YOGYAKARTA – Dewasa ini Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta menjadi tidak populer dan eksis, baik di kalangan mahasiswa maupun pelajar dari Aceh se-Nusantara. Hal ini dipicu karena problematika internal yang sulit diselesaikan sehingga membuat lembaga menjadi vakum beberapa bulan.

Permasalahan yang terjadi di Taman Pelajar Aceh Yogyakarta sekarang adalah problem internal. “Itu yang perlu kita selesaikan dulu jika mau TPA bergeming di seantero nusantara seperti masa lalu, karena TPA adalah rumah kita bersama.”

Begitulah kira-kira sepatah dua kata yang disampaikan calon Ketua TPA nomor urut 2 periode 2017-2018, Zulfan Cot Keueng (STTA) dalam pemaparan visi misi di Mubes TPA 2017, Sabtu, 22 April 2017. Mubes ini berlangsung di Aula Besar Bale Gadeng, TPA, Yogyakarta.

Ini berbeda dengan apa yang disampaikan Chairul, putra Meulaboh dari UMY. Chairul yang juga calon ketua TPA ini lebih mengedepankan konsep kebersatuan tanpa mengkotak-kotakkan satu atau dua golongan tertentu. 

“Kita ini keluarga dan sudah sepantasnya kita bersatu, kita tidak boleh terpecah atau ada istilah A, B atau C, tetapi kita adalah satu dari A hingga Z dan tidak ada perbedaan,” kata Chairul. 

Visi dan misi yang disampaikan kedua calon ini mendapat apresiasi dari pendukungnya masing-masing. 

Meskipun demikian, Mubes yang diikuti oleh semua elemen masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi-organisasi kabupaten hingga provinsi di Yogyakarta ini melahirkan satu pemimpin baru. Mereka mempertanyakan Zulfan Cot Keueng menjadi ketua baru untuk periode mendatang.

“Siapapun yang terpilih maupun yang tidak terpilih, akan kita lihat (aksinya) besok ketika acara solidaritas pelajar Aceh Yogyakarta untuk asrama poncowinatan yang sekarang ini sedang digugat pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun hingga detik ini tidak ada satu badan hukum dari Aceh yang melihat perjuangan mahasiswa Aceh dalam memperjuangkan hak dan aset daerah,” kata Imam selaku Sekjend KMPAN.

Acara solidaritas pelajar Aceh Yogyakarta ini juga akan dibubuhi dengan pengumpulan koin, yang kemudian akan diserahkan ke Gubernur Aceh. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes mahasiswa, baik dari Yogyakarta hingga universitas di Aceh kepada pemerintah yang terkesan bungkam.

“Aksi ini diharapkan mampu mencoreng citra sekaligus menampar wajah pemerintahan Aceh di kalangan masyarakat,” kata Imam.

Laporan: Bustanul Aulia / Magister Ekonomi UIN Suka