BU kulah adalah nasi bungkus ala Aceh yang sudah membudaya selama ratusan tahun. Bentuk kulah (bungkus) bu ini berbeda dengan bungkus nasi secara umum yang dikenal di kedai-kedai. Bentuk bu kulah ini seperti piramida empat sisi dengan ujung meruncing.
Maka, bu kulah itu bukan jenis nasi atau masakan, akan tetapi cara membungkus. Orang-orang Aceh membuat bu kulah pada saat khanduri maulid (moled), juga acara kenduri lainnya. Namun, pada khanduri (kenduri) moled, kehadirian bu kulah (dengan isinya bu minyeuk) serasa wajib.
Membikin buku kulah lebih rumit daripada membungkusnya sebagaimana biasa.
Ketika saya ke Istanbul pada Oktober 2016, di sana, dalam menu lengkap yang rumit -hampir semua berbahan susu aneka ragam–sebagaimana budaya Turki, ada disertakan sebungkus kecil nasi yang bentuk bungkusnya persis bu kulah dalam ukuran kecil. Nasi di dalamnya mendekati jenis bu minyeuk tetapi dengan bumbu lebih banyak.
Saya tidak mengklaim bahwasanya bu kulah Aceh yang membudaya ini sama dengan bu kulah Turki warisan zaman Ottoman, akan tetapi sulit untuk mengatakannya bukan. Hal itu disebabkan, pada 2009, ketika saya ke Sri Lanka, tidak kutemukan bu kulah, akan tetapi di negeri orang Tamil Hindi muslim itu ada bu gureng (nasi goreng), asam udeueng, dan kuah suree teupeuleumak (gulai tongkol masak lemak) yang persis di Aceh. Tapi, tidak ada bu kulah di Sri Langka. Hanya ada di Istanbul, selain di Aceh.
Hari ini, 10 Juni 2017, Forum Kota Pusaka Aceh mengadakan ifthar (buka puasa bersama) dan silaturahmi pada Sabtu, 10 Juni 2017, Pukul 16:00 WIB, di Aula Forsimas samping BNI Darussalam (Depan F- MIPA Unsyiah).
Menu utama acara ini adalah bu kulah yang isinya bu ie bukan bu minyeuk.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, acara tersebut direncanakan dilaksanakan secara sederhana dengan menu kurma, bu kulah, sie itek mirah, dan buah. Agenda acara, Pembukaan oleh MC: Ust Mujiburrizal, Sambutan dari Sekjen FKPA, Sosialisasi: Apa Itu Kota Pusaka oleh: Tgk Taqiyuddin Muhammad, Lc, dilanjutkan berbagi pandangan dari peserta, dan buka bersama (buka kecil). Lalu, salat Maghrib berjamaah di mushalla KID (Samping Aula), dan makan besar, selesai,” kata Ketua FKPA, Teuku Farhan. Acara ini akan dihadiri oleh puluhan peserta yang merupakan perwakilan dari sekira 30-an organisasi anggota FKPA
Sebagaimana dimaklumi, Forum Kota Pusaka Aceh terbentuk dalam sebuah rapat antar organisasi yang di ruang rapat Forum LSM Aceh, Jumat, 21 April 2017.
Sejauh penelitiannya FKPA menemukan sekira 47 kota pusaka yang tersebar di seluruh Aceh, baik di pantai barat-selatan, pantai timur-utara, maupun di wilayah tengah Aceh. Jumlah tersebut bisa saja bertambah mengikuti penelitian selanjutnya.[]



