BANDA ACEH – Forum Kota Pusaka Aceh (FKPA) melaksanakan ifthar (buka puasa bersama) dan silaturahmi pada Sabtu, 10 Juni 2017, di Aula Forsimas samping BNI Darussalam (Depan F- MIPA Unsyiah).

Sebelum acara berbuka puasa, para hadirin berdiskusi tentang Kota Pusaka Aceh. Penjelasan tentang Kota Pusaka Aceh secara lengkap disampaikan oleh Kepala Peneliti di FKPA, Taqiyuddin Muhammad, yang merujuk pada peta Laksamana Muhammad Ghauts Saiful Alam Syah, ditulis sekira tahun 1869, atas perintah Sultan Mansur Syah Aceh Darussalam sebagai laporan untuk Khalifah Turki Utsmani di Istanbul.

Peta itu disertakan oleh Muhammad Ghauts bersama surat laporan kepada Khalifah Turki Utsmani di masa itu. Muhammad Ghauts telah mengelilingi Asia Tenggara, timur tengah, dan Eropa untuk kepentingan Aceh Darussalam, atas perintah yang mulia Sultan Mansur Syah atau Syah Mansur Aceh.

“Ini Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh) kursi Syah Mansur, artinya ini ibukota. Dan ini Bandar Bali, di sini juga ada wazir (perdana mentri) Syah Mansur Aceh. Artinya Sultan Mansur Syah juga menempatkan perdana mentrinya di Bali. Dalam budaya di masa itu, kalau di suatu wilayah ditempatkan wazir maka negeri itu adalah vassal atau negara bagian dari negara yang menempatkannya,” kata Taqiyuddin Muhammad, yang merupakan pembaca inskripsi batu (nisan) Aceh, penulis buku 'Daulah Shalihiyyah di Sumatra'.

Taqiyuddin menunjuk peta berbahasa Jawi dan Ottoman itu, seraya menjelaskan, ada banyak kota-kota yang Sultan Mansur Syah menempatkan perdana mentrinya. Di Jawa timur, Jawa Barat, Bandar Borneo, dan beberapa kota di Semenanjung Melayu seperti Patani dan beberapa negeri yang masuk ke dalam Kerajaan Malaysia, dan banyak lagi tempat di Asia Tenggara yang ada wazir Aceh Darussalam.

Akan tetapi, kata Taqiyuddin, fokus Forum Kota Pusaka Aceh bukan untuk kota-kota yang sekarang berada di luar wilayah Aceh, namun pada kota-kota yang ada dalam wilaha Aceh, yang disebutkan di beberapa naskah dengan jelas, di antaranya dari peta Muhammad Ghauts tersebut, yang aslinya tersimpan di Museum Topkapi, bekas istana Sultan Turki Usmani, di Istanbul, Turki.

“Zaman kesultanan itu sudah berakhir. Tujuan FKPA hanya memberikan sejarah haknya di dalam kehidupan kita. Kesultanan Sumatra (Samudra Pasai) lebih dua ratus tahun, Kesultanan Aceh Darussalam lebih 300 tahun. Sementara masa perang dengan Belanda di Aceh sekira 69 tahun, masa RI baru 70 tahun. Maka, ada sekira 500 tahun masa Aceh berjaya itu, di mana tempatnya dalam kehidupan kita? Masa yang lebih lama itu di mana ruangnya sekarang? Ini misi FKPA, memberikan sejarah haknya,” kata Taqiyuddin, yang juga pendiri dan penasehat CISAH dan Mapesa.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Forum Kota Pusaka Aceh terbentuk dalam sebuah rapat antar organisasi yang di ruang rapat Forum LSM Aceh, Jumat, 21 April 2017. Sampai kini sudah ada lebih dari 30 organisasi dari berbagai bidang yang bergabung.

Sejauh penelitiannya FKPA menemukan sekira 47 kota pusaka yang tersebar di seluruh Aceh, baik di pantai barat-selatan, pantai timur-utara, maupun di wilayah tengah Aceh. Jumlah tersebut bisa saja bertambah mengikuti penelitian selanjutnya.[]