Forum Komunikasi Masyarakat Berkebutuhan Khusus Aceh (FKM BKA) Provinsi Aceh melakukan workshop di Gedung Aceh Training Center (ATC) untuk menyosialisasikan SOP penanganan penyandang disabilitas dalam kebencanaan, Senin, 24 Juli 2017.
Syarifuddin selaku Ketua FKM BKA berharap SOP ini bisa dicetak dalam braile agar penyandang disabilitas bisa membaca SOP dan perbup tersebut.
“Selain itu untuk menjaga konsistensi dan kesiapsiagaan para penyandang disabilitas kami meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melakukan simulasi minimal 3 tahun sekali,” katanya.
Acara ini diikuti oleh BPBD Kabupaten Aceh Besar, Tagana, Dinas Sosial Aceh Besar, FKKADK, FAER, Lembaga Riset Natural Aceh serta 20 orang penyandang disabilitas dari berbagai kecamatan di Aceh Besar.
Baddruzami, S.Sos dari BPBD Aceh Besar menyebutkan, kesiapsiagaan bencana kadang masih terdiskriminasi bagi penyandang disabilitas dibandingkan kelompok rentan lainnya dalam bentuk perilaku kultur, tafsir dan praktek agama, sistematika negara dan birokrasi.
“Seyogyanga dengan kesiapsiagaan kita bisa mengenali ancaman dan memprediksi bencana serta mampu mencegah bencana jika mungkin. Jika tidak mampu mengurangi dampaknya, mampu menanggulangi secara efektif.”
Workshop yang difasilitasi oleh First Aid Emergency Respon (FAER) ini juga mencoba menggali pengalaman peserta dalam menghadapi bencana serta meminta peserta lain untuk memberikan sumbang saran dan ide bagaimana melakukan manajemen evakuasi yang lebih baik.
Di akhir kegiatan seluruh peserta diminta menggambarkan peta sederhana evakuasi di rumah masing-masing untuk kemudian dipresentasikan termasuk isi tas siaga bencana apa yang mereka sediakan atau miliki.
Acara ini adalah rangkaian penutup dari roadshow Workshop Pengurangan Risiko Bencana FKM BKA di 8 Kab/Kota di Aceh yang didukung oleh DRAF.[]
Zainal Abidin




