KAMI mengunjungi Makam Yang Mulia Paduka Sultan Mansyur Syah, pimpinan Kesultanan Aceh Darussalam pada Rabu malam (malam Kamis), 20 April 2017.
Di makam itu kami mengenang pemimpin besar dari bangsa ini, kami berdoa untuknya. Kami mengunjungi makam itu malam-malam karena terlalu hormat padanya.
Kami baru saja membaca sebuah peta yang aslinya disimpan di Museum Topkapi (bekas istana Sultan Turki Usmani), Istanbul, Turki.
Peta itu dibuat oleh Muhammad Ghuts Saiful 'Alam Syah, laksamana besar di masa Yang Mulia Paduka Sultan Mansyur Syah.
Yang Mulia Muhammad Ghuts menggambar peta seluruh wilayah Kesultanan Aceh Darussalam, yang di masing pulau ditempatkan Wazir Syah Mansur Aceh.
Tempat-tempat tersebut adalah Bandar Bone (Bugis – Sulawesi), Bandar Banjar (Burnie atau Borneo), Bandar Bali, Bandar Semarang (Timur Jawa), Bandar Daik Lingga (Kepulauan Riau), Bandar Pahang, Bandar Trengganu, Bandar Kelantan, Bandar Selangor, Bandar Kedah, (Semenjung Melayu, kini Malaysia), Bandar Patani (Semenjung Melayu, kini Thailand Selatan).
Di dalam peta tersebut, ditulis bahwasanya Bandar Aceh Darussalam kursi Syah Mansur. Artinya, Bandar Aceh Darussalam adalah ibukota dari seluruh negeri di pulau-pulau luas dan jauh itu.
Di dalam peta itu ditulis Bandar Teluk Samawi adalah tempat yang sekarang dikenal dengan nama Lhokseumawe. Di sampingnya, ada Bandar Sumatera yang merupakan ibukota Kesultanan Sumatra (Kesultanan Samudera Pasai).
Peta tersebut dibawa oleh Muhammad Ghuts bersama surat lain, atas nama Yang Mulia Baginda Sultan Yang Agung Mansur Syah, kepada Yang Mulia Sultan Abdul Majid pemimpin Kesultanan (Khalifah) Turki Usmani, pada tahun 1849 Masehi.
Pada peta itu ditulis, sebagian pantai selatan Sumatra dari Palembang ke Barus berada dalam jajaran Belanda dengan pusat Bandar Padang. Sementara Timur dan Utara berada dalam kekuasaan Aceh Darussalam.
Seluruh pulau Jawa juga berada dalam wilayah Aceh Darussalam, kecuali Bandar Betawi (wilayah DKI Jakarta sekarang).
Merujuk pada peta tersebut, maka hampir seluruh wilayah Republik Indonesia sekarang, dan semua wilayah Kerajaan Malaysia sekarang, kecuali negeri Melaka (negeri Melaka sekarang – berada dalam kekuasaan Britania Raya), merupakan wilayah Negara Kesultanan Aceh Darussalam.
Setelah melihat dan membaca peta itulah kami langsung ke makan Yang Mulia Paduka Sultan Mansyur Syah, sebagai penghormatan kepadanya dan laksamannya Muhammad Ghuts Saiful 'Alam Syah yang gagah perkasa.
Kami yang rangau malam itu ialah: Taqiyuddin Muhammad, Irfan M Nur, Mizuar Mahdi, Syukri Isa Bluka Teubai, Akbar, Edi, Masykur, Thayeb Loh Angen, dan lainnya.
Surat Sultan Mansyur Syah
Ini terjemahan surat kuasa dari Yang Mulia Paduka Sultan Mansyur Syah kepada Muhammad Ghuts Saiful 'Alam Syah:
(Isi surat ini dikutip dari Mapesaaceh.com).
Segala puji bagi Allah Yang Maha Tinggi Zat-Nya
Aku katakan, dan aku adalah Sultan Manshur Syah anak Al-Marhum Jauharul Alam Syah anak Al-Marhum Muhammad Syah yang mulia.
Tatkala pada hari Kamis 15 dari bulan Rabiul Awal tahun 1265 (Hijriah) kami telah mengutus pelayan kami yang mulia dan terhormat Muhammad Ghuts Saiful Alam Syah menuju dua tanah haram yang mulia kemudian ke negeri-negeri lain, negeri-negeri bangsa Arab, Ajam (Persia), Turki, Inggris, Prancis atau lainya yang antara kami dan mereka telah saling mengenal dan bersahabat, terutama lagi kepada para pedagang, nakhoda, haji dari Aceh dan selain mereka.
Maka kami memesankan kepada Anda sekalian untuk memenuhi segala keperluan pelayan kami ini baik itu dirham (keuangan) maupun kebutuhan pokok sejumlah yang diperlukannya sekalipun itu berjumlah 2000 Riyal, 5000 Riyal, 10000 Riyal atau lebih dari itu. Anda sekalian diharapkan membantunya dan memberikan apa saja yang diperlukannya sampai cukup, dan mohon tuliskan untuk kami dan untuk dia satu tanda bukti serta hadirkan beberapa saksi di depannya. Nanti pada hari Anda sekalian telah sampai kepada kami dengan membawa tanda bukti, maka kami akan mengembalikan kepada Anda sejumlah yang tertera dalam tanda bukti itu.
Janganlah Anda sekalian merasa kuatir sebab yang bersangkutan adalah kerabat kami dan dari golongan kami serta merupakan utusan dari pihak kami kepada pihak-pihak yang penting dan dalam rangka melaksanakan tugas-tugas (misi-misi) yang teramat penting.
Untuk itulah, maka kami cap surat ini dengan mohor (cap) sembilan yang hanya kami terakan pada tulisan-tulisan (surat-surat) yang penting saja.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan ke atas Penghulu kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau sekalian. Amin.[]

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan







