BLANGKEJEREN – Kopi Gayo yang sedang dibudidayakan masyarakat Kabupaten Gayo Lues, harganya anjlok. Harga per bambu hanya dibeli tauke (agen penampung) Rp17 ribu, sedangkan harga kopi ijo dasar (biji kopi) Rp34 ribu per kg.

Hendra Gunawan, Direktur UD. Gayo Lues Coffe, Senin, 4 Januari 2021, mengatakan anjloknya harga kopi Gayo sangat dipengaruhi pasar dunia. Covid-19 menjadi salah satu penyebab sulitnya mengekspor kopi gayo ke luar negeri lantaran banyak kafe ditutup.

“Gabah kopi Gayo Lues yang paling tinggi kami beli mencapai Rp40 ribu per bambu. Dan selama kami membeli kopi, sekarang ini yang paling murah, karena hanya Rp17 ribu per bambu. Sedangkan harga ijo dasar hanya Rp34 ribu. Pokoknya sepanjang sejarah kami membeli kopi, sekarang ini yang paling anjlok,” katanya melalui pesan WhatsApp.

Hendra Gunawan mengaku saat ini ada sekitar enam ton kopi ijo di gudangnya yang dibeli dari petani akhir tahun 2020. Setiap hari, hasil panen masyarakat terus bertambah dan diantar langsung ke gudangya di Desa Bemem Buntul Pegayon (Raklintang), Kecamatan Dabun Gelang.

“Kami menjual kopi langsung ke Medan, posisi saat ini gudang di Medan masih tutup karena liburan. Jadi harga kopi yang kami beli dari petani masih tetap harga akhir tahun 2020 kemarin, dan belum ada harga terbaru awal tahun 2021 ini,” jelasnya.

Melihat kondisi harga yang semakin anjlok, sebagian petani kopi malas memanen kopi di kebunnya lantaran antara upah memanen dengan harga jual tidak sesuai. Sehingga banyak buah kopi yang sudah merah dibiarkan jatuh begitu saja tanpa dipanen.

“Petani kopi di Gayo Lues harus tetap merawat kopinya dengan bagus, saya yakin di tahun 2021 ini harga kopi akan mengalami kenaikan lagi. Apalagi jika Covid-19 sudah hilang, otomatis permintaan pasar dunia juga akan meningkat. Memang ini masa yang sulit bagi petani dan bagi kita semua, namun semuanya akan membaik seiring membaiknya pasar dunia,” ujar Hendra yang juga polisi aktif bertugas di Polres Gayo Lues.[]