Oleh Thayeb Loh Angen

Tidak mudah menemukan seseorang yang dapat memimpin dengan baik, jujur, tegas, dan bertanggung jawab. Namun Muhammad Fauzan Azim Syah, mampu melakukannya saat memimpin gedung Turki Sultan II Selim ACC (Aceh Community Center), Banda Aceh.

Bicara dan tindakan yang sejalan dari pengurusnya telah membuat kegiatan gedung itu berjalan dengan baik. Mereka merawat dan memperbaiki fasilitasnya, serta turut mampu mendukung kegiatan lain di bawah PMI Aceh.

Pada bulan pertama bertugas, Juli 2012, Fauzan bersama kawan-kawan menjaga capaian Bulan Sabit Merah Turki di Aceh di Sultan II Selim ACC Turkey – PMI Aceh yang dibangun di atas tanah Pemerintah Kota Banda Aceh.

Salah satu program sosial kemanusiaan yang dicetuskan Fauzan dan kawan-kawan adalah Geuroebee, Geurakan Sidroe Siribee, Satu Jiwa Seribu Rupiah, sejak awal Agustus 2012. Geuroebee adalah program terobosan, mengajak masyarakat untuk peduli dan tanggap terhadap bencana, mempersiapkan belanja menghadapi masa darurat.  

“Setiap jiwa memberikan sedikitnya seribu Rupiah, baik per bulan, per minggu atau per hari untuk persiapan sebelum terjadi bencana (pre-disaster) sebagai funds on call atau cash on standby,” kata Muhammad Fauzan Azimsyah.

Selain Geuroebee, ia pun banyak menelurkan program dan kegiatan sosial kemanusiaan lain atas nama Sultan II Selim ACC, di luar tugas yang dibebankan padanya.

Berkat kemahirannya memimpin dan kedisilpinan kawan-kawannya, masyarakat dari segala lapisan ekonomi dan sosial pun memberikan perhatian dan kepercayaan untuk menggunakan fasilitas Gedung Sultan II Selim ACC PMI Aceh.

Para remaja dan masyarakat umum mengikuti program sosial kemanusiaan di sana, seperti english care program, computer care program, disaster care program, youth activity center, art performance (pekerja seni), LSM Budaya (Pusat Kebudayaan Aceh Turki-PuKAT), kepercayaan pihak swasta dan perbankan dalam kegiatan program siaga bencana -Geuroebee (BNI Syariah, Bank Muamalat, Bursa Efek Indonesia, pengguna ruangan, dan lain-lain).

Sultan II Selim ACC mendapatkan kepercayaan dari pihak perbankan, seperti BNI Syariah, Bank Muamalat, Bank Mandiri, Bank Aceh, BRI, BNI, Danamon, dan lain-lain. Kepercayaan itu pula datang dari pihak swasta, pemerintah, Jamsostek, Disbudpar, Dinkes, Universitas atau Sekolah Tinggi Negeri atau Swasta, PAUD/TK, SMP dan SMA/sederajat, organisasi pengurus penyandang cacat (disability persons), office space, dan lainnya untuk menyewa ruangan atau fasilitas yang tersedia di Gedung Sultan II Selim ACC PMI Aceh.

Adalah prinsip hidup yang mendasari Fauzan dan kawan-kawannya sehingga sanggup menjalankan tugas dan mengembangkannya menjadi sebuah prestasi. Tentu ini jarang dimiliki oleh banyak orang di Aceh, baik kalangan umum, pemerintah, maupun akademisi.

Bencana dahsyat, smong (tsunami) 26 Desember 2004, yang merenggut kakak kandung dan 2 orang anaknya -saat itu tinggal di Kajhu, Aceh Besar- membuatnya terpanggil untuk bekerja di Palang Merah Indonesia (PMI) sejak April 2007 dengan dukungan finansial dari Palang Merah Irlandia.

