Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menyebut Aceh sebagai daerah penting dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Untuk itu, ia berharap agar Aceh juga dapat memainkan peran penting, tidak hanya sebagai barometer nasional dalam pemahaman dan pengamanan nilai-nilai keagamaan, namun juga sebagai barometer kerukunan nasional.
“Saatnya Aceh bangun dan berperan di segala sektor,” ujar Menteri Lukman Hakim saat membuka Porseni XV di Lapangan Musara Alun Takengon Kota, 4 Agustus 2016.
Bernas sekali apa yang beliau sampaikan. Dan, ini menjadi renungan bagi kita. Itu pernyataan yang pantas beliau ucapkan. Beliau amat memahami kebesaran Aceh di masa lalu. Soal agama, Aceh satu-satunya daerah di nusantara yang diizinkan menerapkan syariat Islam. Aceh satu-satunya daerah yang punya partai lokal. Aceh daerah otonomi khusus dan pertama. Aceh pelopor lahirnya Bappeda, MUI dan banyak lagi.
Aceh masa lalu adalah cerita kegemilangan yang tiada tara. Walau sejarah negeri ini terlalu mengagungkan Sriwijaya atau Majapahit. Padahal, masa lalu Aceh lebih hebat.
Nah, seruan Menag lebih pada konteks kekinian. Jelas kita harus introspeksi. Apakah kita bergerak ke arah sana. Atau kita mundur ke belakangan. Bahkan boleh jadi kita “u bumoe hanjab u langet han toe“. Kita berputar-putar di lubang yang sama. Tidak jelas arah dan tujuan.
Untuk merengkuh kegemilangan, kita butuh banyak syarat. Yang paling penting adalah pemimpin yang berintegritas. Pemimpin yang punya visi. Para elite yang bukan “peureute kurek kapai“. Sebab tanpa pemimpin berintegritas dan punya visi, mustahil kita bangkit.
Sejak perdamaian sebelas tahun lalu, seharusnya momentum besar buat kita. Kenyataannya apa? Lage ta harap timoh lungkee miee“. Sebelum damai, kita lebih bersatu. Pascadamai sesama kita “lage miee ngon asee“. Perpecahan tumbuh subur. Para pemimpin dan elite tidak amanah. Mereka melihat menjadi penguasa adalah sarana sah untuk menggarong. Menggarong uang rakyat demi memenuhi pundi diri mereka, keluarga dan kroni.
Seperti ditulis di banyak media tentang korupsi Dermaga Sabang. Seberapa yakin kita kebenaran perkataan Jaksa KPK dengan bantahan yang terduga? Ini potret elite kita. Rata-rata perilaku pemimpin kita. Mereka bisa berkelit, tapi tentu kita juga tidak buta.
Untuk bangkit dan mendulang kegemilangan tidaklah sloganistis. Harus dengan kerja nyata. Bila dengan keadaan sekarang, kapan kita melakukannya. Energi kita habis untuk bertengkar. Para elite kita menghabiskan segala daya upaya untuk menjadi jabatannya sebagai sarana mengumpulkan kekayaan. Kapan kita bangkit bila tidak ada kesadaran kolektif untuk berubah. “Meunye sapue pakat, lampoh jrat ta peugala” . Apapun kita korbankan.
Prasyarat lainnya adalah penegakan hukum. Ini syarat wajib bagi majunya sebuah peradaban. Selama ini hukum “lage parang bungkok” bawahnya saja yang tajam. Elite malah memanfaatkan hukum untuk diakali. Tujuannya patut diduga melanggengkan kebrobrokan. Kita lelah melihat para elite bersilat lidah. Dekat pemilu seperti saat ini mereka selalu menampilkan wajah malaikat. Padahal cuma topeng. Di baliknya ada wajah sebenarnya. Wajah penuh tipuan dan kebohongan. Maka berhentilah membangun dan meneriakkan jargon.
Aceh bangkit gemilang hanya akan terjadi bila kita taubat. Kembali ke hal pokok. Kita negeri yang menabalkan diri sebagai dinul Islam. Maka semua harus kembali ke khittah. “Bek lage keuleude mee kitab“. Kemana pun bergerak, mengaku beragama, tapi berperilaku setan? Wallahu'alam.[]




