BLANGKEJEREN – Harga gabah kopi Arabika (kopi Gayo) di Kabupaten Gayo Lues kembali melambung tinggi pascabanjir dan tanah longsor. Harga jual petani kepada tauke mencapai Rp70 ribu hingga Rp73 ribu per bambu dari harga sebelumnya yang hanya Rp50 ribu per bambu.

Salah seorang petani kopi Gayo di Blangkejeren, Junaidi, Selasa, 10 Februari 2026, mengatakan harga gabah kopi hari ini sudah kembali normal seperti sebelum terjadi banjir dan tanah longsor.

“Harga gabah kopi Arabika atau kopi Gayo sebelum banjir dan tanah longsor dua bulan yang lalu mencapai Rp73 ribu per bambu, kemudian saat banjir hingga sebulan pascabanjir, harga gabah kopi turun karena tidak bisa dibawa keluar oleh tauke,” katanya.

Harga gabah kopi setelah banjir, kata Junaidi, sempat turun Rp23 ribu per bambu dari biasanya, yaitu Rp50 ribu per bambu. Kemudian selang beberapa minggu, para tauke kembali menaikan harga ke Rp55 ribu, naik lagi menjadi Rp60 ribu per bambu, dan kini Rp73 ribu per bambu.

“Prediksi saya harga kopi Gayo akan terus naik seiring berjalannya waktu, karena permintaan pasar luar sangat tinggi, sedangkan jumlah produksi cendrung menurun,” katanya.

Berkurangnya jumlah produksi kopi di Kabupaten Gayo Lues, kata Junaidi dipengruhi banyaknya kebun kopi yang tertimbun longsor, dan cuaca yang tidak menentu, sehingga buah kopi banyak yang busuk (pesel).

“Bagi masyarkat Gayo Lues yang ingin menanam kopi masih belum terlambat, karena dari tahun ke tahun, harga kopi terus naik, dan jumlah ekspor juga terus meningkat. Mudah-mudahan beberapa tahun ke depan harga gabah kopi di Gayo Lues mencapai Rp100 ribu per bambu,” katanya.[]