“Kapten. Makan malam ini, berlauk ikan tuna bakar, bukan makanan yang sudah dijemur dan dikeringkan,” teriak Adib, lalu memanggil tentara yang bertugas sebagai juru masak.

“Kapten, kita baru saja memenangkan perang, tetapi mengapa engkau terlihat gundah. Apakah gerangan?” Keurani Tapa mendekati Kapten Let Pande yang menopang dagu di dinding kapal.

“Entahlah. Aku sudah dua kali bertempur dengan Portugis, dalam kedua-dua pertempuran itu, Allah memberikanku kemenangan yang terlalu mudah. Aku merasa, perang ini tidak menarik lagi, tidak sesuai untukku,” Kapten Let Pande menatap gelombang air yang menghantam dinding kapal.

“Ini perang fi sabilillah, jihad, Kapten,” Keurani Tapa menatap Kapten Let Pande.

“Aku tahu itu. Akan tetapi, harus ada yang mengambil perang dalam ilmu pengeatahuan, menjadi ahli ilmu, seperti siasah, sastra, astronomi, filsafat, ekonomi, dan sebagainya.”

“Kapten, engkau diberikan kelebihan dalam berperang, bantulah Angkatan Perang Aceh.”

“Untuk membantu perang, aku melatih tentara saja, sementara keseharianku sebagai masyarakat biasa. Akan tetapi, apabila ada perang yang mendeasak seperti perang hari ini, aku akan ikut,” Kapten Let Pande menghela nafas dalam-dalam.

“Bawalah aku bersamamu,” Keurani Tapa berdiri memberi hormat.

“Bawalah aku juga, Kapten,” teriak Adib yang baru selesai menggulung benang kail.

***

Setelah sepekan menguasai Melaka kembali, Sultan Aceh menghukum Raja Melaka yang membantu Portugis memerangi Aceh. Sultan Aceh mencabut kedudukan raja orang itu, kemudian dia dipindahkan ke Pulau Rupat. Bekas raja Melaka itu hanya diizinkan membawa beberapa pengawal pribadinya. Sultan Aceh menaikkan seorang bangsawan lain di Melaka sebagai raja baru. Dia orang yang setia kepada Sultan Aceh dan menentang raja Melaka yang dimakzulkan saat membantu Portugis.

“Kapten, kami mendapat kabar, pekan ini, Paduka Yang Mulia Sultan Aceh akan memerintahkan pulang semua pasukan,” kata Keurani Tapa.[]

… Bersambung ke Episode 11
Baca Episode 9