SEJAK awal penciptaan manusia dan sepanjang peradabannya pendidikan menjadi suatu keniscayaan, hanya bentuk dan muatannya yang berbeda. Pada galibnya, pendidikan sangat bercorak sesuai dengan manusia dan  (hegemoni) lingkungan  yang melingkupinya, terutama prihal kepercayaan yang dianut dan keterampilan hidup dengan segala aspeknya.

Dalam konteks masyarakat beragama (dalam hal ini Islam), para nabi yang diutus menjadi pendidik utama masyarakat setempat dengan Risalah Kebenaran yang diembannya. Dikatakan kebenaran, karena pada umumnya para nabi adalah manusia terpilih dari tengah ummatnya, mereka juga dibekali mu’jizat sebagai penanda bukti kenabiannya. Sehingga idealnya, setiap manusia yang rasional hendaknya dapat mengikuti jalan kenabian yang berakhir pada kenabian nabi Muhammad SAW, yang secara khusus, periwayatan dan bukti kenabiannya sangat valid dengan jalur periwatan yang banyak, plus Al-quran sebagai mu’jizat terbesar yang melampaui pencapaian akal manusia sampai kapanpun.

Berkiblat kemana Pendidikan Kita?

Seiring bergesernya nilai rasionalitas dan peradaban manusia, para nabi sebagai tokoh sentral pendidikan ummat menjadi terabaikan (kecuali Islam), adapun yang muncul kemudian adalah tokoh-tokoh empiris-akademik semata, katakanlah dari Plato hingga Jhon Dewey. Sedangkan pencapaian intelektual muslim dari  fase khalifah yang empat, hingga akhir abad keduabelas (yang berjarak 600 tahun dari apa yang dicapai Eropa di abad 18), tidak menjadi kajian” utama laju pendidikan dunia.  

Padahal  bila ditelusuri dengan jujur dan mendalam akan ditemukan bahwa pendidikan Islam dapat menjadi paradigma pendidikan manusia sepanjang masa. Misal, siapakah tokoh yang memopulerkan gosok gigi? (nabi kita Muhammad SAW), siapakah tokoh yang mengenalkan budaya penting mencuci tangan? (ilmuwan kita Ibnu Sina), dari manakah inspirasi pola kampus Harvard university? ( dari kampus nizamiyah di Baghdad, yang sempat dipimpin oleh imam Alghazali), itu sebagian aspek terkecil yang menjadi penting bagi masyarakat dunia modern.

Beberapa poin di atas menjadi pengantar tentang betapa terkaitnya kita dengan risalah kenabian secara umum, saat kita mengarahkan pembahasan ini mengenai pendidikan dalam arti yang integral. Kata profetik di atas, (dan kata profesi yang kita kenal) sejatinyapun bermakna yang mengemban risalah suci, dan bersifat kenabian. Maka di kesempatan yang baik ini, dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional, penulis ingin menyampaikan sedikit tentang  delapan makna pendidikan secara profetik yang kiranya mejadi tambahan khazanah ulasan pendidikan ideal Indonesia.

Capaian Pendidikan yang Holistik

Untuk menemu-kenali makna pendidikan dan mengukur ketercapaian  efeknya bagi siterdidik (peserta didik), kita dapat menelisiknya dari fungsi utama pendidikan. Bila kita kaitkan dengan peran kenabian (profetik), maka akan kita dapatkan makna berikut yang holistik (terpadu)tidak hanya bertumpu pada capaian akademik semata:

Pertama, makna fitrawi (kodrat insani). Dalam makna ini pendidikan sejalan dengan  fungsi fitrah manusia secara umum, dari yang abstrak seperti pengetahuan dan mencintai kebaikan hingga yang konkret, seperti kebutuhan akan keterampilan dan mengelola lingkungan. Dari pendekatan ini pula kita dapat meyakini bahwa manusia juga berdimensi spiritual, memiliki rasa bertuhan. Maka yang menjadi pokok ajaran para nabipun mengacu pada penyembahan Allah, memurnikan ketundukan hanya kepada-Nya, agar perangkat lunak (rasa spiritualitas, ilmuwan  barat menyebutnya Titik Tuhan ) yang ada di dalam diri si manusia tadi menuju pada Rabb Yang Maha Mencipta dan Maha Memelihara. Dimensi spiritual atau ruhiyyah inilah hendaknya terpatri sejak awal dan terus dipertajam dengan rangkaian muatan tarbiyah berkesinambungan.

Kedua, Ta’lim,  Mau’izhah dan Perbaikan Diri.

