Oleh Ustadz Ir Faizal Ardinasyah, MSI.
Disampaikan pada Ceramah Bakda Isya dan Tarawih, Sabtu, 15 Maret 2025 di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, (malam 16 Ramadhan 1446 H)
BANDA ACEH – Alquran telah hadir selama 15 abad dan tetap relevan dalam setiap era, mulai dari masa kehidupan klasik hingga era Revolusi Industri 5.0 saat ini. Seiring perkembangan zaman, semakin banyak rahasia Alquran yang terungkap, mengukuhkan kedudukannya sebagai kitab suci yang dijaga keasliannya oleh Allah SWT.
Di dunia Barat, sejumlah kelompok yang membenci Islam berusaha membakar Alquran dengan harapan dapat memusnahkan mukjizatnya. Namun, mereka keliru memahami bahwa mukjizat Alquran bukan terletak pada lembaran kertasnya, melainkan pada kandungan isinya yang tersimpan dalam hati dan jiwa kaum Muslimin.
Sejak pertama kali wahyu diturunkan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW, ayat-ayat suci ini dihafalkan, diabadikan, dan diwariskan dari generasi ke generasi oleh para penghafal Alquran (hafiz).
Allah SWT sendiri menegaskan dalam surah Al-Hijr ayat 9: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang akan menjaganya.” Kemampuan menghafal Alquran secara sempurna menjadi bukti nyata penjagaan Ilahi terhadap kitab suci ini. Upaya untuk mengubah atau memalsukan Alquran pun akan segera terdeteksi oleh para penghafalnya, sehingga keasliannya tetap terjaga sepanjang masa.
Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern
Seiring kemajuan sains, berbagai isyarat ilmiah dalam Alquran semakin terungkap. Salah satu contohnya adalah temuan jasad Firaun yang diyakini sebagai Ramses II, penguasa Mesir yang hidup sezaman dengan Nabi Musa AS. Penemuan ini membuktikan kebenaran firman Allah dalam Surah Yunus ayat 92: “Pada hari ini Kami selamatkan jasadmu (Firaun) agar engkau menjadi pelajaran bagi generasi yang datang setelahmu.”
Selain itu, Alquran juga mengisyaratkan pergerakan lempeng bumi yang baru terungkap dalam teori tektonik lempeng di era modern. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Naml ayat 88: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka diam padahal ia berjalan seperti jalannya awan.” Teori ini kini menjadi dasar ilmu geologi dalam memahami pergerakan benua, penyebab gempa bumi, serta keberadaan sumber daya mineral di berbagai wilayah.
Tidak hanya itu, Alquran juga telah mengungkap fenomena oseanografi jauh sebelum ilmu pengetahuan menemukannya. Dalam Surah Ar-Rahman ayat 19-20, Allah SWT berfirman: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui.” Fakta ini kini terbukti dalam penelitian tentang pertemuan dua lautan yang tidak bercampur, seperti yang terjadi di Selat Gibraltar antara Laut Tengah dan Samudra Atlantik.
Islam dan Sains: Peradaban Keemasan
Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-7 hingga ke-12, ilmu pengetahuan berada dalam kejayaan Islam. Para ilmuwan Muslim seperti Al-Khwarizmi dalam bidang matematika, Ibnu Sina dalam kedokteran, serta Al-Farabi dan Al-Biruni dalam filsafat dan astronomi, menjadi pionir dalam berbagai disiplin ilmu. Keberhasilan ini tidak lepas dari pengaruh Alquran yang mendorong umat Islam untuk berpikir, meneliti, dan menggali ilmu pengetahuan.
Kini, di era modern, Alquran kembali menjadi sumber inspirasi bagi para ilmuwan dan akademisi dalam berbagai bidang. Dengan semakin banyaknya fakta ilmiah yang sesuai dengan ayat-ayat Alquran, semakin jelas bahwa kitab suci ini merupakan petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Sebagai umat Muslim, bulan suci Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk kembali menguatkan hubungan dengan Alquran. Tidak hanya dengan membacanya, tetapi juga dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.[]
Rangkuman: Tgk. Marwidin Mustafa.





