TULISAN ringan ini bertujuan sebagai bahan refleksi personal penulis setelah mengikuti seminar yang diprakarsai oleh Yayasan Almaghribi, Meulaboh, 21 Juli 2018 kemarin. Sebuah langkah yang sangat baik dalam rangka menghadapi tahun ajaran baru, yang di dalamnya para guru kembali merekognisi pengalaman pembalajarannya di kelas sembari memberi makna baru dari tugasnya.

Pada awal sesi, Bapak dr.Ramadhanus, trainer dengan ragam sertifikat terapis dan public speaking mengarahkan attensi audien dengan mengenal lebih dalam posisi diri mereka, yaitu posisi kehambaan diri di hadapan Sang Khaliq. Kesadaran diri akan hal ini menjadi bagian terbaik dari keseharian seseorang, hingga ia tidak merasa sombong dan tidak pula merasa rendah diri serta mudah memperoleh hikmah, bahkan dari orang lain yang bersikap buruk kepadanya.  Puncaknya adalah hidayah dan pertolongan Allah dalam setiap aktivitas yang dilalui.

Dalam perdekatan ini, bila dikaitkan dengan pembelajaran di kelas, guru dapat membangun vibrasi (getar) tauhid di pembuka kegiatan belajar siswa, dengan basmalah, istighfar, doa khusus dan tadabbur dalam rangka mendekatkan diri ke Allah agar dibimbing dan diberi-Nya ilmu. Sejalan dengan itu guru juga mengaitkan setiap bagian ajarnya Qura’an serta mendampingi belajar siswa dengan hati yang tulus-murni lalu bertawakkal setelah prosedur kelas diselenggarakan dengan lengkap.

Ikhtiar Rasa, Formula Dasar.

Selaku pribadi, kebanyakan orang mengedepankan logika dan kemampuan tekniknya dalam menyelesaikan persoalan. Banyak sekali yang alpa untuk mengedepankan Allah dalam aspek pribadi apalagi aspek profesionalnya. Kita juga lalai bahwa aspek masa lalu kita, kesalahan dan tidak ridhanya kita akan hal apapun akan memperburuk ikatan tauhid kita, bahkan bisa merusak tauhid itu sendiri.

Untuk itu sangat disarankan agar guru mengedepan ikhtiar rasa yang bersumber dari hati yang meyakini keberadaan Allah. Dari vibrasi Hati yang bertauhid inilah kita berinteraksi dengan para siswa khususnya, dalam lingkungan kerja atau di kehidupan rumah tangga. Karena sesungguhnya, kita adalah ummat yang  satu, maka jangan abaikan bahasa dan ikatan hati, yang bahkan bisa menembus ruang waktu

Ikhtiar rasa mengedepankan dialog langsung ke Allah selaku Pemilik dan Pemelihara semesta, kita rasakan betul bahwa Allah bukan sebutan yang hambar dan kosong makna. Ikatan ini bisa dibangun kapan saja dengan ragam bentuk ibadah yang lazim. Sikap ini akan mendatangkan jalan keluar dari setiap perkara, sedangkan perkara yang kita hadapi merupakan cara Allah agar kita menemui-Nya, melibatkan Dia dalam setiap urusan.

Dalam rangkaian kasus penyakit dan masalah pribadi yang dihadapi pasien atau klien, menurut  pemateri, dapat diatasi secara pertahap dengan pendekatan personal yang mengedepankan getar hati yang  direfleksikan dengan tatapan, sapaan, sentuhan, pelukan, dan sebagainya.

Ikhtiar ini juga bekerja efektif bila diterapkan kepada siswa. Hanya saja seorang guru diperlukan informasi yang lengkap tentang aspek pribadi siswa melalui ragam sumber, dengan terus membangun hubungan edukatif (kedekatan hati) untuk mencapai tujuan kurikuler. Dengan langkah ini diharapkan permaslahan belajar bisa tereliminir dan para siswapun dapat berkembang sesusai potensinya karena merasakan pengalaman terbaik saat berinteraksi dengan para guru.

Indikasi Guru Hebat

Adapun sikap khusus lainnya yang mengindikasikan seorang itu hebat, selain vibrasi hatinya yang positif,  menurut trainer dalam seminar ini adalah, Pertama, Respek. Yaitu penghargaan guru terhadap diri, tugas dan siswanya dengan rasa tanggung jawab dan penuh ikhlas.

Kedua, Kebersamaan. Seorang guru mesti dapat menghidupkan suasa persaudaraan dan kebersamaan, kerja sama dan saling menghargai. Ketiga, Hangat dan penuh semangat. Sikap ini merupakan bahan bakar bagi munculnya bakat dalam dalam diri siswa. Untuk sampai ke level ini, seorang guru yang akan melaksanakan kegiatannya di kelas hendaknya tidak terbawa emosi dari ragam prolem yang mungkin dihadapinya. Sikap hangat dan semangatnya dapat terlihat dari gesture tubuh, keakraban dengan siswa, atau dar nada suaranya.

Keempat, Menetapkan Harapan Siswa. Singkatnya, seorang guru bersama para siswanya saling bekerja sama untuk tujuan pembelajaran dan menghidupkan harapan dalam diri siswa dengan dorongan positif dan dukungan.  Kelima, Budaya Belajar. Disini, guru mesti tampak oleh siswa sebagai seorang yang mencintai ilmu dan terus mendorong para siswa untuk berani bertanya, berinovasi dan penuh rasa ingin tahu.

Keenam, Kepemimpinan. Dengan sikap ini seorang guru berupaya mengoptimalkan sumber daya kelasnya dengan memastikan tercapainya tujuan pelajaran dan tujuan sekolah secara umum. Seorang guru dapat mengarahkan beberapa siswa yang minat belajarnya rendah untuk mengerjakan proyek tertentu yang relevan, menantang dan menyenangkan.

Ketujuh, Kerja sama. Pada era yang saling terhubung dan terbuka sekarang ini, sikap kerja sama mutlak diperlukan. Kerja sama yang dimaksud tidak hanya dengan siswa dan masyarakat sekolah, tapi juga dengan elemen orang tua, lingkungan sekitar, tokoh publik, lembaga terkait dan sebagainya.

Semoga catatan kecil dari seminar yang penulis maksudkan di atas dapat bermanfaat bagi khalayak dan menambah khazanah perspektif para guru kita dalam mengemban tugas mulia mereka.[]

Penulis: Taufik Sentana. Berkhidmat untuk siswa sejak 1996. Menetap di Meulaboh. Terlibat di pengembangan program unttuk Yayasan Al-Maghribi di SMPIT Teuku Umar. Serta mengampu Program Quran dan Bahasa Arab di MTs. Harapan Bangsa.