BerandaNews Panglima

[CERPEN] Panglima

Populer

ADALAH dia seorang pemuda yang zuhud lagi penyayang kepada sesama insan, pun kepada sekalian binatang dan segala makhluk.

Pada suatu tahun, ketika ia masih muda remaja, terjadilah perang yang tidak mungkin dihindari di negerinya. Kampungnya pun ikut tertiup angin perang. Orang-orang demam pada nasionalisme baru, yang sebelumnya tidak pernah diketahui akan keberadaannya.

Namanya ialah Rahman. Akan tetapi, lidah Aceh yang  payah mengucap huruf ‘h’ pada tengah kata, menjadikan namanya sebagai Raman, tanpa huruf ‘h’ di antara huruf ‘a’ awal dan haruf ‘m’. Demikianlah namanya yang dulu sampai kala itu.

Angin perang yang menghembus itu menghempaskan Rahman dari pekerjaannya, seorang guru bantu di kampung. Anak-anak tidak bisa lagi mengaji di malam hari. Rahman pun dihempaskan oleh angin laut ke gunung.

Bulan berganti tahun. Dulu ia yang mengurus anak-anak, kini mengurus para pemuda yang memanggul senjata. Ia menerjang pertempuran-pertempuran, dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya. Orang-orang di dalam pimpinannya pergi satu persatu, tapi ia masih selamat.

Orang-orang datang dan pergi. Rahman akhirnya diangkat menjadi panglima, dan ia masih pada tebing-tebing perang.

Sampai pada satu tahun yang sebelumnya tidak pernah diduga akan ketibaannya, datanglah kabar dari benua utara, bahwasanya perang sudah usai. Tidak ada lagi negara di atas negara. Hanya ada satu negara.

Sebagaimana angin laut menghempaskannya ke gunung, kini angin gunung menghempaskannya ke pesisir. Namun, ketika angin reda, anak-anak yang dulu tidak ada lagi. Ia tidak bisa kembali menjadi guru.

Sebagaimana angin telah mengehampaskannya dari dari dataran rendah ke gunung dan dari gunung ke pesisir, kini angin pula yang menghempaskannya ke dalam pemerintahan. Ia pun menjadi penjabat pemerintahan negara yang sah, yang sempat dimusuhinya.

Di sini segalanya berubah. Kebenaran tidak bisa ia katakan sepenuhnya. Hak milik orang banyak, tidak lagi menjadi hak milik orang banyak. Ia tidak pernah takut menghadapi pertempuran-pertempuran dulu. Namun, menghadapi pembalikan kebenaran membuatnya tidak berdaya. Ia bukan seperti kawan-kawannya bermesraan dengan kenyataan yang berlawanan dengan agama dan doktrin manapun.

Akhirnya, Rahman yang dulu ialah guru dan panglima pun undur diri dari pemerintahan. Ia berpikir, mungkin akan datang angin yang tidak sekedar menghembus, akan tetapi menjadi badai yang sebenarnya. Mungkin, atau boleh pula tidak pernah ada lagi.[]

Banda Aceh, 5 Januari 2018.

Penulis: Thayeb Loh Angen

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya