BLANGKEJEREN – Bupati Gayo Lues Suhaidi, S.Pd., M.Si., mengajak seluruh masyarakat yang memiliki lahan tidur agar segera menanam kopi Gayo atau yang kerap disebut “emas merah” di dataran tinggi Gayo. Bupati meyakini jika warga menanam emas merah akan mengubah nasib pemilik lahan di masa yang akan datang.

“Kita sudah sama-sama melihat ekonomi warga yang menanam kopi lebih stabil setiap saat dibandingkan dengan ekonomi warga yang menanam tanaman lain,” kata Suhaidi, Selasa, 21 April 2026.

Sejak beberapa tahun terakhir, kata Suhaidi, harga gabah kopi Gayo atau harga emas merah cendrung naik di pasaran hingga menyentuh Rp72 ribu per bambu. Hampir setiap warga yang memiliki kebun 1 hektare bisa menghasilkan uang Rp100 juta lebih setiap tahun.

“Sudah saatnya kepala keluarga masing-masing mempertimbangkan untuk menanam emas merah ini, supaya anak bisa disekolahkan ke jenjang lebih tinggi, dan kebutuhan dapur juga terpenuhi,” ujarnya.

Menanam kopi Gayo, kata Suhaidi, memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan tanamam lainnya. Selain harga semakin tinggi, masa panen juga terjadi sepanjang tahun yaitu setiap dua minggu sekali.

“Pemda Gayo Lues akan membantu bibit kopi untuk petani yang mau menanam. Kita berharap kesempatan ini benar-benar dimanfaatkan oleh warga di masa kepemimpinam kami,” katanya.

Bupati Gayo Lues yang melakukan survei ke beberapa areal perkebunan kopi melihat langsung setiap batang kopi paling kurang berbuah satu bambu gabah setiap tahun. Jika warga menanam kopi 2.000 batang, dan harga per bambu Rp60 ribu, maka penghasilan petani kopi setiap tahun mencapai Rp120 juta.

“Bagi daerah yang tidak cocok menanam kopi, Pemda juga menyediakan bibit cokelat (kakao). Kami berharap 2 hingga 3 tahun ke depan, masyarakat Gayo Lues sudah sejahtera dari hasil perkebunan kopi dan cokelat ini,” ujarnya.[]