Saat dipercayakan sebagai director Sultan II Selim ACC Turkey PMI Aceh, hal pertama dilakukannya bersama kawan-kawan adalah mempelajari kembali capaian bantuan yang telah didukung oleh Turkish Red Crescent (TRC) atau Bulan Sabit Merah Turki.

TRC adalah salah satu Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yang memberikan bantuan dalam bencana terbesar tsunami di Aceh, terlibat aktif dalam Tsunami Recovery Operation Aceh untuk membantu masyarakat Aceh sejak 2005 sampai 2010.

Fauzan mengatakan, bantuan pasca tsunami Aceh dari Turki yang diberikan melalui TRC, di antaranya, membangun perkampungan rumah permanen di Gampong Bitai di Banda Aceh, dan Lampuuk di Aceh Besar, merenovasi masjid Lampuuk dan kuburan bersejarah Teungku Di Bitay, membangun sekolah SD, SMP, dan SMA, rumah sakit darurat, menyalurkan makanan, pakaian, dan layanan logistik lainnnya.

TRC juga mengirimkan Tim Dukungan Psikososial (PSP) untuk Aceh setelah tsunami dengan memberikan dukungan bagi korban bencana, terutama anak-anak yang selamat dari bencana.

Tim-tim tersebut didatangkan sebagai strategi melanjutkan dukungan kemanusiaan di Aceh setelah masa darurat dan rehab-rekon serta untuk meningkatkan kapasitas PMI agar lebih mandiri (stand on feed) dalam dalam mengemban misi sosial kemanusiaan yang terus berlanjut ke depan.

Sebagai bukti kongkrit kepeduliaan masyarakat Turki untuk masyarakat Aceh, pada tahun 2006, Bulan Sabit Merah Turki telah membangun sebuah gedung Pusat Kegiatan Masyarakat Aceh yang dikenal dengan Sultan II Selim ACC. Nama Sultan II Selim ditabalkan pada gedung itu untuk mengenang hubungan Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turki Usmani pada masa sekitar tahun 1565 Masehi.

Sultan Aceh mengirimkan utusan ke Istanbul untuk menemui Sultan Sulaiman Yang Mulia (Sultan Suleyman Kanuni), untuk menjalin kerjasama militer dan ilmu pengetahuan. Saat utusan Aceh yang dipimpin Umar dan Husein tiba di Istanbul, ibukota dunia (istilah Napolen Boinaparte), Sultan Suleyman Kanuni tengah berperang di Hongaria. Selama masa menunggu itu persediaan utusan Aceh, termasuk hadiah berupa emas permata untuk sultan Turki, telah dijual satu persatu demi bertahan hidup.

Sultan Suleyman Yang Mulia syahid, digantikan anaknya yang kemudian dijuluki dengan nama ayah dari Sulaiman Kanuni, Sultan Selim. Maka sultan yang baru naik tahta dan berjuluk Sultan II Selim ini menerima utusan Aceh -yang bersama mereka hanya tinggal beberapa karung lada (istilah Aceh, sicupak). Sultan II Selim bersedia memenuhi permintaan sultan Aceh, dan memberikan bantuan berupa senjata dan para ahli, dibawa ke Bandar Aceh Darussalam. Saat itulah diberikan sebuah meriam besar, kemudian dikenal dengan meriam Lada Sicupak. Meriam tersebut kini berada di Belanda, dirampas saat mereka menyerang Aceh pada 1873.

Memajukan Sultan II Selim ACC

Selama dalam kepemimpinannya, Fauzan dan kawan-kawan telah membawa Sultan II Selim ACC berkontribusi langsung untuk markas PMI Aceh  2012 -2015, antara lain:

Dukungan program Markas PMI Aceh meliputi well functioned office–pengadaan 2 unit Laptop dan 2 unit komputer, asuransi BPJS, welfare (maulid, meugang, lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, dan lain-lain), program tahunan, kegiatan ke PMI Pusat, audit oleh ekternal auditor, dan sebagainya.

