LHOKSEUMAWE – Mahasiswa program magister (S2) Institut Pertanian Bogor (IPB), Zulfikar Mulieng bersama petani melakukan panen perdana padi varietas IPB 3S di Gampong Tanjong Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, Rabu, 13 Juli 2016.
Zulfikar Mulieng melalui keterangannya diterima portalsatu.com menjelaskan, padi (nama ilmiah: Oriza Sativa) varietas IPB 3S telah dirilis sejak tahun 2012. Sampai saat ini, kata dia, proses pengembangan padi tersebut terus dilakukan. Bahkan seringkali dosen, mahasiswa, pihak pemerintah maupun swasta, kelompok tani, maupun masyarakat mulai melakukan penelitian terhadap padi jenis unggul ini, termasuk Zulfikar Mulieng sendiri.
Ia merupakan alumnus Fakultas Pertanian Unimal yang saat ini sedang menyelesaikan program magister di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) Jurusan Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) IPB.
Budidaya IPB 3S ini dilakukan di Gampong Tanjong Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara. Ini adalah sebagai bentuk penyampaian inovasi baru kepada petani melalui pesan komunikasi secara langsung bagi para petani yang ada di sekitar domisili saya, ujar Zulfikar Mulieng.
Zulfikar berharap dengan adanya uji coba ini dapat terdeseminasikan varietas IPB 3S kepada petani di Kecamatan Syamtalira Aron khususnya dan Aceh Utara umumnya. Semoga bisa diadopsi oleh petani, karena varietas baru IPB 3S ini sangat bagus bisa meningkatkan hasil lebih dibandingkan dengan varietas biasa yang saat ini dibudiaya oleh petani dan efisien dalam budidaya, sehingga meningkatkan pendapatan petani, katanya.
Menurut Zulfikar, apa yang ia lakukan itu bentuk pengabdian saya selaku mahasiswa kepada masyarakat dan pembuktian kepada seluruh petani Indonesia tentang kebenaran dan keunggulan bibit padi IPB 3S mampu meningkatkan kualiatas dan kuantitas. Karena tugas kita semua untuk menyebarluaskan ilmu yang sudah ada supaya ilmu yang sudah didapatkan bisa aplikatif dan langsung berdampak kepada masyarakat bawah.
Petani dan masyarakat kita sudah cukup cerdas, tidak butuh janji, tetapi butuh aksi. Butuh teori tetapi juga perlu bukti. Tidak hanya bicara tapi butuh aksi nyata. Tidak cukup dengan teori saja tapi juga butuh aplikatif di dunia nyata, ujar Zulfikar.
Zulfikar mengajak para petani untuk memulai menanam padi dengan mencoba varietas padi unggul IPB 3S yang tidak kalah bagusnya dengan varietas padi lain. Bagi para petani yang ingin mencoba menanam varietas ini saya siap memfasilitasi untuk pengiriman bibit langsung dari Bogor, kata Ketua Mahasiswa Pascasarjana Aceh di Bogor (IKAMAPA Bogor).
Tentang IPB 3S
Zulfikar menjelaskan, padi varietas IPB 3S mempunyai makna bahwa IPB adalah kampus yang menaungi proses penelitian dan pengembangan varietas tersebut. Sementara itu, 3S menandakan varietas ketiga yang dirilis, dan kode huruf “S” bermakna “sawah”.
Hingga saat ini, kata Zulfikar, padi IPB 3S mampu menghasilkan produktivitas sebesar 8,5 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG) atau lebih tinggi 3 ton dari rata-rata produksi umumnya yaitu 5-6 ton/GKG. Produktivitas Varietas IPB 3S masih bisa maksimal walaupun di tengah tantangan anomaly cuaca sepertinya adaya El-nino di musim kemarau karena tidak membutuhkan air yang terlalu banyak, sehingga masih bisa bertahan dalam kondisi cuaca yang seperti ini, katanya.
Selain itu, Zulfikar melanjutkan, varietas IPB 3S juga bisa menghemat penggunaan pupuk Nitrogen sebanyak 20%. Varietas padi IPB 3S ditemukan oleh Dr. Hajrial Aswidinnoor.
Padi jenis IPB 3S ini mempunyai ciri-ciri khas dan keunggulan, yaitu: Pertama, umur tanaman genjah sekitar 112 hari. Keunggulan dari padi varietas IPB 3S adalah umurnya lebih genjah (pendek) dibandingkan varietas biasa seperti Ciherang. Umur varietas padi ini adalah 112 hari. Selain itu batang tanamannya lebih besar dan nampak lebih segar. Apabila dilihat padi IPB 3S ini memiliki postur perawakan tubuh yang lebih tinggi daripada varietas padi pada umumnya.
