BANDA ACEH — Di tengah Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, sebuah pesawat berwarna biru-putih berdiri tenang. Tubuhnya tidak lagi bergerak, tidak pula mengangkasa, namun kehadirannya justru menjadi salah satu titik paling mudah dikenali di ruang publik kota itu. Pesawat Seulawah RI-001 kini bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga bagian dari keseharian warga yang datang dan pergi tanpa henti.

Setiap hari, Blang Padang berubah menjadi ruang terbuka yang hidup. Pagi hari dipenuhi warga yang berolahraga, siang menjadi tempat beristirahat di bawah pohon dan sayap pesawat, sementara sore hingga malam berubah menjadi arena pertemuan, obrolan santai, hingga pusat jajanan kaki lima. Di antara semua aktivitas itu, monumen Seulawah berdiri seperti penanda yang menyatukan masa lalu dan masa kini.

Bagi sebagian pengunjung, pesawat ini menjadi tempat berteduh yang nyaman. Area di bawahnya yang telah ditata dengan lantai keramik kerap dimanfaatkan untuk duduk santai, melepas lelah setelah beraktivitas di lapangan. Dari titik ini, pengunjung bisa melihat langsung keramaian Blang Padang yang terus bergerak tanpa jeda.

Namun di balik fungsinya sebagai ruang publik, Pesawat Seulawah menyimpan cerita besar tentang sejarah Aceh dan Republik Indonesia. Monumen ini merupakan pengingat dari pesawat Seulawah RI-001, armada udara pertama milik Republik yang lahir dari hasil sumbangan rakyat Aceh pada tahun 1948.

Pada masa itu, ketika Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaan dan menghadapi blokade serta agresi militer Belanda, masyarakat Aceh menunjukkan dukungan melalui penggalangan dana besar-besaran. Saudagar, petani, hingga masyarakat umum menyumbangkan uang, emas, dan hasil bumi seperti padi, beras, ubi, ternak, hingga perhiasan. Semua dikumpulkan secara sukarela sebagai bentuk solidaritas terhadap Republik yang masih muda.

Dari hasil pengumpulan tersebut, pemerintah Indonesia berhasil mengupayakan pembelian pesawat Dakota yang kemudian dikenal sebagai Seulawah RI-001. Pesawat ini memiliki peran penting dalam mendukung perjuangan, mulai dari mengangkut logistik, obat-obatan, hingga membantu mobilitas tokoh-tokoh negara di tengah situasi perang dan keterbatasan transportasi.

Seiring waktu, Seulawah RI-001 tidak hanya dipandang sebagai alat perjuangan, tetapi juga simbol awal lahirnya penerbangan nasional Indonesia. Jejaknya menjadi bagian dari sejarah panjang yang kemudian berkembang menjadi sistem transportasi udara modern di tanah air.

Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah kemudian menghadirkan replika pesawat ini di Blang Padang, yang diresmikan pada 30 Juli 1984 oleh Panglima ABRI saat itu, Jenderal L.B. Moerdani. Sejak saat itu, monumen tersebut menjadi salah satu penanda sejarah penting di Banda Aceh.

Di sekitar kawasan Blang Padang, kehidupan masyarakat terus berputar. Pedagang kecil membuka lapak sejak pagi, menawarkan makanan dan minuman kepada pengunjung yang datang dari berbagai arah. Aktivitas ekonomi ini tumbuh seiring ramainya kawasan tersebut, terutama pada akhir pekan dan hari libur.

Blang Padang juga menjadi ruang berkumpul lintas usia. Anak-anak bermain, remaja bersantai, orang dewasa berolahraga, dan keluarga menikmati waktu bersama di ruang terbuka kota. Dalam keseharian itu, Pesawat Seulawah tetap menjadi latar yang tak pernah lepas dari pandangan.

Letaknya yang tidak jauh dari Museum Tsunami Aceh membuat kawasan ini semakin sering dikunjungi wisatawan. Banyak di antara mereka yang tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga membaca kembali potongan sejarah yang tertulis di sekitar monumen.

Kini, Pesawat Seulawah di Blang Padang berdiri bukan hanya sebagai benda mati dari masa lalu. Ia telah menjadi bagian dari ruang hidup kota menghubungkan sejarah perjuangan dengan kehidupan masyarakat hari ini dalam satu lanskap yang sama.

RI-001 Seulawah, Pesawat Sumbangan Rakyat Aceh yang Menjadi Cikal Bakal Garuda Indonesia

Sebelum Indonesia memiliki maskapai penerbangan nasional yang dikenal luas saat ini, rakyat Aceh telah lebih dulu menunjukkan kontribusi besarnya bagi bangsa. Salah satu buktinya adalah hadirnya Monumen Pesawat RI-001 Seulawah yang berdiri megah di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Monumen tersebut merupakan replika pesawat Dakota RI-001 Seulawah, pesawat angkut pertama milik Indonesia yang memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pesawat ini dibeli pada tahun 1948 melalui hasil patungan masyarakat dan para saudagar Aceh sebagai bentuk dukungan nyata terhadap Republik Indonesia yang saat itu tengah menghadapi berbagai tantangan pascakemerdekaan.

“Nama “Seulawah” sendiri berasal dari bahasa Aceh yang berarti “Gunung Emas”. Nama tersebut mencerminkan harapan sekaligus semangat rakyat Aceh yang rela menyumbangkan harta bendanya demi kepentingan bangsa dan negara,” ungkap, Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, Minggu, (14/6/2026)

Lalu, Pesawat RI-001 Seulawah berjenis Dakota DC-3 dengan panjang badan mencapai 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 meter. Dalam perjalanan sejarahnya, pesawat ini tidak hanya digunakan sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjalankan berbagai misi strategis.

“Mulai dari mendukung misi diplomatik Indonesia ke luar negeri, menerobos blokade Belanda, mengangkut senjata dan logistik perjuangan, hingga melayani penerbangan kenegaraan,” paparnya.

Keberadaan pesawat ini juga menjadi bagian penting dalam sejarah penerbangan nasional karena dikenal sebagai salah satu cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia. Kontribusinya menjadikan RI-001 Seulawah sebagai simbol perjuangan, kemandirian, dan semangat persatuan bangsa.

Saat ini, replika pesawat RI-001 Seulawah dapat disaksikan oleh masyarakat di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Monumen tersebut diresmikan pada 30 Juli 1984 sebagai bentuk penghormatan atas jasa rakyat Aceh dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Sementara itu, pesawat aslinya kini tersimpan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta,” ujarnya lagi.

Lebih dari sekadar monumen, RI-001 Seulawah merupakan saksi sejarah yang mengingatkan generasi masa kini tentang besarnya pengorbanan rakyat Aceh bagi Republik Indonesia.

“Di balik badan pesawat yang berdiri kokoh itu, tersimpan kisah solidaritas, patriotisme, dan semangat juang yang turut mengantarkan Indonesia menuju kedaulatan,” ungkapnya lagi. [Adv]