Kemajuan lainnya adalah mampu memperbaiki fasilitas Markas PMI Aceh (pemeliharaan ex-compound IFRC Ajun setelah 10 tahun Tsunami Aceh) meliputi perbaikan 3 unit post secuirity, lantai depan markas, mushalla dan tempat wudhu’, parkir mobil dan sepeda motor, halaman depan dan parkir dan taman dan tong sampah permanen, pagar depan, dan sebagianya.

Selain itu, Fauzan dan kawan-kawan mampu merevitalisasi dan memelihara kendaraan operasional dan bekas hibah tusnami PMI Aceh. Di antaranya mengganti mobil baru Toyota Avanza untuk operasional Sultan II Selim ACC (revitalisasi asset hibah Turkish Red Crescent), mengganti ban baru kendaraan roda empat, pengurusan surat (STNK & BPKB) kendaraan eks-hibah tsunami, dan lain-lain. Semuanya dilakukan dengan biaya dari mengambangkan usaha Sultan II Selim ACC.

“Kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh pengguna gedung (Our Best Costumers) dan mitra kerja kami atas kepercayaan yang telah diberikan selama ini. Tanpa kepercayaan Anda, kami tidaklah berarti. Capaian ini kami persembahkan kepada salah seorang tim kami, alhamrhum Bapak Zulkarnain yang telah berpulang ke rahmatullah, Jum’at pagi 18 Desember 2015 di RS Harapan Bunda, semangat beliau akan terus kami kenang dan pelihara,” kata Fauzan.

Tentang Fauzan

Fauzan bernama lengkap Muhammad Fauzan Azimsyah, lahir di Idi Rayek, Aceh Timur, 25 Januari 1982. Sekaraang menatap di Pagar Air, Aceh Besar. Ia lulusan Universitas Syiah Kula 1999-2006. Ia lulusan Teknik Elektro (S1, Nov 2006) di Universitas Syiah Kuala.

Sebelum dititipkan amanah oleh Turkish Red Crescent dan PMI Aceh si ACC Sultan II Selim, Fauzan bertugas sebagai Program Coordinator – Aceh untuk Program SECAP dan COP Radio Rumoh PMI (April 2008 – Juni 2012) dukungan Irish Red Cross (Palang Merah Irlandia).

Secondary Education Cash Assistance Programme – SECAP yaitu program yang membantu anak-anak putus sekolah dan didaftarkan kembali ke sekolah untuk menerima pendidikan di tingkat SLTP dan SLTA atau Sederajat (regular dan non-regular/Paket) dan Community Outreach Programme – COP yaitu pengembangan radio komunikasi PMI Aceh sebagai sarana penyampaian informasi kegiatan Operasi Tsunami Aceh oleh Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yang bekerja sama dengan PMI.

Selain itu, Fauzan juga berpengalaman berkerja dengan organisasi asing yang yang ada di Aceh beberapa waktu lalu.

Korner Galeri PMI dan Turki

Gedung Sultan II Selim ACC PMI Aceh berfungsi juga sebagai tempat sosialisasi dan informasi kegiatan Operasi Tsunami Turki di Aceh. Acc Sultan II Selim pun telah memperbaiki dan memelihara kuburan Teungku Di Bitay (Selahaddin), mengecat kembali lambang Turki, Indonesia dan Bulan Sabit Merah Turki di SDN Tanjong dan SMPN 1 Peukan Bada sebagai bukti bantuan Turki di Aceh.

Melanjutkan beberapa kegiatan/program utama yang telah dicapai oleh Bulan Sabit Merah Turki dan PMI dalam operasi pemulihan tsunami dan pencapaian Sultan II Selim ACC Turkey di tahun 2006-2010.

Program sosial dan kemanusiaan meliputi Psikososial (pengembangan konsep diri anak-anak, remaja,dan orang dewasa) meliputi computer care program,  english care program, positive venue, accessible for disability persons, youth activity center, dan lain-lain.

