JAKARTA – Venezuela akan mencantolkan nilai tukar mata uang bolivar dengan petro, mata uang kripto milik negara tersebut. Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi di Venezuela akan menembus 1.000.000 persen pada tahun ini.

Rencana mengaitkan nilai tukar mata uang bolivar ke uang kripto diumumkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, 17 Agustus 2018. Dengan begitu, mata uang bolivar akan didevaluasi hingga 96 persen, yang dikhawatirkan ekonom bakal menyebabkan hiper-inflasi di negara gagal tersebut.

Presiden Nicolas juga mengumumkan bahwa pemerintahannya akan menaikkan upah minimum hingga lebih dari 3.000 persen, meningkatkan tingkat pajak korporasi, dan mengangkat harga gas bersubsidi tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

“Saya ingin negara ini kembali pulih dan saya memiliki rumusnya. Percayalah,” kata Presiden Nicolas yang merupakan mantan sopir bus dan kepala serikat pekerja tersebut, dikutip Reuters, Minggu, 19 Agustus 2018.

Nicolas akan membongkar dan menyusun kembali rasio nilai tukar bolivar yang berbeda-beda dan menetapkan satuan gaji, pensiun, dan harga ke dalam petro.

Petro adalah mata uang kripto milik pemerintah Venezuela yang dirilis awal tahun ini.

Secara terpisah, Menteri Informasi Venezuela, Jorge Rodriguez, menjelaskan pemerintah akan membuka 300 kios penukaran mata uang di hotel, bandar udara, dan pusat perbelanjaan.

Kebijakan yang mengubah bolivar menjadi petro tersebut dijadwalkan mulai berlaku per Senin, 20 Agustus 2018. Nilai petro kini berada di level US$60 atau 3.600 bolivar.  Sementara itu, upah minimum akan ditetapkan di level 1.800 bolivar.

Sementara itu, ekonom menyatakan kesangsian mereka terkait upaya pemerintah Venezuela yang sedang menghadapi sanksi dari Amerika Serikat (AS) tersebut. Pada Maret lalu, Presiden AS, Donald Trump, menandatangani executive order yang melarang setiap institusi keuangan AS berhubungan dengan Venezuela.

Oleh karena itu, negara yang sempat kaya di Amerika Latin tersebut sudah terpukul akibat anjloknya harga minyak menjadi negara bangkrut dan gagal membayar utang.

Dengan kebijakan baru tersebut, masyarakat Venezuela dikhawatirkan bakal menderita kehilangan pekerjaan dan perusahaan diperkirakan bakal kesulitan memenuhi kenaikan pembayaran pajak dan upah.

“Di tengah devaluasi agresif dan ekspansi moneter untuk gaji dan bonus, kami memperkirakan hiper-inflasi yang semakin agresif lagi. Terlebih lagi dengan konteks percetakan uang dibatasi, ini adalah yang terburuk dari yang terburuk,” kata Asdrubal Oliveros, Ekonom Venezuela di Ecoanalitica

IMF pun memperkirakan inflasi di Venezuela akan menembus 1.000.000 persen pada tahun ini.

Berdasarkan data disurvei Reuters, ekonom menyalahkan kendali mata uang yang ketat, kegagalan nasionalisasi, dan percetakan uang berlebih merupakan akar permasalahan krisis ekonomi tersebut.

Kini, masyarakat Venezuela semakin terperosok dan mengais makanan dari tempat sampah akibat gaji mereka tidak seberapa dolar AS. Sejauh ini, ratusan ribu masyarakat Venezuela bermigrasi menggunakan bus ke beberapa negara di Amerika Latin untuk mencari kehidupan baru.

“Pemenangnya adalah kehancuran ekonomi. Tidak ada masyarakat Venezuela yang pantas merasakan tragedi seperti ini maupun dipimpin oleh orang yang hanya menghancurkan negeri!” tulis Ketua Oposisi Henrique Capriles melalui akun Twitter-nya setelah pengumuman Nicolas tersebut.[] Sumber: bisnis.com