LHOKSEUMAWE – Jumlah karyawan Perusahaan Daerah Air Minum Ie Beusaree Rata (PDAM IBR) Lhokseumawe mencapai 39 orang. Sementara pelanggan hanya sekitar 1.900 sambungan rumah yang semuanya di Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Idealnya, PDAM IBR memiliki sekitar 12 karyawan sesuai rasio enam per 1.000 (enam karyawan/1.000 pelanggan).
Membengkaknya jumlah karyawan PDAM IBR mendapat sorotan dari Anggota DPRK Lhokseumawe, Jailani Usman. Dia menyebut perusahaan daerah di kota ini terkesan menjadi tempat penitipan orang (karyawan) oleh elite. “Di Lhokseumawe ini seolah-olah ada kesan begitu ada perusahaan baru ada fenomena baru, bisa titip karyawan. Padahal, kalau kita lihat kebutuhan itu tidak sampai 30 persen dari yang sudah ada hari ini,” kata Jailani Usman kepada portalsatu.com/, Senin, 8 Februari 2021.
Baca: Delapan PDAM di Aceh Katagori Sakit
Jailani menilai kondisi tersebut menjadi salah satu sebab PDAM IBR berstatus “sakit”, berdasarkan hasil evaluasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh tahun 2020. Pasalnya, kata Jailani, akibat membengkaknya jumlah karyawan semakin banyak dana terkuras untuk operasional termasuk pembayaran gaji. “Supaya (PDAM) ini tidak sakit berkelanjutan, harus dievaluasi, bagaimana status sakit ini pelan-pelan bisa sembuh,” ujarnya.
“Jangan memaksa kehendak, misalnya karena banyak permintaan, ada keponakan, famili, tetangga (diterima bekerja). Sehingga dana yang seharusnya bisa efektif menjadi sebaliknya,” ungkap Jailani.
Jailani menyebut bukan hanya di PDAM, membengkaknya jumlah karyawan juga terjadi pada Perusahaan Daerah Pembangunan Lhokseumawe (PDPL), sekitar empat tahun lalu.
“Kita harus lihat sebenarnya, dari dulu sampai hari ini berapa PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang masuk dari perusahaan itu. Jangan karena ini ada kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok membuat perusahaan yang kita lihat persoalan hari ini adalah terkurasnya APBD. APBD kita sudah defisit, dikuras lagi dengan hal seperti ini, seolah-olah ada kesengajaan,” tegas Jailani.
Jailani berharap Wali Kota Lhokseumawe mengevaluasi secara menyeluruh berbagai persoalan yang terjadi selama ini, termasuk PDAM yang sakit. “Kalau kita melihat fenomena gunung es di Lhokseumawe hari ini hampir semua bidang (muncul persoalan). Seharusnya wali kota pada masa jabatan terakhirnya ini me-manage (mengelola) yang baguslah supaya dia meninggalkan kesan positif, yang bagus,” ucap Jailani Usman.
Lihat pula: Masih Sakit, Begini Penjelasan PDAM Lhokseumawe Soal Pelayanan Air Bersih
Belum gajian
Direktur PDAM Ie Beusaree Rata (IBR) Lhokseumawe, Safrial, mengakui jumlah karyawan saat ini melebihi kebutuhan. Jumlah karyawan PDAM ini mencapai 39 orang, sementara pelanggan sekitar 1.900 sambungan rumah di Kecamatan Muara Satu.
“Jumlah karyawan sekarang ini sekitar 39 orang. Memang rasionya itu (PDAM yang sehat) enam banding 1.000 (enam karyawan/1.000 pelanggan),” kata Safrial dikonfirmasi portalsatu.com/ melalui telepon seluler, Senin, 8 Februari 2021.
Artinya, jika hanya memiliki sekitar 2.000 pelanggan, seharusnya jumlah karyawan PDAM cukup 12 orang. Lantas, kenapa mencapai 39 karyawan?
“Itu tidak bisa saya jawab. Karena sebelum saya menjadi direktur, jumlah karyawan sudah seperti itu,” ujar Safrial yang mengaku menjadi Direktur PDAM IBR sejak Juni 2020.
Ditanya langkah apa diambil supaya ke depan tidak menguras anggaran perusahaan akibat banyaknya karyawan, Safrial mengatakan, “untuk mengimbangi itu, cakupan pelayanan harus kita maksimalkan”.
“Jadi, bukan kita berpikir untuk mengurangi jumlah karyawan, tapi kita pikir cara cakupan pelayanan bertambah. Dengan banyak sambungan rumah tentunya akan berimbang (antara jumlah karyawan dan pelanggan),” tutur Safrial.
Untuk diketahui, pada pengujung tahun 2020 sudah dilakukan pemasangan jaringan pipa distribusi air bersih dan sambungan rumah (SR) Program Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) PDAM Ie Beusaree Rata. Dari 1.349 SR baru itu, 800 lebih SR di Kecamatan Banda Sakti, sebagian di Panggoi, Kecamatan Muara Dua, dan sisanya di Muara Satu. PDAM IBR akan bekerja sama dengan PDAM Tirta Mon Pase Aceh Utara untuk menyuplai air bersih kepada 800 lebih SR di Kecamatan Banda Sakti.
Baca: Dewan; Suplai PDAM di Muara Satu Belum Lancar dari Mana Sumber Air untuk Banda Sakti
Jika 1.349 SR itu nanti resmi menjadi pelanggan PDAM IBR, ditambah pelanggan lama di Muara Satu sekitar 1.900 sehingga menjadi 3.249 pelanggan. Mengacu rasio jumlah karyawan terhadap pelanggan (enam karyawan/1.000 pelanggan), jumlah pegawai PDAM IBR tetap masih membengkak?
“Betul, makanya terus kita upayakan (menambah cakupan pelayanan untuk mengimbangi antara jumlah karyawan dengan pelanggan). Jadi, saya tidak berpikir untuk mengurangi karyawan, tapi bagaimana caranya cakupan pelayanan bertambah,” ujar Safrial.
Safrial menyebut pendapatan PDAM IBR selama ini rata-rata Rp80 juta sampai Rp100 juta/bulan. Namun, kata dia, biaya operasional perusahaan lebih tinggi dibandingkan pemasukan. “Kita gali lubang tutup lubang,” ucapnya.
Itulah sebabnya, kata Safrial, PDAM IBR belum mampu menyumbang PAD. “Kita tidak bayar PAD karena masih rugi,” kata dia.
Bahkan, menurut Safrial, sudah lebih setahun PDAM IBR belum membayar gaji karyawan. Menunggaknya pembayaran gaji karyawan terjadi sejak sebelum dirinya menjabat direktur.
“Kita belum bayar gaji. Kami kerja sosial (belum gajian) sudah jalan 13 bulan. Karena pendapatan PDAM masih rendah, itulah yang menjadi persoalan kita,” ungkap Safrial.[](nsy/fazil)








