Selama berabad-abad, Sungai Peusangan adalah urat nadi. Mengalir dari jernihnya Danau Lut Tawar di dataran tinggi Gayo, ia melintasi Aceh Tengah, Bener Meriah, hingga bermuara di Bireuen dan Aceh Utara. Bagi 1,5 juta jiwa, sungai ini adalah tumpuan: penyedia air bersih, pengairan sawah, hingga penghasil material pembangunan berkualitas tinggi.

Namun, pada Rabu fajar, 26 November 2025, kesetiaan sungai itu patah. Nadi kehidupan itu bersalin rupa menjadi monster yang menakutkan, menyisakan trauma mendalam dan kehancuran infrastruktur yang masif.

Malam Kelam dan Gemuruh yang Memecah Sunyi

Malam itu, hujan turun dengan intensitas yang tak masuk akal. Daya dukung lingkungan yang kian merapuh membuat Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan tak lagi mampu menampung amarah air.

Di Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Sayed Chairul Raziq sudah merasakan firasat buruk sejak pukul 03.00 WIB. Saat warga lain terlelap, ia berdiri di tepi bantaran sungai di belakang rumahnya. Air sudah sejajar dengan daratan.

“Suara gemuruhnya memecah keheningan malam. Saya merasakan sesuatu yang tidak beres,” kenang Sayed saat ditemui portalsatu.com, Rabu, 1 April 2026.

Tepat pukul 04.30 WIB, monster itu tiba. Air bah cokelat pekat menghantam pemukiman dengan ketinggian mencapai 400 cm.

Di Desa Ujong Blang, Kecamatan Kuta Blang, Bireuen, listrik padam total. Dalam kegelapan pekat, Ziaurrahmi hanya mendengar teriakan histeris warga: “Air naik! Air naik!” Tanpa sempat membawa apa pun, ia lari menyelamatkan diri di tengah malam yang kelam.

Mukjizat Peringatan Komunal

[Kondisi bantaran sungai di Desa Blang Panjoe, Kuta Blang, Bireuen yang jebol pada akhir November 2025. Foto: Istimewa/untuk portalsatu]

Banjir ini adalah yang terdahsyat dalam ratusan tahun. Meski 420 unit rumah hanyut ditelan arus di sepanjang Bireuen, nyaris tidak ada korban jiwa. Keajaiban ini lahir dari sistem Peringatan Bencana Komunal.

Sayed menjadi alarm hidup bagi Pante Lhong, mengetuk pintu warga satu per satu sebelum air meluap. Sementara di Desa Blang Mee, Keuchik Ferizal bertaruh nyawa melintasi Jembatan Kuta Blang yang goyah dihantam gelondongan kayu untuk memastikan warganya siaga.

“Kami informasikan secara langsung agar tidak ada korban jiwa,” jelas Ferizal. Namun, harga yang dibayar mahal; di desanya saja, 8 rumah hilang ditelan sungai.

Survival: Bertaruh Nyawa dengan Alat Seadanya

Saat akses transportasi dan komunikasi terputus, warga dipaksa mandiri. Sayed menceritakan momen dramatis saat mengevakuasi seorang warga yang terjebak di atas pohon jeruk pamelo di tengah arus deras.

“Tanpa banyak pilihan, saya gunakan tali dan kayu dari rumah terbengkalai. Kami berhasil menariknya ke bangunan tua tempat 50 warga lain—termasuk lansia dan bayi—berlindung,” kisah Sayed.

Di saat yang sama, perangkat Desa Blang Mee berjuang mengevakuasi 20 warga yang terjebak menggunakan sampan kayu kecil karena air sore itu terus meningkat hingga 200 cm.

Jejak Luka dan Trauma yang Menghantui

[Kondisi jalan lintas desa di Tingkeum Manyang, Kuta Blang, Bireuen. Foto direkam pada Desember 2025. Foto: Istimewa/untuk portalsatu]

Bencana November 2025 meninggalkan bekas luka permanen pada wajah Bireuen. Di Gampong Tingkeum Manyang, jalan lintas desa terputus total. Pemandangan paling memilukan terlihat pada infrastruktur jembatan yang hancur, tersumpal tumpukan kayu gelondongan dan material sampah hutan yang terbawa arus dari hulu. Kayu-kayu raksasa itu menjadi bukti fisik betapa “monster” Peusangan tak memberi ampun pada apa pun yang menghalangi jalannya.

Bagi warga, luka fisik infrastruktur ini berbanding lurus dengan trauma batin. “Setiap hujan turun, saya langsung mengemasi pakaian. Trauma banjir kemarin membuat saya selalu was-was,” tutur Ziaurrahmi.

Ketakutan serupa menyelimuti Sayed, yang rumahnya kini hanya berjarak 100 meter dari bibir sungai akibat abrasi. Aliran Peusangan telah bergeser, mengikis daratan, dan kini 14 unit rumah warga lainnya di Blang Mee terancam jatuh ke sungai. Sungai itu tetap mengalir, namun bagi warga di tepiannya, ia kini adalah sosok ‘menakutkan’ yang selalu diwaspadai tiap kali mendung menyapa.[]

Liputan ini mendapat dukungan AJI Indonesia