SUBULUSSALAM – Petani kelapa sawit di Kota Subulussalam mulai mengeluh akibat turunnya harga tandan buah segar (TBS) dari Rp1.700 per kilogram menjadi Rp1.380 per kilogram di tingkat petani, atau turun sekitar Rp320 per kilogram sejak dua pekan terakhir.

“TBS sudah mulai turun sejak dua pekan terakhir, kami tidak tahu penyebabnya,” kata salah seorang petani penduduk Kampung Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Lamat Berutu, 54 tahun, kepada portalsatu.com, Senin, 13 Maret 2017.

Turunnya harga TBS membuat petani waswas kondisi ini berlangsung lama, sehingga mengancam perekonomian petani yang selama ini bersumber dari kelapa sawit.

“Karena usaha ini satu-satunya mata pencarian kami untuk menopang ekonomi keluarga. Jika harga turun akan berdampak pada pendapatan petani,” kata Fadil Padang, 35 tahun, petani lainnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kota Subulussalam, Netap Ginting secara terpisah mengatakan, penyebab turunnya TBS disebabkan harga minyak mentah kelapa sawit (CPO) turun menjadi Rp9.700 per kilogram dari sebelumnya Rp11.700 per kilogram.

“Iya harga sawit turun sudah dua pekan lantaran harga CPO juga turun sekarang Rp9.700 per kilogram,” kata Netap Ginting.

Lebih jauh Netap menjelaskan CPO turun disebabkan terjadinya persaingan harga di tingkat internasional antara minyak sawit mentah yang diproduksi Indonesia dengan minyak biji matahari, minyak jagung dan kedelai yang berasal dari Amerika Latin.

“Amerika Latin sekarang sedang panen raya minyak biji matahari, kedelai dan jagung. Begitu juga kita di Indonesia juga sedang panen raya buah sawit, akibatnya harga mulai turun,” kata Netap mantan anggota DPRK Subulussalam ini.

Meski CPO turun, kata Netap, kondisi ini tidak terlalu jauh berpengaruh terhadap harga sawit di tingkat petani. Karena itu, ia berharap petani tetap semangat merawat kebun, jangan mengambil buah sawit yang belum layak panen.

“Tidak, ini diperkirakan tidak berlangsung lama. Saya kira tidak akan turun di bawah Rp1.000 per kilogram, dalam waktu yang tidak lama akan segera naik lagi,” kata Netap optimis.[]