LHOKSUKON – Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal), Safridas menilai dana otonomi khusus yang diterima Kabupaten Aceh Utara tidak membuat pembangunan di wilayah itu berjalan baik. Malah, katanya, Bupati Aceh Utara terkesan “bagi-bagi arisan' dengan sejumlah SKPK.

Hal itu dikatakan Safridas menyikapi pemberitaan terkait dana Otsus dan Migas Aceh Utara tahun 2017 yang “dicincang” melalui usulan program dan kegiatan–yang menurut anggota DPRK terkesan “bagi-bagi kue” untuk lebih 20 SKPK.

Menurut Safridas, selama kepemimpinan Bupati Muhammad Thaib alias Cek Mad, hampir tiap tahunnya dana Otsus bernilai miliaran rupiah dikucurkan untuk Kabupaten Aceh Utara. Namun, menurutnya, sampai saat ini pembangunan masih sangat kurang, sehingga hampir tidak ada yang bisa dibanggakan dengan dana yang begitu besar.

“Ini tidak terlepas dari kebijakan pemimpin yang tidak mengarah, dan tidak ada yang bisa diagung- agungkan dengan dana Otsus  begitu besar. Ini terkesan hanya 'membagi-bagi arisan' dengan SKPK, apalagi memasuki tahun politik, pastinya dibawa ke dalam politik pencitraan,” kata Safridas, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimal kepada portalsatu.com, Senin, 4 April 2016.

Ke depan, katanya, siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin Aceh Utara setidaknya mempunyai konsep pembangunan yang mengarah. Sebab, Aceh Utara merupakan wilayah yang begitu besar. Selain itu, juga mampu memakmurkan masyarakat Aceh Utara.

“Mengingat dana outsus  akan berakhir pada tahun 2028, hanya menyisakan 11 tahun lagi, apabila ini tidak dimanfaatkan dengan baik maka Aceh Utara akan mencatat bupati yang memimpin dalam sejarah sebagai pemimpin yang gagal,” ujar Safridas.

Kata Safridas, dirinya melihat sajauh ini belum ada pembangunan yang tersentuh langsung kepada rakyat.  Ke depannya pemerintah harus punya inovasi melalui master plant  yang bagus dan melibatkan semua pihak untuk membangun Aceh Utara lebih sehat.[](ihn)