Energik dan kreatif. Itulah modal dasar yang dimiliki dua pemuda ini. Keduanya menaklukkan gelombang dan berhasil mengarungi samudra steemit. Menulis artikel tentang sains secara rutin di media sosial ini, keduanya kemudian meraup ratusan juta Rupiah sebagai imbalan atas hasil kerja keras mereka yang telah melahirkan karya nyata.

Dua pemuda yang meraih kesuksesan dalam waktu singkat itu adalah Fazir Ramli atau @azirgraff dan Fakhrurrazi atau @kharrazi. Kedua pemuda Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Indonesia, ini sudah lama berteman akrab. Usia keduanya pun lebih kurang sama: 30 tahun. Fazir merupakan sarjana pertanian, dan Kharrazi sarjana teknik (arsitektur). Keduanya meraih gelar sarjana itu di universitas yang sama: Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.  

Fazir masih lajang. Dia memilih hidup mandiri dengan menjadi pengusaha muda sejak lima tahun lalu. Dia juga bergabung dengan komunitas jurnalis di Lhokseumawe sejak tiga tahun lalu. Sementara itu, Kharrazi saat ini memiliki dua anak. Dia berprofesi sebagai konsultan independen.

Keduanya kemudian semakin sukses setelah bergabung dengan steemit. Mereka resmi bergabung dengan steemit saat usia media sosial ini belum sampai setahun. Kesuksesan diraih lewat platform ini membuat Fazir dan Kharrazi kini memiliki teman baru dengan jumlah berlipat ganda.

“(Memiliki banyak teman baru) tidak hanya di steemit, tapi juga di alam nyata, khususnya di Lhokseumawe, Aceh,” kata Fazir kepada saya, 15 Februari 2018, sore. 

Bagaimana mereka mengenal steemit?

Berawal dari sebuah pertemuan dengan peneliti tentang kelautan dan juga peminat kajian sejarah, Malikussaleh akrab disapa Tgk. Saleh atau @curiesea, di sebuah warung kopi di Lhokseumawe pada Juli 2017, Fazir kemudian bergabung dengan steemit. Tgk. Saleh yang bergabung dengan platform ini sejak September 2016, tidak butuh waktu lama untuk meyakinkan Fazir agar ikut mengarungi samudra steemit.

Maklum, Fazir sudah lama berteman dengan Tgk. Saleh, jauh sebelum steemit lahir untuk mewarnai jagat teknologi informasi. “Saya berteman dengan Tgk. Saleh sudah lebih tiga tahun. Di steemit, dia adalah guru saya. Saya kemudian juga berguru kepada Bang Irfan M. Nur atau @vannour untuk lebih maksimal mendalami tentang media sosial ini,” kata Fazir.

Sedangkan Kharrazi bergabung di steemit pada 9 Juli 2017. Dia juga menganggap Tgk. Saleh sebagai guru. “@curiesea (Tgk. Saleh) adalah partner dan juga guru bagi saya di steemit. Ia banyak memberikan berbagai pengetahuan tentang cryptocurrency, blockchain dan terus memberi dukungan kepada saya. Saya tahu bahwa Tgk. Saleh juga banyak membantu pengguna baru di steemit. Saya salut terhadap beliau,” kata Kharrazi kepada saya, 15 Februari 2018, malam.

Apa tema yang paling banyak mereka tulis di steemit?

Fazir dan Kharrazi mengaku, sebagian besar artikel yang mereka tulis di steemit tentang sains.

Sejak bergabung dengan steemit pada Juli 2017, Fazir atau @azirgraff sampai saat ini sudah melahirkan 1.331 postingan, dan memiliki 2.455 pengikut (followers). Sementara @kharrazi memproduksi 1.502 postingan, dan mempunyai 1.046 followers.

Apa kunci sukses mereka di steemit?

Fazir mengatakan bahwa menjadi steemian harus kreatif dan punya keahlian. “Kemudian harus mampu menguasai pasar cryptocurrency,” kata dia.

Steemit adalah media sosial yang mengajak setiap orang untuk berkarya, dan hasil karyanya dihargai dengan pendapatan yang menjanjikan,” kata Fazir lagi.

Terkait kunci sukses, Kharrazi mengatakan, “Jangan terlalu bangga dengan apa yang kita miliki, karena dalam ekosistem steemit kita bukanlah siapa-siapa”.

“Terus jalin hubungan dengan teman-teman di luar Indonesia. Dan hal yang paling utama lainnya adalah jangan batasi diri Anda untuk berkembang,” kata Kharrazi.

Apa pesan/saran mereka kepada para steemian pemula yang saat ini tumbuh bak jamur?

Fazir berharap, para steemian pemula terus berkarya dan tidak mudah menyerah. Jika steemian pemula merasa mengalami kendala, dia bersedia membimbing dengan catatan bukan semata-mata karena berharap upvote darinya. “Jika hasil karya Anda berkualitas tentu akan mendapatkan reward,” kata dia.

Kharazi menyarankan kepada steemian pemula, “Merdekalah dan jangan menyerah. Reward hanyalah pemanis untuk kita tetap bertahan. Jika Anda merasa karya Anda tidak mendapat reward yang layak, maka mengapa Anda tidak mengeluh saat Anda menulis di media sosial lain yang jelas tidak memberi Anda reward“.

Keduanya adalah sang guru

Setelah sukses di steemit, Fazir dan Kharrazi tidak mengurung diri di rumah. Keduanya “mengembara” siang dan malam untuk menjumpai teman-teman mereka. Dari satu warung kopi ke warung kopi lainnya di Lhokseumawe.

Selain menjadi guru saya, Fazir dan Kharrazi dalam beberapa bulan terakhir ini juga menjadi guru bagi banyak steemian pemula, terutama di Lhokseumawe. Kedua pemuda yang sudah meraih sukses itu dengan penuh kesabaran membimbing dan mendukung para steemian pemula dalam platform ini.

Versi bahasa Inggris baca Story of Two Aceh Youths in Steemit.[]