ANKARA – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, ditanya tentang apakah negara-negara yang sudah menjadi anggota Uni Eropa yang lebih layak daripada Turki?
Erdogan menjawab, “Kami adalah negara yang lebih maju daripada mereka semua. Dari hak-hak dasar dan kebebasan untuk peluang ekonomi.”
Pertanyaan tersebut muncul setelah protes Uni Eropa terhadap kebijakan Turki untuk menghukum mati semua orang yang terlibat pada kudeta 15 Juli 2016.
Turki telah menjadi negara calon anggota Uni Eropa sejak tahun 2005. Ada 33 draf proses Turki untuk menjadi Uni Eropa Turki, yang meliputi ketentuan ekonomi dan keuangan, telah dibuka bulan lalu.
Ratusan martir, Ribuan Terluka
Presiden Turki juga menanggapi pertanyaan tentang perlakuan buruk terhadap beberapa tentara yang ditangkap selama upaya kudeta, sebagaimana ditampilkan dalam foto-foto yang dipublikasikan di media.
“Ada perkelahian bersama. Selama perkelahian ini, tentara dan polisi dihadapkan satu sama lain. Kepala Staf Umum kami memiliki luka serius di tangannya dan leher sementara ia diborgol saat ditangkap oleh pengkudeta,” tambahnya.
Erdogan mengatakan masalah yang paling penting adalah membicarakan tentang 246 tentara Turki yang meninggal dunia dan 2.185 terluka.
“Itu adalah keganasan yang nyata,” katanya.
Badan Hukum
Erdogan juga ditanya tentang seruan membatalkan hukuman mati bagi komplotan kudeta di Turki. Uni Eropa awal pekan ini menyerukan “penolakan tegas dari hukuman mati”.
Selama unjuk rasa pro-pemerintah di Turki selama akhir pekan, seruan untuk hukuman mati bagi komplotan kudeta bisa terdengar dari kerumunan.
“Tuntutan rakyat tidak dapat diabaikan dalam demokrasi. Itu hak rakyat. Hak ini harus ditinjau dalam kerangka konstitusional oleh pihak yang berwenang, “kata Erdogan dalam pidato Istanbul hari Minggu lalu.
Selama wawancara degnan France 24 yang dsiarkan Anadolu Agency, Erdogan mengatakan: “Dalam demokrasi, kedaulatan tanpa syarat milik bangsa.”
“Apakah ada hukuman mati di AS? Ada. Di Rusia? Ada. Cina? Ada. Hukuman mati ada di sebagian besar dunia,” tambahnya.
Erdogan mengatakan Turki telah menunggu selama 53 tahun di pintu Uni Eropa untuk menjadi negara anggota.
Gulen Pemimpin Kudeta
Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan salah satu tentara kudeta Turki yang menyandra Kepala Staf Umum pada 15 Juli 2016 meminta pimpinan tertinggi militer Turki itu untuk berbicara dengan Fetullah Gulen.
Dalam sebuah wawancara dengan France 24 pada hari Sabtu, Erdogan mengatakan tentara kudeta yang ditangkap kini mengungkapkan sumber instruksi mereka.
“Salah satu dari mereka yang menyandra kepala staf militer Turki bahkan mengatakan, 'Anda akan saya hubungkan sehingga bisa berbicara dengan pemimpin kami Fetullah Gulen,'” kata Erdogan.
Sabtu lalu, polisi anti huru hara menjaga markas Staf Umum di Ankara, sebuah lokasi yang jadi salah satu titik fokus upaya kudeta dari 15 Juli.
Perwira senior yang menolak kudeta disandera, termasuk Kepala Staf Umum Jenderal Hulusi Akar. Akar kemudian diselamatkan.
Pemerintah Turki telah berulang kali mengatakan upaya kudeta yang mematikan pada 15 Juli, yang menewaskan setidaknya 246 orang dan melukai lebih dari 2.100 orang lain, dibuat oleh pengikut Fetullah Gulen yang tinggal di Amerika.
Gulen dituduh telah lama menjalankan kampanye untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan, ia membentuk apa yang dikenal sebagai 'negara paralel'.






