Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaGerakan Mengurangi Sampah...

Gerakan Mengurangi Sampah Plastik, Ketua DPRK: Say No to Single use Plastic

SUBULUSSALAM – Sampah adalah suatu hal yang selalu dianggap sepele pengelolaannya. Banyak dampak negatif yang bisa kita rasakan jika sampah ini tidak dikelola dengan baik. 

Sejauh ini pengelolaan sampah di Kota Subulussalam masih sekadar membawa atau memindahkan sampah dari rumah tangga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berada di Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat. Kondisi TPA di lokasi tersebut juga belum terkelola dengan baik.

Di masa akan datang, sampah akan menjadi masalah lingkungan, hingga bisa menimbulkan penyakit bahkan bencana bagi masyarakat di sekitar. “Saya pikir kita perlu sama-sama berpikir bagaimana caranya kita bisa mengurangi sampah, terutama sampah plastik”.

Demikian antara lainnya pandangan Ketua DPRK Subulussalam, Ade Fadly Pranata Bintang, S.Ked., terkait pengolahan dan mengurangi produksi sampah di Bumi Sada Kata, disampaikan kepada portalsatu.com dalam siaran pers dikirim Humas DPRK Rachmad Saleh Solin, S.I.Kom., M.A.P., Minggu, 19 Januari 2020, malam.

Hal itu disampaikan Ade Fadly Pranata Bintang dalam rapat di aula pendopo wali kota, Sabtu, 18 Januari 2010, bersama CEO Ministry of Waste (MoW) atau pengelola limbah asal Inggris, Samantha, Dirut RSUD dr. Dewi Pinem, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), pemerhati lingkungan dan green geration yang berasal dari anak sekolah.

 

Fadly mengajak masyarakat untuk mengurangi sampah seperti sampah plastik, styrofoam atau sampah kemasan makanan polistiren busa dan sampah lainnya melalui gerakan say no to single use plastic (katakan tidak menggunakan plastik sekali pakai). Pasalnya, produksi sampah di Kota Subulussalam mencapai 65 ton per hari, dan itu diperkirakan terus meningkat.

“Untuk di internal dewan saya sudah membuat satu kebijakan untuk tidak memakai lagi minuman dalam bentuk kemasan plastik,” ungkap Fadly.

Kemudian, untuk mengatasi penumpukan sampah kita di Kota Subulussalam, kata Fadly, pihaknya sedang berencana membuat suatu kebijakan untuk mengolah sampah bisa menjadi bermanfaat atau bahkan melahirkan sumber pendapatan asli daerah (PAD) buat Pemko Subulussalam.

“Bisa dibilang kita mau ubah sampah menjadi suatu yang bernilai,” sebut Fadly.

Terkait kedatangan pihak CEO Pengelola limbah asal Inggris di Kota Subulussalam, Fadly menyambut baik kedatangan Samantha bersama rekan-rekannya di Bumi Syekh Hamzah Fansuri. Banyak ilmu yang diperoleh dari Samantha cs terkait cara penanganan sampah di Kota Subulussalam.

“Paling tidak kita bisa open mind terlebih dahulu, agar kita sadar betapa pentingnya sebuah daerah kota madya mengelola sampahnya dengan baik dan tepat. Kita juga berharap semua pihak bisa sama-sama bergerak. Baik dari pemerintah, komunitas, pelajar, sampai masyarakat yang betul-betul harus bekerja sama dalam penanganan sampah di Subulussalam,” harap Ade Fadly Pranata Bintang.[]

Baca juga: