BANDA ACEH – Jalan Rukoh, kawasan Darussalam, Banda Aceh, kerap macet setelah proyek pembangunan jembatan Lamnyong dikerjakan. Jalan ini menjadi alternatif pengalihan rute, setelah jalan utama T. Nyak Arief menuju Kopelma ditutup.
Amatan sekilas portalsatu.com, Senin, 19 Desember 2016, kemacetan ini terjadi karena banyaknya jumlah kendaraan yang menggunakan akses jalur tersebut. Selain itu, bus berbadan besar seperti TransKutaradja dan truk-truk pengangkut material juga terpaksa menggunakan jalan ini untuk menuju kawasan Darussalam, Lambaro Angan, atau daerah sekitarnya.
Di sisi lain, kemacetan diperparah dengan banyaknya kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, yang melaju dari arah berlawanan. Ini belum lagi dengan puluhan sepeda motor, mobil keluarga, dan pick up pengangkut barang yang parkir di kiri kanan badan jalan.
“Ka diteupeu jalan saboh arah, peu dijak lawan. Nyan jak lawan TransKutaradja lom, hana peu lawan nyan, atra pemerintah,” ujar salah satu pedagang di Pasar Rukoh, sembari menunjuk satu unit mobil Honda Jazz putih yang terpaksa menepi usai melawan arus ketika berhadapan dengan moda transportasi massal, Bus TransKutaradja. Di titik kemacetan terparah itu terdapat pusat perbelanjaan tradisional Pasar Rukoh yang sering disambangi masyarakat sekitar.
Selain macet, proyek pelebaran jembatan Lamnyong sepanjang 300 meter dan lebar 8 meter dengan nilai kontrak Rp 89,2 miliar, bersumber dari APBA 2015-2016 ini juga menyebabkan di lokasi tersebut kerap becek alias 'meuleuhop'.
Seperti diketahui, pelebaran jembatan Lamnyong, Darussalam, Banda Aceh, mulai dikerjakan sejak Senin, 30 November 2016. PT Waskita Karya yang berhasil memenangkan tender diberikan jangka waktu hingga 450 hari untuk menyelesaikan pembangunan jembatan penghubung kota mahasiswa ini, dengan kota Banda Aceh.[]


