Selasa, Juli 23, 2024

Dinkes Gayo Lues Keluhkan...

BLANGKEJEREN - Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues mengeluhkan proses pencairan keuangan tahun 2024...

H. Jata Ungkap Jadi...

BLANGKEJEREN – H. Jata mengaku dirinya ditunjuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menjadi Pj....

Bandar Publishing Luncurkan Buku...

BANDA ACEH - Penerbit Bandar Publishing Banda Aceh meluncurkan sekaligus dua karya Dr....

Rombongan Thailand Selatan Kunjungi...

BANDA ACEH – Delegasi dari berbagai lembaga di Thailand Selatan mengunjungi Kantor Partai...
BerandaDua Warga Lhokseumawe...

Dua Warga Lhokseumawe Dijadikan PSK di Malaysia, Ini Pengakuan Tersangka

LHOKSEUMAWE – Polisi menangkap wanita berinisial Fz alias Ren (29), warga Gampong Uteunkot, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, sebagai tersangka perdagangan manusia (human trafficking) lintas negara. Tersangka Fz ditangkap di kampungnya, Kamis, 6 September 2018, setelah polisi menerima laporan dari dua korban, tiga hari sebelumnya.

Kedua korban itu wanita asal Lhokseumawe, NW, mahasiswi, dan DY, ibu rumah tangga. Menurut polisi, kedua korban tersebut dijanjikan bekerja di kafe di Malaysia dengan iming-iming gaji capai Rp8 juta/bulan. Kenyataannya, keduanya malah dijadikan pekerja seks komersial (PSK). 

Berdasarkan keterangan korban kepada polisi, banyak wanita lainnya bernasib sama, menjadi korban perdagangan manusia untuk dijadikan PSK di Malaysia. Akan tetapi, tersangka Fz mengaku hanya mengajak NW dan DY dari Lhokseumawe untuk diserahkan kepada seorang pria di Batam yang kemudian dibawa ke Malaysia.

“Saya hanya bawa dua orang itu,” kata Fz kepada awak media di sela-sela konferensi pers digelar Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe Iptu Riski Andrian tentang pengungkapan kasus itu, di mapolres setempat, Jumat, 7 September 2018.

Saat Kasat Reskrim Riski menyebutkan, “pengakuan korban masih banyak wanita lainnya”, Fz langsung mengatakan, “Itu nggak ada sama saya, nggak ada melalui saya”.

Ditanya untuk apa NW dan DY dibawa ke Malaysia, Fz mengatakan, “Nggak ada tujuan apa-apa, karena dia minta, kepingin sendiri, ikut”.

Nggak ada. Kami dari sini (Lhokseumawe) berangkat sama-sama, tapi paspor saya nggak dibuat-buatnya (oleh teman Fz di Medan), nggak siap-siap. Dua orang ini (NW dan DY paspornya) siap, ya udah berangkat duluan,” kata Fz saat ditanya keuntungan yang dia peroleh dari dugaan perdagangan manusia itu.

Diberitakan sebelumnya, dua wanita asal Lhokseumawe, NW (24), dan DY (20), menjadi korban perdagangan manusia. Keduanya dijanjikan bekerja di kafe di Malaysia dengan iming-iming gaji capai Rp8 juta/bulan. Kenyataannya, saat tiba di Negeri Jiran itu, keduanya malah dijadikan PSK. NW merupakan mahasiswi, sedangkan DY, ibu rumah tangga.

Satuan Reskrim Polres Lhokseumawe yang menerima laporan kasus itu, 3 September 2018, kemudian menangkap wanita berinisial Fz alias Ren, warga Gampong Uteunkot, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, 6 September 2018, karena diduga terlibat kasus tindak pidana perdagangan manusia lintas negara itu. 

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim Iptu Riski Andrian saat konferensi pers di mapolres setempat, Jumat, mengatakan, pihaknya menangkap Fz setelah menerima laporan dua korban, NW dan DY.

“Korban melaporkan bahwa mereka menjadi korban perdagangan manusia yang dilakukan oleh tersangka (Fz). Itu terjadi sejak 10 bulan terakhir,” kata Riski.

Riski menjelaskan, awalnya Fz mengajak NW dan DY untuk bekerja di sebuah kafe di Malaysia dengan gaji Rp6 juta hingga Rp8 juta per bulan. Sebelum diberangkatkan ke Malaysia, kata Riski, Fz mengiming-iming kepada NW dan DY bahwa gaji itu bisa membiayai hidup anak dan orangtuanya, termasuk membeli sepeda motor.

“Tersangka juga mengatakan kepada korban, jika duduk (tinggal) di gampong itu tidak ada gunanya. Setelah korban setuju, tersangka meminta fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan KTP korban untuk dibuat paspor. Untuk biaya pembuatan paspor itu, katanya uang dikirim dari pemilik kafe di Malaysia kepada tersangka. Kemudian tersangka membawa korban ke Medan, Sumatera Utara, untuk pembuatan paspor tersebut,” ungkap Riski.

Riski melanjutkan, setelah paspor selesai, Fz membawa NW dan DY ke Batam. Selanjutnya, Fz menyerahkan kedua korban itu kepada seorang laki-laki. Lalu, Fz kembali lagi ke Lhokseumawe dengan alasan paspornya tidak bisa keluar, pengurusannya harus di Lhokseumawe, serta alasan lainnya bahwa dia akan menyusul NW dan DY.

Lelaki tadi kemudian membawa kedua korban ke Malaysia melalui jalur laut. Saat tiba di Malaysia, kata Riski, kedua korban diserahkan lelaki itu kepada seorang pria berkebangsaan Tionghoa berinisial Kk. Kedua korban lantas ditempatkan di mess milik pria Tionghoa itu, yang penghuninya berjumlah 60 orang terdiri dari laki-laki dan perempuan berusia 15 sampai 25 tahun. 

“Dari mess tersebut, lelaki Tionghoa itu membawa korban serta penghuni mess lainnya ke sebuah tempat prostitusi di Malaysia. Di tempat itu, korban dipaksa untuk bekerja sebagai PSK. Setelah beberapa bulan di tempat tersebut, korban bisa kabur dan kembali ke kampung halamannya,” ujar Riski.

Riski mengatakan, pihaknya turut mengamankan barang bukti berupa paspor atas nama NW dan DY yang dikeluarkan di Malysia, juga KK dan KTP milik kedua korban itu.

“Tersangka (Fz) sudah kita tahan, dan dikenakan pasal 2 ayat (1) dan ayat (2), jo pasal 4 Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang,” ungkap Riski Andrian.[]

Catatan: Rizkita, pelajar Basri Daham Journalism Institute (BJI) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe, yang sedang tugas magang di portalsatu.com turut berkontribusi dalam liputan peristiwa ini.

Baca juga: