Jejak itu masih ada, namun rumahnya sudah tiada. Di Dusun Kaye Jatoe, Desa Bale Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh, yang tersisa hanyalah potongan fondasi semen yang mencuat kaku di tengah hamparan pasir dan kerikil. Selebihnya telah menjadi bagian dari sungai.
Banjir bandang Krueng Peusangan yang menerjang pada akhir November 2025 lalu bukan sekadar fenomena alam biasa. Bagi warga di sepanjang bantarannya, itu adalah kiamat kecil yang menghapus peta pemukiman mereka dari sejarah, menyisakan trauma yang mengalir sedalam palung sungai.
Peta yang Terhapus dan Rumah Ibadah yang Terkoyak
Dusun Kaye Jatoe kini tak lagi menyerupai perkampungan. Bentang alamnya berubah total menjadi hamparan sungai yang meluas. Keuchik Bale Panah, Mutasar, menatap kosong ke arah arus air saat ditemui portalsatu.com, Senin, 7 April 2026.
“Lima puluh sembilan rumah warga kami hanyut. Tidak bersisa,” ungkap Mutasar lirih. Bukan hanya bangunan, tanah seluas 500 hektare di desa itu raib, berubah menjadi sempadan sungai yang gersang. Warga yang dulu memiliki halaman, kini harus menyambung hidup di rumah sewa atau menumpang di rumah kerabat.

[Kondisi Dusun Kaye Jatoe, Desa Bale Panah, Juli, Bireuen, yang direkam pada Jumat, 24 April 2026. Pemukiman warga kini telah berubah menjadi alur sungai. Foto: Istimewa/untuk portalsatu]
Tragedi serupa membayangi Desa Salah Sirong Jaya di Kecamatan Jeumpa, Bireuen. Di sana, 43 unit rumah hilang ditelan bumi. Bahkan, Tempat Pemakaman Umum (TPU) pun tak luput dari gerusan air.
Pemandangan paling menyayat hati terlihat pada bangunan rumah ibadah di desa tersebut. Separuh bangunannya telah runtuh, menampakkan tulang-tulang beton yang patah, sementara arus sungai terus mengintip tepat di bawah pondasi yang tersisa. Kehancuran bangunan suci ini seakan menjadi pesan bisu bahwa alam tak lagi mampu membendung beban yang diberikan manusia.
Lumpur yang Mengubur Dapur
Dampak bencana ini merambat hingga ke sektor vital: perut warga. Data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Bireuen yang diperoleh melalui Kasi Produksi, Deddi Suryadi, S.P., Selasa, 8 April 2026, mencatat angka yang mengerikan. Sebanyak 3.954 hektare lebih area sawah rusak.
“Sekitar 1.335 hektare masuk kategori rusak berat karena tertimbun lumpur pekat,” jelas Deddi.
Di Desa Blang Mee, Kecamatan Kuta Blang, Bireuen, lumpur sisa banjir setinggi 50 cm masih mendekam di atas 53 hektare sawah. Ferizal, Keuchik setempat, menyatakan bahwa 100 persen warganya adalah korban.
“Kami kehilangan mata pencaharian. Sawah tidak bisa digarap, saluran air hancur, sumber air pun hilang,” kata Ferizal, ditemui pada Senin, 7 April 2026. Petani yang dulu mandiri, kini terpaksa menjadi penonton di atas lahan mereka sendiri yang berubah jadi rawa lumpur cokelat pekat.
Sawah di Desa Pante Baroe Kumbang, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, juga terdampak. “80 hektare area pertanian terdampak banjir,” ungkap Marwan, Keuchik setempat.
Alarm dari Hutan yang “Sakit”
Mengapa Krueng Peusangan begitu murka? Jika pemerintah menyebut ini sebagai bencana hidrometeorologi, para aktivis lingkungan melihat ada “tangan manusia” yang memicu bencana ekologis ini.
Afifuddin, Ketua Divisi Advokasi Walhi Aceh, membeberkan fakta pahit. Kerusakan bentang alam Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan telah mencapai titik kritis 74 persen bahkan sebelum banjir itu datang.
“Pada 2023, 185 hektare tutupan hutan hilang. Tahun 2025, angka itu melonjak jadi 245 hektare,” tegasnya pada Kamis, 9 April 2026.
Investigasi Walhi menemukan adanya indikasi pelanggaran hukum di jantung DAS. Konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) seluas seribu hektare di Bireuen diduga kuat telah bersalin rupa menjadi perkebunan sawit. Hampir seluruh Hak Guna Usaha (HGU) di Bireuen bersentuhan langsung dengan DAS Peusangan, mempercepat laju air menuju pemukiman saat hujan turun.
Menunggu “Kiamat” Susulan

[Hamparan sawah di Desa Cot Ara, Kuta Blang, Bireuen, yang terkubur lumpur sisa banjir bandang, direkam Desember 2025. Foto: Istimewa/untuk portalsatu]
Empat bulan telah berlalu, namun trauma belum pulih. Di Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan dan Desa Blang Panjoe, Kecamatan Kuta Blang, warga tidur dengan satu mata terbuka setiap kali hujan turun. Bantaran sungai yang jebol sepanjang 1,5 kilometer di Blang Panjoe telah menciptakan aliran sungai baru yang mengarah tepat ke pemukiman.
Sekretaris Desa Blang Panjoe, Asnawi, menyebutkan bahwa 15 hektare perkebunan warga juga ikut tergerus aliran baru ini. Penanganan darurat di beberapa titik seperti Desa Cot Ara dan Babah Suak, Kecamatan Kuta Blang, ibarat menambal bendungan raksasa dengan plester luka—rapuh dan sewaktu-waktu bisa jebol kembali.
Krueng Peusangan kini bukan lagi sekadar aliran air yang memberi kehidupan, melainkan ancaman nyata yang mengintai dari balik rimbunnya sawit yang menggantikan hutan. Tanpa pemulihan DAS yang serius dan penegakan hukum terhadap “manusia serakah”, warga Bireuen hanya tinggal menunggu waktu sampai sungai benar-benar menagih sisa ruangnya.[]
Baca juga: Sungai Peusangan: Dari Nadi Kehidupan Menjadi Monster yang Menghantui
Liputan ini mendapat dukungan AJI Indonesia








