PETUALANG Norwegia Thor Heyerdahl melemparkan teori kontroversi terkait hubungan Amerika dengan bangsa Polinesia. Dalam pemikirannya, Thor beranggapan bahwa sebenarnya bangsa Peru, Amerika Selatan, yang menjadi nenek moyang bangsa Polynesia. 

Teori yang dikemukakan Thor ini direspon negatif oleh para ilmuwan dan penerbit jurnal ilmiah. Menurut mereka, Peru memang memiliki peradaban hebat pada masanya. Namun, tidak mungkin bangsa Peru yang kemudian dikenal dengan sebutan Tiki, mampu berlayar ke Polynesia. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki peradaban membuat perahu.

Thor yang telah menjalani hidup bersama bangsa Tiki kemudian membantah dugaan para ahli. Dia menyebutkan, Tiki mampu berlayar menyeberangi lautan dengan menggunakan rakit dari kayu balsa. Anggapan ini membuat sejumlah pihak menertawakan Thor. 

Thor yang dikenal teguh dalam pendiriannya, akhirnya melakukan ekspedisi 'bunuh diri' dengan melakukan pelayaran dari Amerika menuju Polynesia yang ada di Samudera Pasifik. Dia turut merekrut beberapa orang untuk ikut serta, termasuk pembuat kulkas, nelayan, veteran perang, dan antropolog.

Pelayaran yang dilakukan Thor bersama kawan-kawannya jauh dari masuk akal, karena mereka hanya menggunakan rakit balsa dengan teknologi kuno seperti yang dilakukan bangsa Tiki. Satu-satunya alat modern yang dibawa serta oleh Thor adalah radio dan tentu saja kamera, sebagai media komunikasi mereka dengan pers.

Film yang dirilis pada 2012 ini menyuguhkan motivasi luar biasa dan pelajaran dari pengalaman seorang Thor di film Kon-Tiki. Apa saja itu? 

1. Pantang menyerah

Seperti diketahui, teori yang dikemukakan Thor ditentang oleh para ahli. Hal ini membuatnya harus berjibaku dengan biaya penelitian dan biaya cetak buku. Namun, Thor tak pernah menyerah. Dia akhirnya membuktikan bahwa teorinya tersebut benar dengan menjalani ekspedisi pelayaran dari Amerika menuju Polynesia di Samudra Pasifik.

2. Berani mengambil resiko

Meskipun nekat berlayar menggunakan rakit balsa melalui Samudera Pasifik, tetapi Thor bukanlah seorang pria yang bisa berenang. Dia memiliki trauma hampir tewas tenggelam saat masih kecil dalam kolam es. Namun, hal ini tidak menyurutkan langkahnya untuk mengarungi samudera.

3. Belajar dari sejarah

Meskipun teori dan ekspedisi kecil yang dilakukan Thor sangat tidak masuk akal, tetapi Thor yakin apa yang dilakukan bangsa Tiki juga bisa dilakukan oleh manusia modern. Dia kemudian menyiapkan semua keperluan pelayaran tersebut dengan merujuk catatan sejarah dan membuang semua peralatan modern, termasuk kawat untuk pengikat kayu-kayu balsa menjadi rakit. Dia juga belajar dari sejarah bangsa Tiki yang mengikuti rasi bintang hingga mencapai tujuan: Polynesia.

4. Tetap kompak

Meskipun diwarnai perdebatan dan konflik kecil di pelayaran mereka, tetapi Thor dan kawan-kawan mampu melewati semua hal itu hingga perjalanannya mencapai tujuan. Saling mendukung dalam kondisi kritis adalah kunci agar bisa sukses.[]