Ketika nabi Adam diajarkan (ta’lim) tentang nama-nama benda disertai fungsi dan karakteristiknya, ini mengindikasikan kebutuhan asasi manusia akan pengetahuan untuk memakmurkan lingkungannya. Makna ini juga mengarahkan pada pentingnya domain pembelajaran (utama yang bernuansa kontekstual, multi inderawi) dan penyampaian lisan (nasihat atau bimbingan) dengan porsi yang tepat dalam rangka  mencapai tujuan pendidikan. Pada tahap ini, saat nabi Adam telah berada dalam unit terkecil bangunan sosialnya (telah mampu beradaptasi dan bersosiaisasi),yaitu bersama istrinya Siti Hawa, beliau dan istrinyapun telah dibebankan dengan  perintah dan larangan. Yaitu, perintah (bisa) menetap dan menikmati surga dan larangan mendekati pohon terlarang serta akibatnya, termasuk putusan Allah menjadikan syaitan (bagian dari iblis) sebagai musuh.  

Sedangkan hikmah dari realitas Rabbani (bukan fiksi) di atas adalah, setelah keduanya diusir dari surga,  menandakan  pentingnya dimensi perbaikan diri untuk si terdidik dengan bentuk bimbingan yang sejalan dengan pengasahan spiritualitas agar dapat memberikan dampak positif bagi diri sendiri dan lingkungan.

Ketiga, Mewariskan Nilai Kenabian.

Dalam poin ini, nilai kenabian yang penulis maksud adalah, muatan ajaran  para nabi yang bersumber dari Rabb-nya, yaitu  risalah Islam, inilah muatan syari’at dari nabi Nuh AS ke Nabi Ibrahim AS, lalu ke nabi Isa AS hingga ke nabi Muhammad SAW. Jadi, pendidikan yang kita selenggarakan dan pembelajaran yang kita rancang dengan sempurna tak akan berdampak bila mengesampingkan nilai-nilai Ketuhanan, bila sains dan teknologi jauh dari cahaya Quran dan Sunnah Nabawiyyah, dan adalah fatal bila kita alpa mewariskan Islam secara terencana kepada peserta didik sebagai generasi penerus.

Keempat, Perbaikan Sosial.

Perbaikan sosial, (in uriid illal-ishlaah) merupakan sub-tema   yang diemban para nabi, terutama setelah manusia berpuak-puak dengan komunitas yang beragam, setelah nabi Nuh khususnya. Demikianlah yang dilakukan nabi Hud dan shalih, nabi Ibrahim, nabi Yusuf, juga nabi Isa As dan Muhammad SAW, beserta nabi-rasul lainnya; mereka menunjukkan penolakan terhadap tirani dan  hegemoni; mereka adalah pembela kaum yang dilemahkan (mustadh’afiin).

KelimaMenyertakan Kegembiraan yang Besar. Dalam proses ini, pendidikan yang berlangsung hendaknya penuh daya sugesti positif yang tinggi,  penuh keakraban dan penghargaan, terutama lewat kabar gembira tentang surga dan manisnya iman yang sejalan dengan runut para nabi yang 25. Fungsi ini disejajarkan dengan visi rahmatan lil’alamin, menjadi penentu harmoni hubungan antar-makhluq secara vertikal dan horizontal.

Keenam, Muatan Peringatan. Peringatan diperlukan sebagai penjelas serta memperkuat maksud pendidikan yang hendak kita capai. Secara profetik, peringatan visionernya ialah ancaman Allah berupa siksaan api neraka. Jadi, bentuk peringatan dan ancaman tersebut bisa dari skala yang paling rendah dan dilaksankan dengan konsisten.

Ketujuh, Menerangi dan Menyinari. Dalam kerangka ini seluruh rangkaian pendidikan mengerucut pada upaya memberikan (menampakkan) solusi yang akan dikondisikan kepada peserta didik dan berupaya mengoptimalkan tumbuh-kembangnya secara bertahap dan menyeluruh, dari yang bersifat kejiwaan (tazkiyatunnafsi), praktis (Hikmah dan Tadris) dan pembiasaan adab (ta’dib).

Kedelapan, Bukti dan Kesaksian. Upaya kita dalam mendorong terselenggaranya pendidikan ideal yang selaras dengan fitrah manusia dan seiring pula dengan nilai lokal keindonesian yang mayoritas Islam, maka pendidikan yang kita maksud disini, bermakna pula sebagai bukti bahwa ajaran kenabian akan terus relevan dalam memakmurkan bumi dan upaya ini akan menjadi saksi bahwa kita dan para penaggung jawab pendidikan (dari kepala keluarga, para guru,figur masyarakat, hingga kepala negara) telah menanamkan semangat risalah nabawi dalam rangkaian penyelenggaraan pendidikan manusia Indonesia.[]

 #Selamat Hari Pendidikan Nasional. Meulaboh, 2 Mei 2018.

Penulis: Taufik Sentana. Praktisi Pendidikan Islam, berkhidmat sejak 1996, bagian dari Ikatan Keluarga Alumni Darul Arafah (Ikapda). Menjadi Tim Pengembangan Program SMPIT Teuku Umar. Menetap di Meulaboh, bergiat di Ikatan Dai Indonesia dan Bina Potensi Ummat serta mengajar di MTs.S Harapan Bangsa. 
Email: taufiksentana@gmail.com untuk layanan ceramah, seminar, dan pelatihan.