Kedua, tanaman tahan terhadap Kekeringan. Padi dengan varietas IPB 3S ini termasuk jenis padi yang tidak manja. Pada beberapa jenis lahan seperti lahan tadah hujan, padi jenis ini mampu beradaptasi dengan baik pada lahan yang sedikit/semi basah. Bahkan hingga lahan yang terlalu kering akibat musim kemarau yang terlalu panjang. Sifat dari padi IPB 3S ini tidak terlalu membutuhkan banyak air. Air yang ada dilahan tanam tidak perlu banyak cukup macak-macak (basah) saja, jadi tidak perlu selalu digenangi oleh banyak air. Sebaiknya untuk menanam padi IPB 3S dilakukan diawal musim penghujan menuju musim kemarau supaya potensi hasil panen menjadi tinggi.
Ketiga, potensi hasil panen sangat tinggi. Varietas padi lain dalam sekali panen rata-rata hanya mencapai 5-6 ton/ha lahan, akan tetapi berbeda dengan varietas padi IPB 3S ini dalam satu kali panen perdana mampu memproduksi gabah kering sebanyak 11,2 – 13,4 ton/ha lahan, dengan rata-rata hasil panen capai 8.5 ton/ha lahan. Proses perawatan dan penanaman yang benar tentu menjadi kunci sukses dalam mencapai hasil panen yang tinggi tersebut. Kunci agar potensi panen padi IPB 3S adalah menanam 3-4 benih tiap satu lubang tanam, serta proses perawatan tanaman dan pemupukan yang tepat.
Keempat, tahan terhadap penyakit tungro dan serangan hawar daun bakteri patotipe III. Untuk menyiasati tanaman padi IPB 3S agar tidak terserang hama dan penyakit pada tanaman, maka para petani dapat menempuh cara yaitu melalukan pemupukan yang berimbang, serta pengendalian hama dan penyakit secara terarah. Penyakit tungro umumnya disebabkan oleh dua jenis virus yang berbeda yaitu virus berbentuk batang Rice tungro bacilliform virus dan virus berbentuk bulat yakni Rice tungro spherical virus. Penyakit tungro ini juga terbukti mampu menghambat laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi, sehingga tak heran apabila banyak pada yang terserang penyakit tungro kemudian memiliki postur tubuh yang kerdil, serta pertumbuhan tanaman padi yang tidak serempak. Atau dapat dikatakan bahwa, penyakit tungro ini kerap menyerang tanaman yang masih dalam tahap pertumbuhan vegetatif.
Kelima, padi varietas IPB 3S cocok ditanam di berbagai jenis lahan. Padi IPB 3S ini sangat bagus dibudidaya untuk para petani di dalam negeri. Padi varietas ini sangat cocok ditanam pada berbagai jenis lahan termasuk dilahan-lahan irigasi, tanah gambut berawa, lahan persawahan, dan lahan tadah hujan. Sementara itu, untuk syarat tumbuh dari padi ini adalah pada ketinggian lahan mulai dari 0 – 600 meter di bawah permukaan air laut.
Keenam, bentuk gabah agak medium (gendut). Pada umumnya bentuk gabah pada padi jenis lain adalah langsing-langsing, namun untuk jenis padi varietas IPB 3S memiliki bentuk gabah agak medium (gendut). Terlihat bahwa gabahnya memiliki bobot yang cukup ideal, sehingga jelaslah bahwa produktivitas hasil pertanian padi dapat ditingkat hanya dengan mencoba membudidaya padi IPB 3S ini.
Ketujuh, jumlah gabah permalai di atas 300 butir. Umumnya pada ditanam pendek-pendek, anakan padinya banyak, akan tetapi malai atau sekumpulan bunga padinya hanya kisaran 160 – 200 buah. Dan untuk padi IPB 3S ini sendiri bisa satu tangkai berisi 300 – 400 butir malai. Bobot bulir padi lebih berat yakni 28 gram untuk tiap 1.000 biji, sedangkan pada pada umumnya hanya memiliki berat bulir sebanyak 26 gram tiap 1.000 biji.
Kedelapan, tekstur nasi pulen. Tekstur nasi dari varietas padi IPB 3S adalah pulen, jadi masyarakat yang sudah mencoba memasaknya mengatakan katanya nasinya lebih enak daripada ciherang. Kadar amilosa yang terkandung di dalam bulir beras ini juga sangat manis, sehingga disukai masyarakat.[] (rel)





