SIGLI – Calon Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, mengingatkan para saksi bahwa dirinya tidak ingin mengalahkan pihak lain, melainkan mencari cara untuk menang dengan tidak mencaci maki pihak lain.

Menyoe na niet caci maki, goet bek (Kalau ada niat mencaci maki, lebih baik tidak). Islam itu mengajarkan perdamaian dan kekeluargaan dalam segala hal,” kata Bustami dalam sambutannya saat pembukaan pembekalan saksi bertajuk “Konsolidasi dan TOT Saksi Kabupaten dan Kecamatan”, di Hotel Safira, Sigli, Pidie, Senin, 21 Oktober 2024. Acara itu diikuti 150 saksi dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pidie.

Bustami terus menyiapkan para saksi yang akan bertugas mengawal pemungutan dan penghitungan suara di TPS-TPS pada 27 November 2024.

Bustami mengatakan Aceh membutuhkan energi baru yang dapat mengeluarkan Tanah Rencong ini dari kemiskinan dan  bersiap menjelang berakhirnya Dana Otonomi Khusus pada tahun 2027 yang telah diterima sejak 2008. “Aceh hari ini membutuhkan energi baru, harapan baru, untuk masa depan yang lebih baik dan sejahtera,” ujarnya.

Menurut Bustami, dahulu Gubernur Ibrahim Hasan mampu membebaskan pantai barat-selatan Aceh dari rakit dengan anggaran hanya Rp1,9 triliun. “Tapi, sekarang kita dapat puluhan triliun setelah damai, namun Aceh belum terbebas dari kemiskinan,” ucapnya.

Pemerintah, kata Bustami, harus berdiri di atas semua golongan untuk semua rakyat, bukan hanya untuk kepentingan kelompoknya.

Bustami menegaskan dirinya merasa gundah melihat Aceh tak kunjung maju di tengah banyaknya kucuran dana otonomi khusus.  Selama ini, Bustami bekerja sebagai birokrat melayani apa yang diputuskan oleh para gubernur terdahulu.

“Ada kegundahan melihat Aceh.  Ini adalah panggilan hati untuk berbuat sesuatu bagi kemajuan Aceh.  Kalau saya berpikir untuk diri, saya tidak akan mundur dari jabatan saya. Juga tidak mundur dari PNS, apalagi saya sudah eselon I sebagai Sekda Aceh. Bagi saya hidup adalah pilihan,” kata Bustami.

“Saya ini mualaf politik. Saya orang birokrat. Saya jadi orang politik baru mulai, 23 Agustus lalu, walaupun sebelumnya sepanjang karier saya berada di lingkungan orang politik,” tambah Bustami.

Jika kelak terpilih sebagai gubernur, Bustami mengatakan akan memenuhi hak-hak dasar masyarakat terlebih dahulu. “Harus kita penuhi hak-hak dasar dulu. Meunyoe pruet hana troe, hana mungken na kesejahteraan (Jika perut tidak kenyang, tidak mungkin ada kesejahteraan),” kata Bustami.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Bustami memberi motivasi kepada para saksi tingkat kabupaten dan kecamatan se-Pidie Jaya yang diselenggarakan di Hotel Ananda, Meureudu.

Kawal Suara 

Sejumlah saksi usai mengikuti pembekalan menegaskan kesiapannya mengawal tahapan pemungutan dan penghitungan suara. Muhammad Rizal dari Kecamatan Tiro, mengatakan dirinya siap bekerja apapun hambatan yang mungkin nanti dihadapinya.

Pria yang sebelumnya pernah menjadi PPK pada pemilu legislatif lalu di Kecamatan Tiro itu mengatakan dirinya bersedia pasang badan untuk Bustami lantaran kagum kepada sosok itu yang dinilainya cocok memimpin Aceh.

“Aceh butuh perubahan. Pak Bustami mampu orangnya. Saya pribadi sudah siap apapun hambatannya saya siap memenangkan Om Bus, insya Allah, menang,” ujarnya.

Murtada dari Kecamatan Mutiara Timur, saksi dari Partai Golkar, mengatakan dirinya bersedia menjadi saksi untuk cagub Bustami Hamzah lantaran ingin adanya perubahan untuk Aceh lebih baik.

Murtada mengaku sudah 10 tahun menjadi saksi di tingkat kecamatan setiap pilkada tiba. Dia mengaku pernah mendapat intimidasi berupa ancaman dari pihak lawan. Namun, itu tak menyurutkan nyalinya untuk mengawal suara Bustami pada Pilkada 27 November 2024.

“Insya Allah, saya siap dan bisa melewati rintangan yang ada untuk memenangkan  Om Bus untuk gubernur Aceh, insya Allah, menang untuk harapan baru Aceh,” ucap Murtada.[](*/ril)