TENDA milik para pedagang itu bebaris hampir seratus meter jauhnya di depan halaman Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, sejak Sabtu pagi, 2 Juni 2018.

Di bawah tenda-tenda tersebut terdapat beraneka ragam jenis barang yang dijajakan. Mulai dari aneka kue kering-basah, baju sandal dan lainnya yang dijual oleh para pedagang–yang juga pelaku usaha home industry (industri rumah tangga).

Hingga sepekan ke depan, tempat tersebut akan menjadi lokasi Ramadhan Fair yang diadakan oleh pemerintah setempat, untuk mendukung usaha industri rumah tangga (home industry) agar produk mereka bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat.

Di lokasi, Minggu, 3 Juni 2018, portalsatu.com/ memasuki tenda seorang penjual kue kering milik Syarifah Fauziah (48), yang menjual salah satu jenis makanan ringan (snack) yang cukup unik, yakni kerupuk mengkudu.

Mengkudu! Mendengar namanya saja sudah terbayang bagaimana rasa serta aroma dari buah yang memang tak populer di kalangan penikmat buah-buahan ini. Sebagaimana diketahui, mengkudu rasanya pahit dan memiliki aroma yang kurang sedap.

Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri kalau buah yang memiliki nama ilmiah Morinda Citrifolia L ini bermanfaat bagi kesehatan.

Ia dipercaya ampuh meredakan sakit kepala, menurunkan tekanan darah tinggi, mencegah kanker dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

1001 manfaat dari buah mengkudu tersebutlah yang kemudian tak mau disia-siakan oleh Syarifah.

Pada 2010, wanita kelahiran 1970 ini mencoba mencaricipta resep untuk mengolah mengkudu menjadi kudapan yang nikmat.

“Kan banyak manfaatnya tuh. Nah di rumah ada pohon mengkudu dan banyak buahnya, tapi enggak tahu mau diapain biar enak dimakan. Saat itu, saya carilah, coba cipta resep sendiri,” kisah Syarifah kepada portalsatu.com/, Minggu siang, 3 Juni 2018.

Benar saja, ia berhasil menyulap rasa dan aroma tak sedap dari buah mengkudu menjadi kerupuk yang crunchy (garing) dengan rasa yang cukup menggugah selera.

Syarifah mengolah mengkudu dengan campuran tepung kanji ditambah dengan garam, ketumbar, bawang merah dan bawang putih menjadi adonan bahan mentah kerupuk yang siap digoreng.

Kerupuk tersebut ia beri nama “Efidar Kerupuk Mengkudu” yang saat ini terdata dengan nomor PIRT: 206110707601018, serta dihargai Rp6000 Per 150 gram-nya.

Bicara masalah pangsa pasar, ibu dua anak ini mengaku pernah memperkenalkan kerupuk buatannya hingga ke Medan dan Semarang.

Meski begitu, Syarifah mengaku banyak jatuh bangun dalam usahanya ini. Penjualan kerupuknya saat ini masih tergantung pada permintaan pembeli.

“Kalau saat ini, biasanya seminggu sekali baru ada yang minta makanya kita tidak buat tiap hari. Seminggu biasanya ada habis sekilo (satu kilogram) tepung. Tapi kalau bulan puasa sehari bisa sekilo laku terjual,” ungkapnya.

Ia sempat menitipkan kerupuk miliknya itu ke beberapa mini market di Meulaboh. “Namun BS atau “banyak sisa”. Karena itu, kita fokus ke permintaan saja. Mungkin karena masih asing bagi orang-orang,” ujarnya.

Kepada portalsatu.com/, Syarifah sempat mengeluh. Dia menilai produk home industry saat ini kurang mendapat tempat di pasar.

Padahal, kata dia, produk usaha rumahan, khususnya di Aceh Barat, tidak kalah berkualitas jika dibandingkan dengan produk hasil olahan dari pabrik. Dari segi kealamiahan, produk home industry bahkan lebih terjamin, dibanding produk pabrikan.

Syarifah mengaku tak menyerah, kendati ia sering jatuh bangun dalam menjalankan usahanya itu. Semua ini demi membantu sang suami, Said Hasyimi, untuk menghidupi rumah tangga bersama dua anak mereka, Syarifah Safrida dan Syarifah Siti Rahma.

Saat ini, selain kerupuk mengkudu, ia juga menerima pesanan aneka kue kering lainnya, seperti kue bawang, keripik ubi, dan lain sebagainya.

Jika berminat, silahkan mendatangi rumah industri Syarifah atau dikenal Efi Dar Mandiri, dengan alamat Dusun Putro Ijo, Kompleks perumahan CR 5, No.182, Desa Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.[]

Penulis: Rino Abonita