ACEH BARAT – Tim Pansus DPRK Aceh Barat turun ke Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Kamis, 31 Mei 2018, untuk meninjau hasil laporan GeRAK terkait dugaan pencemaran lingkungan oleh PT MB di gampong tersebut.

“Hari ini hari kedua DPRK sudah turun ke lokasi. Kemarin di lokasi stockpile (lokasi penumpukan batubara sementara). Hasil observasi, ada masalah yang ditemukan terkait debu,” kata Ketua DPRK Aceh Barat, Ramli, di lokasi itu, Kamis siang.

Ramli menyebutkan, di lokasi stockpile, pihaknya menemukan bahwa conveyor (alat pengangkut batubara, red) milik PT MB tidak ditutup. “Kalau bisa ditutup, sehingga debu tidak beterbangan. Meskipun ini masalah teknis perusahaan, kita akan coba cek, apakah di daerah lain conveyor juga terbuka atau tidak,” ucapnya.

Politikus PAN ini berjanji segera menindaklanjuti dugaan pencemaran lingkungan oleh PT MB tersebut dengan memanggil warga, pihak perusahaan, maupun dinas terkait untuk menyelesaikan masalah ini.

“Akan ditindaklanjuti dengan memanggil dinas terkait, baik dari kabupaten maupun provinsi. Untuk provinsi memang belum melakukan kontak, namun nanti akan kita surati,” katanya.

Pantauan portalsatu.com/, tim Pansus melakukan wawancara dengan beberapa warga setempat. Mayoritas warga mengeluhkan kondisi tempat mereka tinggal yang diduga sering terkena paparan debu batubara dari stockpile milik PT MB.

Seorang warga, Sugiyatno (46), tidak mempermasalahkan kehadiran PT MB di gampong itu. Bahkan kehadiran perusahaan bisa membuka lapangan pekerjaan di gampong tersebut. Namun, kata dia, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara itu jangan mencemari lingkungan.

“PT Mifa silakan berkembang, tapi masyarakat tak tertanggu. Karena daerah ini juga perlu pendapatan, namun masyarakat harus diamankan,” kata Sugiyatno di depan tim Pansus dan awak media yang meliput.

Giyatno mengaku sempat membuka warung nasi goreng dan mi bakso di gampong tersebut. Namun warung tersebut terpaksa tutup karena kurang pembeli.

“Mana mau orang makan bakso yang ‘dicampur batubara’,” ketus dia yang saat ini telah membuka usaha yang sama di Meulaboh, Aceh Barat.

Di menyebutkan, sejak kehadiran PT MB yang membangun stockpile di dekat pemukiman warga, Sumarni (43), yang merupakan istrinya, saat ini mengalami penyakit paru-paru.

“Itu sejak PT MB ada, padahal, tidak ada sejarah istri saya sakit paru-paru. Istri kan saya atlet lari, sering juara lari, di SMP dan SMA, kok bisa kena penyakit paru-paru,” tukasnya.

Adapun tim Pansus DPRK Aceh Barat yang turun ke lokasi yakni, Ramli, S.E. (Fraksi PAN), Banta Lidan (Fraksi PA), Erliana (Fraksi Demokrat), Herman, S.E. (Fraksi Demokrat), dan Abdul Rauf, S.E. (Fraksi PAN).

Perusahaan ganti rugi

Menurut warga, Ajidah (40), yang rumahnya tak jauh dari stockpile, PT MB telah memberi tawaran kepada warga untuk menjual tanah beserta rumahnya.

“Permeternya dihargai Rp500, sedangkan untuk harga rumah beda lagi, yang pasti bukan warga yang menentukan. Yang jual sudah tiga orang warga, termasuk saya. Untuk tanah dan rumah saya, DP (down payment/uang muka) sudah dikasih Rp100 juta,” ungkap Ajidah.

Ajidah mengaku menjual rumahnya karena sudah tidak tahan. Sebab, rumahnya yang hanya berjarak puluhan meter dari stockpile PT MB itu sering terpapar debu yang diduga berasal dari stockpile PT MB.

Sejauh ini, portalsatu.com/ sudah berupaya menghubungi pihak PT MB, tapi belum berhasil dimintai klarifikasi terkait masalah ini.[]

Penulis: Rino Abonita