Kapten Let Pande dan pasukannya menurunkan barang-barang dari perahu dan menaikkannya ke gerobak kuda. Saat memerintahkan mereka, Kapten Let Pande harus bersuara lantang, melawan suara ombak dan suara tabuhan rapai beserta selawat yang mulai dialunkan.
Ada belasan meriam, puluhan kotak serbuk mesiu, ratusan batang besi dan kuningan, ratusan helai kain sulaman dan permadani, puluhan cawan wewangian, ratusan karung gandum dan kurma, serta ratusan buku. Barang-barang dari Istanbul pun berpindah tempat. Kapten Let Pande dan pasukannya mengangkut barang-barang itu dengan gerobak kuda yang mengekor di belakang puluhan utusan Sultan Aceh yang baru sampai bersama puluhan utusan Sultan Turki Usmaniyah.
Rombongan yang baru tiba itu disambut oleh Laksamana Kesultanan secara adat dan diantar ke istana, diiringi suara tabuhan rapai dan selawat, menggema ke seluruh kota dan mengapung ke angkasa. Sesampai di istana, Sultan Aceh menyambut mereka seperti rombongan pemenang perang yang baru menghancurkan tentara Portugis di Melaka.
“Kapten Let Pande. Besi dan tembaga ini katanya untuk bahan meriam. Benarkah?” Keurani Tapa membisiki Kapten Let Pande.
“Bukankah engkau yang juru tulis, mengapa bertanya padaku?”
“Terserah Kapten sajalah.”
“Engkau cerdas juga.”
Mereka pun tertawa.
“Benar. Kudengar, itu bahan untuk membuat senjata. Sultan Turki juga mengutus ahli senjata bersama rombogan itu. Mereka akan mengajarkan tentara penyimpan alat bantuan untuk membuatnya,” kata Adib yang menarik gerobak bahan mesiu.
“Membuat meriam, bukankah itu tugas utoh?—seniman ahli—kita hanya tentara,” Kapten Let Pande membelalaki Adib.
Rombongan tiba di alun-alun istana. Sultan Aceh menyambutnya dan mempersilakan ke balairung di bagian timur istana.
Syah Bandar mengambil alih barang yang dibawa oleh Kapten Let Pande dan pasukan, kemudian menyerahkannya kepada kepala penjaga istana.
“Komandan, benarkah kami harus belajar membuat senjata gaya Turki?” Kapten Let Pande menghadang Syah Bandar.
Syah Bandar mengangguk seraya berlalu dan bergabung dengan rombongan di hadapan Sultan Aceh.
Kapten Let Pande melihat Keurani Tapa dan Adib seraya mengangkat bahu dan berlalu.[]
… Bersambung ke Episode 2






