Selayang pandang tentang hubungan silaturrahim atau diplomasi Kesultanan Aceh dan Kesultanan Turki
 

Oleh Zul Afrizal, S,Pd.I, MA. (Joel Pasee)


Deungon bismillah awai lon peuphon,
ulon tueng turon asai bak mula
asai dilee phon nibak Potallah,
bak Nabiyullah surah geubuka

Alhamdulillah Pujoe Ilahon,
Allah Qadiron po dum sigal
nyang peujeut jasad dengon nyawong lon,
nyang peuudep jantong ngon dum anggota

Seulaweut saleum tentee meuhimpon,
Rasul tajunjong Muhammad mulia
beuteutap hate di miyup payong,
meusaho ujong dalam syuruga

Keu Alim ‘ulama do’a nibak lon,
beureukat bak Rabbon umu nyang kana
ilmee ngon amai pulang bak Malikon,
Allah nyang meuphom ho dum geuneukba

Para umara wareh po tanglong,
sabe lam lindong Allah ta’ala
Aceh nyoe raya beu got neusanjong,
maruwah neusuon keu kulah kama

Salam alaikum wa rahmatullah,
saleum meutuwah keu dum syedara
keu mandum guree ta’dhem ngon sabah,
ngon jaroe dua blah lon peumulia.

Sebuah bangsa yang besar bukanlah bangsa yang luas wilayahnya, bukanlah pula bangsa yang maju dalam pembangunan yang puncak bangunannya menjulang ke angkasa, apalagi yang memiliki penduduk triliunan jiwa.

Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, berhasil menciptakan masyarakatnya bersinergi dengan bekerja sama, tunduk patuh menjalankan cita-cita bangsa, menjunjung tinggi dasar-dasar negara, mencintai sejarah, kesenian dan kebudayaannya.

Rasulullah Muhammad SAW yang menjadi penghulu alam sepanjang masa, sang revolusioner dunia yang wujudnya sebagai rahmat sekalian alam pernah juga bersabda bahwa, “Mencintai bangsa itu sendiri adalah sebagian daripada iman seorang hamba.”

Hadis Nabi itu menandakan begitu pentingnya nilai sebuah bangsa dalam tatanan kehidupan bernegara dan beragama. Maka sangat disayangkan jika dewasa keyakinan generasi bangsa terhadap nilai-nilai dasar negaranya ini telah memudar. Mereka menafikan sejarahnya, melupakan para pahlawan perjuangannya, apalagi hingga muncul keraguan untuk mencintai tanah airnya.

Dengan segala keterbatasan penulis mencoba menoleh sejenak dengan apa yang terjadi dewasa ini pada negeri yang telah jauh dari sejarah besarnya.

Sangat bersyukurlah jika hal itu hanya istirahat sejenak saja sambil menyiapkan diri untuk terjaga, terbangun, bangkit dan akan kembali tersohor seperti sedia kala, atau akan semakin jaya sebagaimana masa kegemilangan tempo dulu, menjadi bangsa yang semakin beradab sebagaimana jayanya peradaban di masa kerajaan dan kesultanan Islamnya yang dahulu.

Namun disayangkan jika keadaan ini justru malah semakin menjadi istirahat panjang nan terlena dengan mimpi indah dan buruk yang semakin hari semakin tidak jelas, nan tak kunjung bangun tanpa batas waktu.

Dalam risalah yang singkat ini, penulis mencoba mengupas sedikit selayang pandang dan memetik beberapa catatan sejarah hubungan Aceh dan Turki pada kisah Lada Sicupak yang tak layak dilupakan. Hal ini sebagai bentuk apresiasi mewakili sebagian rekan-rekan muda Aceh terhadap pahlawan perjuangan kejayaan Aceh dari masa ke masa.

Sebagaimana disebutkan dalam syair Aceh

Aceh Tanoh Lon sayang,
peunulang raja-raja

Aceh beu tapeutimang,
beu got jipandang le donya,

Aceh Alam Cap Peudeung,
Cap Sikureueng lam jaroe raja,

Cap bak batee labang bak papeun,
kayee lam uteun meurimba raya

Nanggroe Aceh teumpat lon lahe,
bak ujong pante Pulo Sumatra

Dilee baro kon lam jaroe kaphe,
jino hana le Aceh ka jaya…

…, dan lain sebagainya.

Banyak sekali syair dan hikayat yang mengungkapkan tentang Aceh, sebuah negeri yang terletak di ujung paling utara Pulau Sumatra di sebelah barat dari kepulauan nusantara negara kesatuan republik yang bernama Indonesia berikut beberapa pulau kecil yang ikut mengelilinginya.

Aceh atas nama agungnya, sebuah negeri yang terkenal dengan segala sejarah besarnya. Sebut saja, di antaranya kisah Kerajaan Islam yang menguasai Asia Tenggara.

Adanya kesultanan Iskandar Muda Zulkarnain nan arif, adil dan bijaksana dengan kemegahan Daruddunya dan Baldatun Aceh Darussalamnya.

Juga adanya sosok panglima perang wanita bernama Keumalahayati yang memimpin puluhan kapal perang dengan ratusan pasukan perang di dalamnya di semenanjung lautan selat Melaka.

Adanya potensi kekayaan sumber daya alam yang begitu melimpah ruah dan dikenal hingga Eropa dan di sebagian belahan dunia lainnya. Adanya para diplomat bangsa yang dibekali ilmu agama di dayah hingga menjadi tokoh ulama cendikiawan di negeri hijrah mereka.

Adanya kisah Kerajaan Islam Nurul a’la di Peureulak, Malikussaleh di Tanoh Pasee hingga masih banyak sekali. Kisah sejarah penting lainnya membuktikan peran Aceh di nusantara dalam mengusir penjajahan Portugis, serdadu Jepang dan penjajah Belanda.

Perang itu tentunya tidak terjadi begitu saja tanpa korban jiwa raga dan harta, apalagi banyaknya tidak sedikit pula nyawa, tidak bisa hilang begitu saja tanpa dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Aceh dengan nama mulianya, negeri yang telah ikut menyumbangkan peninggalan sejarah pada dunia, dengan kemegahan Masjid Baiturrahman yang dibangun pada masa kesulthanan dan pernah dibakar oleh penjajah Belanda pada tahun 1873 hingga dibangun kembali pada 1875.

Adanya Gunongan, sebuah bangunan yang dibangun oleh yang Mulia Sultan Iskandar Muda ,atas permintaan permaisuri tercintanya Putroe Phang setelah penaklukan negeri pahang oleh kerajaan Aceh Darussalam, yang hingga saat ini masih berdiri megah di taman Putroe Phang.

Adanya hadiah kerajaan Tiongkok kepada Kerajaan Pasee yang diberi nama Lonceng Cakra Donya sebagai genderang perang yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho pada saat kerjasama Aceh-China dalam usaha mengusir penjajahan Portugis.

Adanya benteng peninggalan kerajaan hindu pertama Indra Patra yang dijadikan sebagai peribadatan dan benteng pertahanan dalam melawan musuh hingga sampai direbut oleh bala tentara Keumalahayati.

Bahkan adanya bukti sejarah, Pesawat Seulawah Agam, sejarah penting bagi negara kesatuan Indonesia yang menjadi bukti kesetiaan masyarakat Aceh dalam membantu Indonesia. Namun sangat sayang jika dilupakan oleh segenap bangsa.

Adanya peninggalan sejarah lainnya seperti rumoh aceh yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan berbagai peralatan perang tempo dulu hingga Kerkhof Peucut, komplek kuburan tentara penjajah Belanda yang terbesar di Asia Tenggara dan dunia, yang dijadikan bukti sejarah keperkasaan Aceh kala itu.

Hingga hari ini Aceh selalu mengharap angin segar dari siapa saja manusia yang setiap hari menapaki kaki dan hidup di atas tubuhnya, agar senantiasa menjaga kemuliaan persada ini, yang akan tetap dimuliakan bangsa lain di luar sana, sama halnya mulia pada bangsa Turki dahulu dalam kisah Lada Sicupak.[]

 

*Zul Afrizal, S,Pd.I, MA yang dikenal dengan julukan Joel Pasee adalah penyanyi Aceh, seorang guru yang menyukai sejarah.

Motto hidup Joel Pasee, “Duek ban laku linggang, pinggang ban laku ija, ngui beulaku tuboh, pajoh beulaku atra”.

Catatan: Tulisan di atas merupakan bagian awal dari buku kilasan sejarah bertajuk “Hikayat Aceh dan Turki -Selayang pandang tentang hubungan silaturrahim atau diplomasi Kesultanan Aceh dan Kesultanan Turki”, tengah disiapkan.