BLANGKEJEREN – Harga kopi gayo di Kabupaten Gayo Lues diperkirakan bakal melonjak di akhir tahun 2021 hingga 2022 mendatang. Kenaikan harga kopi itu dipengaruhi beberapa faktor, seperti buah sedikit, banyak pesanan, dan faktor lainya.

Jas (45 tahun), salah seorang petani kopi gayo di Kecamatan Blangkejeren, Kamis, 7 Oktober 2021, mengatakan harga kopi gayo minggu ini merangkak naik dari pekan sebelumnya. Jika tauke biasanya membeli dengan harga Rp20 ribu sampai Rp25 ribu per bambu gabah kopi, minggu ini harga gabah kopi gayo mulai dibeli tauke Rp27 ribu hingga Rp29 ribu per bambu.

“Tahun ini buah kopi lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan hampir sekitar 30 persen berkurang dari biasanya. Kayaknya akibat pengaruh cuaca yang tidak menentu, dan karena kurang perawatan lantaran sebelumnya harganya sangat rendah,” katanya.

Dia menjelaskan harga gabah kopi gayo paling rendah terjadi saat awal pandemi Covid-19, yaitu Rp17 ribu per bambu. Harga paling tinggi Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per bambu yaitu sebelum muncul Covid-19 hingga menyebar ke seluruh dunia.

“Saya yakin akhir tahun 2021 dan tahun 2022 mendatang, harga kopi gayo bakalan terus melonjak naik. Penyebabnya ya karena buah kopi sedikit tetapi pembeli dalam negeri banyak yang memesan. Kemudian ekspor biji kopi sudah mulai lancar, ditambah lagi warung-warung kopi sudah bisa dibuka setelah masyarakat banyak yang disuntik vaksin,” jelasnya.

Saat ini, kata Jas, tauke kopi gayo dan masyarakat yang hendak membeli kopi mulai turun ke daerah perkebunan. Setiap ada gabah kopi yang dijemur langsung ditanya tauke. Setelah harga cocok, barulah kopi tersebut diangkut, bukan lagi harus mengantar ke kios-kios penampung.

“Menjual kopi, lebih mudah sekarang ini ketimbang tahun-tahun sebelumnya, karena sekarang langsung datang toke ke tempat penjemuran kopi. Kalau dulu harus diantar ke tempat penampung,” katanya.[]