Masyarakat yang tinggal di dataran tinggi gayo memiliki banyak makanan khas, salah satunya adalah Ikan Pengat (memasak ikan tanpa kuah), masakan ini sudah menjadi makanan turun temurun di Tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Gayo Lues dan Bener Meriah.
Selain makanan khas gayo ini, ada juga makanan khas lain seperti Masam Jing, Lepat, Gugel, Cecah Ke kulit, Ikan Pengat dan yang lainya. Hampir semua makanan khas gayo digemari oleh wisatawan nusantara yang berkunjung ke dataran tinggi gayo.
Untuk Pengat sendiri, bisa diolah dari berbagai jenis ikan, seperti ikan bawal, ikan bandeng, ikan mujahir dan ikan depik (ikan khas danau laut tawar), tapi yang paling popular adalah menggunakan ikan bawal atau ikan depik.
Bumbu memasak ikan pengat sendiri sangat sederhana, yaitu Bawang Merah, Cabai Merah (boleh di padu dengan cabe rawit), Asam Sunti, dan Jeruk Nipis. Semua bahan tersebut di giling halus, dan bumbu tersebut tidak di tumis dengan minyak seperti memasak gulai ikan lainnya. Melainkan langsung dicampur dengan air dan ikan, barulah dimasak sekitar Satu jam lebih.
Ikan Pengat baru matang ketika kuahnya benar-benar kering. Meskipun dibuat tanpa kuah, namun pengat dipastikan matang dan bercampur dengan bumbu. Kebiasaan orang gayo memasak pengat ini yaitu dengan menggunakan kuali tanah agar menghasilkan rasa yang khas.
Pengat memiliki ciri khas rasa yaitu perpaduan antara rasa asam dan pedas, dan ikan Pengat biasa disajikan pada berbagai acara-acara penting seperti mangan murum (makan bersama), acara pernikahan, jamuan makan dan acara penting lainnya.[]
Oleh : Afina Afiyati Khairun
Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh




