Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaInspirasiTeknoCerdas dan Bijak...

Cerdas dan Bijak Berinternet, Pilah Pilih Sebelum Sebar

LHOKSUKON – Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh kembali bergulir. Pada Sabtu, 28 Agustus 2021 pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, telah dilangsungkan Webinar bertajuk “Cerdas dan Bijak Berinternet: Pilah Pilih Sebelum Sebar”.

Kegiatan masif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital. “Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama siberkreasi dan katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik,” katanya lewat diskusi virtual.

Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen mahasiswa, dosen, guru, dan pelajar, dihadiri oleh sekitar 695 peserta daring ini, hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni Nelvia Gustina, Komisioner Komisi Informasi DKI Jakarta; Sandy Karta Sasmita, M.Psi, Psikolog Klinis, Psikoterapis, Staf Pengajar, Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara; Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd., CPTNA., CPSP., CPBA, Dosen Tetap UNIMALACEH, Dosen STBA Nasional Politeknik Lhokseumawe dan IAIN Lhokseumawe; dan Muhammad Roni, S.Pd.I., M.Pd., Dosen FEB Prodi Akuntansi UNIMAL Lhokseumawe Aceh.

Wahyu Wiwoho sebagai Key Opinion Leader (KOL) dan memberikan pengalamannya. Para narasumber tersebut memperbincangkan tentang 4 pilar literasi digital, yakni Digital Culture, Digital Ethic, Digital Safety dan Digital Skill.

Baca juga: Hidup Pintar di Tengah Dunia Digital

Pada sesi pertama, Nelvia Gustina menyampaikan warganet berwawasan kebangsaan bukan hanya menghafal Pancasila, jumlah suku, Bahasa, agama dan data geografis lainnya meliputi netizen berintegritas, dan berwawasan kebangsaan, mengenal hoaks, melawan netizen pejuang. Memahami multikulturalisme di dunia digital kesadaran untuk menerima adanya perbedaan lain dan juga mengakui keadaan minoritas di sebuah kultur.

Giliran pembicara kedua, Sandy Karta Sasmita, M.Psi mengatakan antara stimulus dan respon terdapat 1 space, disitulah keputusan diambil. Cara mengambil keputusan adalah : Buatlah keputusan kumpulkan saat sedang fokus, kumpulkan fakta sebanyak-banyaknya, terbaik untuk segala kemungkinan, apa dampak positif maupun negatif dari keputusan yang diambil, apakan ada manfaat bagi orang lain.

Tampil sebagai pembicara ketiga, Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd menjelaskan cara yang dapat dilakukan pengguna yang positif dan aman adalah 1) Smart, pilih informasi yang akan disebar; 2) Alert, jangan mudah percaya berita yang tidak masuk akal; 3) Strong, gunakan password yang sulit; 4) Kind, tinggalkan jejak digital yang positif; 5) Talk, konsultasikan apabila menerima informasi yang menyebabkan tidak aman dan nyaman.

Pembicara keempat, Muhammad Roni, S.Pd.I., M.Pd menuturkan jangan men-share ke media sosial seperti alamat rumah dan sekolah, nomor HP, geolokasi terkini, foto/video pribadi, mengkompromikan foto orang lain, foto bayi, foto barang mewah, informasi pribadi, pernyataan kritis tentang topik sensitif.

Wahyu Wiwoho selaku Key Opinion Leader menyampaikan ketika ingin men-share foto, kata-kata harus selektif dan diseleksi, apa menyinggung orang lain atau tidak, mengganggu ruang privasi atau tidak. Mempertimbangkan dan memikirkan orang lain sebelum men-share.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Seperti Muhammad Rezki yang bertanya bagaimana kita menjaga dan mengedukasikan hal yang lebih positif kepada masyarakat kita?

Narasumber Sandy Karta Sasmita, M.Psi menanggapi seseorang membuat konten yang negatif untuk terkenal adalah hak orang tersebut, karena kita tidak punya kuasa untuk mengatur orang lain. Kita membuat konten positif dan bermanfaat untuk orang lain untuk mengcounter konten negatif dan tidak melanggar hukum demi kenyamanan orang lain terjaga.

Webinar ini merupakan satu dari rangkaian webinar yang diselenggarakan di Kabupaten Aceh Utara. Masyarakat diharapkan dapat hadir pada webinar-webinar yang akan datang.[](ril/*)

Baca juga: