Saat pasukan perang Sultan Aceh berlayar di Selat Melaka, sesekali melintas kapal barang dan pengangkut orang dari Persia, Yaman, India, Sunda, Jawa, Bugis, dan Sulu. Dalam pelayaran, mereka selalu singgah di Pulau Weh, untuk mengisi persediaan air bersih.

“Kapten Let Pande. Sekiranya ada tentara yang syahid dalam peperangan, akankah dibawa pulang untuk dikebumikan atau bagaimana?” Adib menyerahkan teropong.

“Tidak cukup waktu untuk dibawa pulang,” Keurani Tapa merebut teropong sebelum sampai di tangan Kapten Let Pande.

“Lalu, apakah dilemparkan ke laut?” Adib menarik teropong cepat-cepat.

“Akan dikuburkan di pangkalan militer darurat kita, di Pulau Rupat. Kudengar, karena telah beberapa kali tentara Aceh yang syahid saat menyerang Portugis di Melaka dikuburkan di sana, masyarakat setempat menyebut wilayah itu dengan nama Kubu, sebagaimana orang Aceh menyebutnya,” Kapten Let Pande mengambil teropong dan memasukkan ke kantung celananya.

“Lihat, alhamdulillah, dapat!” teriak Adib seraya menarik sehelai benang yang merentang ke laut.

“Adib, engkau memancing dalam kapal perang?” Keurani Tapa mengerutkan dahi.
“Apa salahnya. Lihat, ini tuna yang besar. Kapten, kita punya ikan segar hari ini, bukan hanya ikan dan daging yang sudah diawetkan dengan api dan matahari,” Adip melepaskan seekor ikan tuna sebesar betis orang dewasa dari mata pancing.

“Itu cukup untuk kita bertiga. Kamu sempat juga membawa pancing. Makanan pancingannya apa?” Kapten Let Pande membolak-balik ikan dari tangan Adib.
“Seiris dendeng.”[]

… Bersambung ke Episode 9
Baca Episode 7