BANDA ACEH – Himpunan Mahasiswa Biologi (HMB) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menanam 1000 bibit mangrove di Gampong Blang Krueng, Rukoh, Aceh Besar, Minggu, 25 Februari 2018.
Kegiatan ini merupakan rangkaian aksi lingkungan kedua dalam acara Pekan Konservasi Sumber Daya Alam (PKSDA) 2018 yang berlangsung tanggal 20-26 Februari 2018 di FMIPA Unsyiah. Sebelumnya, aksi lingkungan telah dilakukan berupa pelepasan anak penyu di Pantai Lhoknga, Aceh Besar.
Penanaman mangrove diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan dosen jurusan Biologi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat universitas dan fakultas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), serta instansi lainnya yang turut berpartisipasi.
Ketua Panitia PKSDA, Muhammad Firhan Al-Alzhar, menjelaskan bahwa PKSDA merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh HMB. Melalui PKSDA, Firhan berharap masyarakat, khususnya mahasiswa, dapat memahami pentingnya menjaga alam, terutama lingkungan disekitarnya.
“Hendaknya kegiatan aksi lingkungan ini tidak hanya selesai hari ini saja, tetapi akan berkelanjutan,” tutur Firhan dalam sambutannya.
Maksud dari kegiatan berkelanjutan yang disebut oleh Firhan sebelumnya, dijelaskan oleh Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unsyiah, Betty Mauliya Bustam. Dalam sambutannya, Betty berharap melalui penanaman mangrove ini, mahasiswa dapat melahirkan ide-ide penelitian sehingga dapat memperoleh manfaat yang berkelanjutan.
“Sekarang, kita tanam benih mangrove. Dalam dua bulan kedepan, lihat bagaimana perkembangan mangrove tersebut. Struktur anatomi dari tanaman mangrove yang kita tanam bisa dijadikan objek penelitian” jelas Betty.
Disamping itu, Betty juga menjelaskan bahwa mangrove merupakan tanaman kelompok Halophyta, yaitu tanaman yang hidup pada kadar garam atau salinitas lebih tinggi dibandingkan tanaman lainnya.
Sementara itu, kepala desa atau Geuchik Gampong Rukoh, Hamidi, mengapresiasi kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan oleh mahasiswa. Menurutnya, mangrove yang ditanam dapat menambah penghasilan masyarakat yang mencari ikan di kawasan mangrove.
“Mengapa saya mengambil lokasi di sini? Masyarakat di sini rata-rata mencari ikan di sungai. Ikan tidak akan datang jika habitatnya, mangrove, berubah. Kalau kita tidak menanam mangrove, ikan tidak akan hidup dan bertelur disana,” tandas Hamidi.
Acara PKSDA akan ditutup pada tanggal 26 Februari 2018 melalui kegiatan Seminar Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser di Aula FMIPA Unsyiah. Selain seminar, panitia akan mengumumkan juara berbagai lomba yang diperlombakan selama PKSDA berlangsung.[] (rel)




