Diriku Sebatang Pena, Rumahku Tubuhku Sendiri
Engkau memberikan tanda-tanda pada alam untuk segala doa dan harapanku pada-Mu, tapi itu hanya dapat kudengarkan dan kulihat, ketika aku menutup mulutku dan mengamatinya tanpa penghakiman, ketika aku rela menerimanya, baik itu air nilam ataupun air kotoran.
Kadangkala, keheningan berbicara lebih nyaring padaku
Ketika aku bersatu dengan keheningan itu, maka aku mendengar suara-suara yang tidak diucapkan.
Yang diucapkan tidak lagi berbunyi, hanya kulihat gerakan bibir.
Aku dikelilingi orang-orang bisu, atau, akulah yang tuli.
Seluruh gerak alam adalah kalimat yang menulis dirinya sendiri.
Aku seorang musafir yang berkelana seumur hidupku.
Kulintasi benua
Kucari diriku
Kucari diri-Mu.
Aku melintasi waktu dari benua ke benua
Tidak ada tempat di mana hatiku tertambat
Pada suatu masa, di dalam keheningan panjang
Aku disadarkan bahwa Rumahku adalah tubuhku sendiri.
Aku melihat diriku sebagai sebatang pena, yang menulis kehidupanku sendiri di muka bumi sampai batas waktu tiba.
Banda Aceh, 28 April 2025 / 30 Syawal 1446 H.
Thayeb Loh Angen (Muhammad Thaib bin Sulaiman).








