BANDA ACEH – Semarak hiruk pikuk Ramadan yang ditandai dengan bunyi sirine saat berbuka dan sahur, jajanan takjil yang melimpah, hingga perayaan Idul Fitri yang meriah di Aceh adalah hal yang paling dirindukan warga Aceh yang berada di luar negeri. Hal itu juga dirasakan Linardin, seorang pemuda Aceh yang kini magang di Jepang.
Linardin bercerita tentang suasana Ramadan dan lebaran di Jepang yang sangat berbeda dengan tanah kelahirannya. Tak ada suara yang terdengar dari toa mesjid untuk membangunkan warga saat sahur, begitu juga saat imsak. Namun ia berinisiatif jika cepat bangun saat sahur, ia membangunkan teman-temannya untuk santap sahur.
“Begitu juga saat berbuka, tak ada jajanan takjil, tak ada tanda yang diberikan dari pengeras suara meajid yang memberitahukan waktunya berbuka suasana saat menyambut saat berbuka tidaklah meriah seperti di tanah air,” ujar Linardin, Rabu, 6 Juli 2016.
Pelaksanaan tarawih juga tidak seistimewa di Aceh. Mesjid tempat ia melaksanakan tarawih juga berada di kalangan warga Jepang yang umumnya penganut Shinto dan Budha, sehingga harus sama-sama menghargai. Umat Islam adalah minoritas di negeri berjuluk Matahari Terbit itu.
Menariknya kata dia, toleransi masyarakat Jepang pada penganut agama lain sangat tinggi. Institusi negara maupun penduduknya sangat menghargai dan memberikan kebebasan bagi umat Islam di sana untuk beribadah Ramadan.
Meski begitu bukanlah tidak ada tantangan, yaitu faktor cuaca dan lingkungan yang berbeda dengan di Indonesia. “Sehingga membuat kita merasa lebih berat melakukannya dan juga waktunya agak sedikit panjang dari mulai imsak pukul 02:35 dan berbuka pukul 19:10 kira-kira sekitar 16 jam dengan cuaca yang sangat panas.”
Berbeda dengan Indonesia, Jepang adalah negara yang mempunyai empat musim yaitu musim semi (spring), panas, (summer), gugur (fall) dan dingin (winter). Pada musim dingin, siang lebih pendek dibandingkan malam, sedangkan pada musim panas sebaliknya siang akan lebih lama dibandingkan malam hari.
“Barangkali musim panas inilah tantangan terberat yang sering dikeluhkan oleh teman-teman Indonesia yang sedang berpuasa, alasan utamanya ialah suhu musim panas bisa jadi lebih rendah dibandingkan Indonesia, yaitu berkisar 33-36oC pada siang hari, tetapi musim panas di Jepang terasa lebih panas dan badan sering lengket disebabkan kelembapan yang tinggi. Untuk membayangkan kondisi cuaca yang menyebabkan badan lengket ini mirip seperti di Indonesia pada situasi saat akan turun hujan, hujannya tidak turun-turun tetapi temperatur sudah sangat tinggi.”
Di hari raya, pagi-pagi ia dan rekannya sudah bergegas pergi ke Koryu Center, yaitu tempat yang disediakan komunitas Islam di Jepang untuk melaksanakan salat Id. Lokasinya yang jauh membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari tempatnya tinggal. Menuju ke sana harus naik kereta api listrik.
“Kami naik Meitetsu Line dari Inuyama Stasiun menuju ke Nagoya Stasiun sekitar 1 jam dan akan berganti ke JR Line menggunakan AONAMI JR LINE Nagoya Station menuju KINJO-FUTO STATION kira-kira 30 menit dan tiba di salah satu gedung yang telah disediakan,” kata Nardi.
Tiba di gedung, suasana hari raya terasa sangat kental. Suara takbir menggema dan membuat merinding, rindu pada kampung halaman pun terobati.
“Banyak muslim dari berbagai negara berkumpul di sini, bermaaf-maafan, bercerita, dan bersenda gurau,” tambahnya.
Linardin adalah pemagang asal Aceh angkatan 260. Anak muda ini berasal dari Manggeng, Aceh Barat Daya. “Saya menyampaikan salam kepada keluarga dan teman-teman di Abdya,” katanya di akhir cerita.[](ihn)
Laporan Ramadhan





