Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menilai Indonesia merupakan penghasil rumput laut pertama di dunia. Apalagi dengan keunggulan geografis, beberapa provinsi di area pesisir jadi penyumbang terbesar penerimaan negara dari rumput laut.

Ketua Umum ARLI Safari Aziz mengatakan selama ini, rumput laut merupakan komoditas primadona yang belum dimaksimalkan pemerintah sejauh ini.

“Kita cuma bisa maksimalkan hasil produksi hanya sampai tepung terigu saja, padahal bermacam-macam produk mampu dihasilkan melalui rumput laut. Teknologinya belum ada,” ujar Safari di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (17/2).

Dari catatannya, Provinsi NTT merupakan wilayah penghasil terbanyak dari wilayah Indonesia Timur. Namun, dari pemetaannya beberapa wilayah pesisir di pulau Kalimantan juga punya potensi terbesar.

“Salah satu pulau NTT, Sumba menghasilkan 100.000 ton dan hasilnya diserap pabrik setempat 40 persen. Sisanya ekport ke pabrik lain di dalam ataupun di luar. Jika pasar semakin besar, ini bisa lebih besar lagi,” kata dia.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi rumput laut Indonesia pada 2015 mencapai 10.335.000 ton basah, 60 persen dari capaian tersebut disumbang dari NTT.

Safari menambahkan Indonesia masih mampu meningkatkan volume ekspor dari 200.706 ton di 2014 menjadi 206.305 ton di 2015. Menurut dia, petani budidaya jenis rumput euchemaSP per petani mampu memproduksi untuk satu kali panen sekira 3-5 ton kering. Sementara untuk budidaya tambak dengan luas lahan 4 hektar minimal mencapai 8-10 ton kering.

“Volume ekspor memang naik, walaupun nilainya menurun karena rendahnya harga pembelian akibat adanya rencana pengenaan bea kelua dan larangan ekspor 2015,” pungkas dia. | sumber : merdeka