Kiat Kepemimpinan di ACC Sultan II Selim

Meningkatkan Kualitas Staff dan Sistem

Mempunyai tim yang solid dalam sebuah organisasi sangat diperlukan untuk menumbuhkan dan menyukseskan organisasi tersebut. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan performa dari seluruh staff, Fauzan menerapkan beberapa kemajuan atau upaya yaitu: key performance components, lima kunci membangun tim.

Pondasi pertama, trust (kepercayaan), saat kepercayaan mulai tumbuh dalam sebuah team, maka tingkat terjadi konflik internal akan semakin berkurang meskipun para rekan kerja dari latar belakang dan pendidikan yang berbeda. Mottonya, the best idea is the winner (ide terbaik adalah pemenang).

“Saya sering membudayakan istilah I have no staff, but I have a Great Team (Saya tidak punya karyawan, tapi saya memiliki tim luar biasa). Ini adalah semangat kami dalam bekerja, every one is amazing (setiap orang adalah menakjubkan) sebagai social worker dan social entrepreneur di PMI Aceh. Di setiap moment kami akan selalu terlihat sama, tidak yang lebih tinggi atau rendah,” kata Fauzan.

Fauzan mengatakan, ia bersama kawan-kawan berkeyakinan, bagaimana mungkin memberikan pelayanan istimewa ke orang lain, jika mereka di dalam sebuah tim dianggap sepele bahkan rendah. Itu juga menjadi titik keberhasilan mereka dalam memberikan pelayanan di Gedung Sultan II Selim ACC.

“Saya sering mengatakan bahwa, I am nothing, without all of you. You are great, I am happy to be a part of the team (Saya bukanlah apa-apa, tanpa teman-teman semua. Teman-teman adalah luar biasa, saya bahagia menjadi bagian dari team),” kata Fauzan.

Fauzan menerapkan kebijakan, setiap orang harus mengerti bahwa, Office is Office (kantor adalah kantor), artinya meskipun kita tidak berada di kantor, maka aktivitas kantor harus tetap jalan, yaitu pastikan sistem harus tetap berjalan. That’s Office (itu baru kantor).

Meningkatkan Fasilitas dan Kualitas Pelayananan

Mempunyai tim yang solid yang sudah memahami tugas dan tanggung jawabnya (roles and responsibilities) memudahkan dalam mengelola sebuah gedung yang difungsikan sebagai pusat social services dan income generating bagi PMI Aceh.

Dalam mengurusi Sultan II Selim ACC, Fauzan dan kawan-kawan membuat tempat wudhu, mengecat gedung, menambah alat pendukung gedung, mengatur tempat parkir kendaraan roda dua dan empat dengan metode garis parkir, free zone (bebas parkir, jalur in dan out), jalur evakuasi jika gempa, green environment, clean and nice culture dan notifikasi edukatif (Thank You for not smoking and keeping environment nice and clean in this area), terima kasih sudah buang sampah di sini, terima kasih Anda tidak parkir di area ini.

Membina Hubungan Mitra Kerja

Dalam memelihara dan meningkatkan hubungan kerja (partnership), Sultan II Selim ACC membina hubungan yang harmonis dengan berbagai kalangan, seperti media, Pemerintah Aceh, Pemko Banda Aceh, pemerintah, dan para stakeholders terkait.

Sampai akhir 2015, Sultan II Selim ACC memiliki kas sekira satu milyar Rupiah, hasil dari beberapa usaha yang dijalankan Fauzan dan kawan-kawan atas nama gedung hibah Turki itu. Kas tersebut akan berguna untuk belanja operasional Sultan II Selim ACC ke depan dan bantuan kemanusiaan yang diperlukan nantinya. 

“Saya ingin membuktikan kepada semua orang, baik di Aceh dan di negeri lain, bahwa kita Aceh bisa juga berperadaban bai, kita mampu asal mahu,” kata Fauzan, yang masih menjabat sebagai direktur Sultan II Selim ACC saat diwawancarai di Banda Aceh, Selasa, 29 Desember 2015.[]