itu kota Barus sangat dikenal, Barus yang saat itu berada di wilayah Kesultanan Aceh pernah termasyhur ke seluruh dunia sebagai pusat perdagangan internasional yang mengekspor rempah-rempah, termasuk Kapur Barus (keberun) yang sangat diminati di pasar dunia, khususnya warga Mesir.

Di Kota Subulussalam ini kayu Kamper disebut pohon Kapur Singkel (Dryobalanops aromatica gaertn) dengan ketinggian batangnya mencapai 20-30 meter lebih, daunya mengkilat dan melilin. Pohon Kamper saat ini masih terdapat di sejumlah titik di wilayah Kota Subulussalam, menjadi bukti bahan baku Kapur Barus diproduksi dari Bumi Syekh Hamzah Fansuri.
Wakil Ketua I Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Subulussalam, Habibudin kepada portalsatu.com/, Minggu, 11 Juni 2023 mengatakan pohon kapur itu menghasilkan sagu atau keberun yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan dipakai untuk pengobatan tradisional.

Selain itu, nilai jual keberun cukup tinggi, konon kabar ceritanya digunakan untuk mengawetkan mayat raja-raja Mesir Kuno waktu itu, atau istilah orang Mesir menyebutnya Kapur Barus.
Kapur Barus tersebut dibeli orang Mesir di Barus yang saat itu pelabuhan Barus menjadi pusat dagang dan pintu masuk perdagangan di Aceh. Habibudin menyebutkan warga Mesir datang ke Aceh untuk membeli keberun atau kapur di Barus sehingga dikenalah Kapur Barus.

Mantan Kepala Desa Pegayo ini mengatakan ada keunikan dari pohon kapur atau kamper ini hanya tumbuh di Bumi Syekh Hamzah Fansuri. “Yang uniknya kayu Kamper ini hanya tumbuh di seputaran Bumi Syekh Hamzah Fansuri ini, dan sedikit saya ketahui itu ada di sekitar Tapanuli,” kata Habibudin yang waktu kecilnya mengaku pernah ikut mencari keberun ke hutan bersama ayahnya Almarhum Abdul Rafar.
Padahal, katanya Kota Subulussalam berbatasan langsung dengan Sumatera Utara, Aceh Tenggara, Aceh Selatan dan Aceh Singkil yang posisi kawasan hutannya hampir sama namun tidak ditumbuhi pohon kapur. Menurutnya keberun saat itu memiliki nilai jual fantastis, dalam satu ons saja bisa mencukupi biaya hidup keluarga tiga sama empat bulan waktu itu.
Saat ini pohon kamper ini masih terdapat di beberapa titik di wilayah Kota Subulussalam seperti di lembah bakti, Desa Oboh, Rundeng. Selanjutnya kawasan kawasan Sultan Daulat dan di kawasan Tahura Lae Kombih, Desa Jontor. Ada juga di Desa Lae Ikan dan Desa Penuntungan Kecamatan Penanggalan.
“Jadi kegunaannya ini selain untuk diperjualbelikan, ini manfaatnya untuk obat. Minyak atau umbilnya itu untuk obat luka, obat sakit gigi, obat sakit perut. Dulu obat tradisional inilah yang paling ampuh,” ujar Habibudin.[]



